
"Lalu?" tanya Farel bingung.
"Ya kamu bantu cari, Farel! Dia tidak ada di kamarnya dan di manapun dalam rumah ini. Mama khawatir, karena mama bangun tadi subuh pintu ruang tamu tidak terkunci."
Farel yang belum sepenuhnya sadar masih belum memahami kalimat Mama yang terlalu cepat diucapkan karena panik.
"Mba Marisa kenapa, Ma?" Niki yang sudah berganti pakaian mendekati mertua serta suaminya. Saat di dalam kamar mandi tadi, ia sempat mendengarkan apa yang disampaikan Mama dari suaminya.
"Marisa sepertinya pergi sebelum subuh tadi, kamu bisa bantu cari dia, Niki?"
"Sebentar, Ma." Niki kembali masuk ke dalam kamar mengambil ponselnya.
"Mungkin jalan pagi, Ma coba kita tunggu saja dulu," ujar Farel santai.
"Mana ada ibu hamil jalan sendirian saat di luar masih gelap? Mama khawatir kandungannya, apalagi dia sering melamun setelah sering menerima telepon entah dari siapa."
"Teleponnya ga aktif, Ma." Niki kembali bergabung sembari terus mencoba menghubungi Marisa melalui ponselnya.
"Siapa yang sering menghubungi dia lewat ponsel?" tanya Farel.
"Ga tahu, cuman terakhir bilangnya mertua Galih menanyakan kapan dia bisa menjalani tes DNA untuk kandungannya. Duuh, aku takut dia gugurin bayinya." Niki semakin resah, ia kembali mencoba menghubungi Marisa melalui ponselnya.
"Coba aku hubungi Galih." Gantian Farel yang masuk ke dalam kamar mengambil ponselnya.
Sepasang suami istri itu duduk di ruang keluarga sama-sama saling mencoba menghubungi Marisa dan Galih, dengan diamati oleh Mama yang tampak semakin gelisah.
__ADS_1
"Tidak tersambung." Farel melempar ponselnya ke atas meja.
"Apa kita harus datang ke kantor Galih?"
"Percuma, terakhir aku dan Marisa kesana sambutannya buruk."
"Tapi aku khawatir." Niki mulai merengek.
"Untuk apa kamu khawatir, dia bukan siapa-siapa kamu. Dia juga sebenarnya bukan tanggungjawab kita, kalaupun dia mau pergi dari rumah ini ya biarkan saja."
"Aku tidak peduli dengan Mba Marisa, aku hanya khawatir sama kandungannya."
"Dia sudah dewasa, Niki. Bayi yang dalam kandungannya juga tanggungjawab serta haknya, kamu ga perlu ikut pusing." Farel melingkarkan tangannya ke pundak Niki.
Baginya kepergian Marisa bukanlah hal yang penting. Kalau mau jujur, ia lebih tenang jika tak ada Marisa di dalam rumah. Keberadaan Marisa dan tanggungjawabnya turut menjaga mantan istrinya itu juga karena permintaan Mamanya, bukan keinginannya sendiri.
Ia benar-benar takut jika Marisa melenyapkan janin di perutnya. Berbulan-bulan ikut 'merawat' calon bayi dalam perut mantan suaminya, membuat ada ikatan emosi dan jatuh cinta pada bayi yang bahkan belum dapat bisa ia lihat rupanya.
Niki meninggalkan Farel serta mertuanya di ruang keluarga dan masuk ke dalam kamar dengan langkah dihentakkan.
"Coba kamu cari tahu di mana Marisa dari teman-temannya." Mama memberi saran. Wanita tua itu pun tak kalah khawatirnya, walaupun mantan menantunya itu sudah berlaku mengecewakan, tapi sebagai ibu ia tidak sampai hati melihat wanita yang mengandung terlunta-lunta di luar sana sendirian.
"Aku harus cari di mana, Ma? Teman Marisa yang aku tahu hanyalah Galih. Itu juga sebenarnya temanku. Selebihnya aku tidak kenal. Selama kami menikah, Marisa tidak mengijinkan aku masuk ke dalam kehidupannya," ujar Farel acuh.
"Tolong jangan minta aku mendatangi Galih di kantor atau rumahnya. Cukup sudah apa yang sudah kita lakukan untuknya, jangan terlalu masuk ke dalam kehidupan dan permasalahannya. Ingat, aku dan dia sudah tidak ada kaitannya. Keluarga mertua Galih itu bukan orang sembarangan, Ma. Mereka bisa saja menghacurkan kita sampai tak bersisa jika mengusik ketenangan keluarganya," tutur Farel tegas.
__ADS_1
Wanita tua itu hanya bisa duduk terpekur menatap Farel. Ia menyadari terlalu memberikan beban berlebihan pada putranya. Melihat sorot mata Mamanya yang sedih, Farel beringsut pindah ke sisi Mamanya dan memeluk tubuh ringkih itu.
"Doakan saja Marisa baik-baik saja, kalau dia ingin pulang kemari pasti akan datang sendiri. Pintu rumah ini selalu terbuka untuknya, karena memang rumah ini sudah kuhibakan untuk dia. Setelah Marisa melahirkan, aku dan Niki akan pindah ke rumah kami sendiri."
"Aku mandi dulu, mau ke kampus ada kelas pagi." Farel melepaskan pelukannya setelah Mamanya terlihat lebih tenang.
Perlahan ia membuka pintu kamar yang tadi sempat dibanting oleh istrinya. Dilihatnya Niki di atas ranjang bergelung selimut hingga sebatas leher. Farel berjalan mendekati lalu duduk di tepi ranjang, tapi begitu ia menghenyakan tubuhnya di samping Niki, istrinya itu berbalik memunggunginya. Farel menarik nafas, berusaha lebih bersabar lagi menghadapi istri kecilnya itu.
"Sudah mandi?" tanyanya lembut, tak ada sahutan, ia kembali melanjutkan sembari mengusap punggung Niki, "Aku mandi dulu ya, mau ke kampus ada kelas pagi. Kamu mau ikut?" Masih belum ada reaksi, Farel memutuskan masuk ke dalam kamar mandi sebelum terlambat waktu untuk mengajar.
Keluar dari kamar mandi, istri kecilnya itu masih tetap dalam posisi semula. Farel mengamati Niki dari balik cermin sembari mengenakan pakaiannya. Biasanya, Niki akan membantunya mengancingkan kemeja serta menyisir rambutnya, tapi dengan situasi ini sebaiknya ia tidak berharap lebih pada istri kecilnya itu.
Setelah berpakaian rapi dan melihat Niki tidak berniat ikut dengannya, Farel kembali mendekat dan duduk di sisi ranjang lalu berbisik, "Aku ke kampus dulu ya, siang sudah pulang. Jangan lupa selesaikan tugas akhirnya, setelah wisuda kamu mau pergi kemanapun aku setuju."
Niki tak menjawab, ia tetap memejamkan mata sampai bunyi pintu kamar tertutup. Sepeninggal suaminya ke kampus, Niki mulai berani melepaskan air matanya. Ia rindu dengan kesibukan 'mengurus bayi' dalam perut Marisa.
Hampir seminggu berlalu, Niki masih menangis secara diam-diam. Selama itupun tak ada kabar dari Marisa dan Galih. Bukannya Farel tak tahu kalau istrinya itu masih mengharapkan Marisa pulang dengan kandungan yang sehat. Seperti kompak, ketiga penghuni dalam rumah itu bersikap seolah-olah tak terjadi apapun dalam rumah mereka.
Suara ketukan pintu dan salam dari pintu ruang tamu saat menikmati makan malam, mengalihkan perhatian mereka.
"Kalian lagi tunggu tamu?" tanya Mama pada anak dan menantunya. Keduanya serempak menggeleng lalu berdiri dan berjalan menuju ruang tamu.
"Selamat malam, Bu Sari? Ada apa?"
Wanita muda yang tinggal di depan rumah mereka, tampak resah dan saling meremas tangannya di balik pintu ruang tamu yang mereka buka.
__ADS_1
"Selamat Malam, Pak, anu ... maaf sebelumnya. Bukannya mau mencampuri urusan rumah tangga Pak Farel dan istri, tapi karena sebelumnya saya lihat Bu Marisa masih tinggal di sini, saya hanya ingin menyampaikan kalau sudah dua hari ini Bu Marisa ada di rumah sakit tapi tidak ada yang menemani," ujarnya takut.
...❤️🤍...