Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Berusaha mengambil kembali


__ADS_3

Dengan tubuh yang masih sedikit basah, Farel langsung memakai kaos dan celana pendeknya. Lalu dengan cepat, ia mendahului mamanya berlari ke arah dapur.


"Echa!" Farel segera mengangkat tubuh Marisa yang duduk di lantai bersandarkan lemari piring. Pergelangan tangan mantan istrinya itu penuh dengan darah yang mengalir membasahi bajunya hingga ke lantai.


"Fareel." Marisa merintih kesakitan.


"Apa yang kamu lakukan!" sembur Farel panik. Ia mengambil tali dari dalam laci lalu mengikat lengan Marisa agar darah segar berhenti mengalir.


"Aku takuut." Pandangan Marisa mulai sayu dan wajahnya semakin pucat meski darah sudah tidak mengalir lagi. Tanpa banyak bicara, Farel segera menggendong Marisa dan membawanya ke klinik terdekat meminjam mobil tetangga.


"Bagaimana, Dok?" tanya Farel khawatir pada dokter yang baru saja keluar dari ruang tindak darurat.


"Anda suaminya?"


"Ehm, iya dok." Farel terpaksa mengiyakan pertanyaan sang dokter, karena jika bukan anggota keluarga biasanya akan sulit untuk mengetahui kondisi pasien.


"Istri Bapak sudah ditangani dan kondisinya masih agak lemah karena kehabisan cukup banyak darah. Beruntung luka goresan yang ia buat, tidak mengenai pembuluh darah arteri. Sepertinya Istri Bapak hanya menggores pergelangan tangannya secara sembarangan," jelas dokter.


"Terima kasih informasinya, Dok." Farel dapat bernafas dengan lega. Farel berjalan mendekati ranjang Marisa yang tertutup tirai. Mantan istrinya itu tampak tidur karena pengaruh obat yang diberikan oleh klinik. Pergelangan tangannya yang tergores sudah dibalut oleh perawat.


Sebelum ia keluar dari ruang rawat, Farel menyempatkan untuk mengambil foto dan video kondisi Marisa lalu mengirimkannya pada Galih. Menurutnya apapun yang terjadi pada mantan istrinya itu, Galih sebagai ayah dari bayi yang Marisa kandung harus tahu.


Tidak butuh waktu lama untuk Galih menerima dan membuka foto yang ia kirimkan, tapi pria itu tidak memberikan tanggapan sama sekali. Farel menekan nomer ponsel Galih dengan rasa geram, kali ini cukup lama untuk kawannya itu mengangkat panggilannya.


"Galih! Kamu lihat 'kan, dia mencoba bunuh diri!" seru Farel langsung begitu Galih menjawab panggilannya.


"Sssttt! Bisa kita bahas nanti? Aku sedang rapat bersama mertuaku," bisik Galih.


"Dia hamil anakmu bang sat!"


Tut .. Tut ... Tut

__ADS_1


"Baji ngan!" Tangan Farel menghantam pilar rumah sakit untuk melampiaskan kemarahannya.


"Permisi, Pak." Dokter yang menangani Marisa tadi kembali menghampiri, "Ini resep, silahkan diambil di apotik depan. Obat yang saya resepkan semua aman untuk kandungan istri Bapak. Maaf sebelumnya, mohon dijaga untuk mental istri Bapak, karena Ibu yang hamil muda rentan mengalami stress dan depresi, jadi jangan sampai terulang lagi kejadian seperti ini," ujar Dokter itu dengan pandangan seolah menuduhnya telah berbuat yang tidak patut pada istrinya.


"Baik, Dok. Terima kasih." Farel mengambil resep dari tangan dokter itu tanpa mau memandangnya secara langsung.


"Pak, istrinya sudah bangun cari Bapak," sela seorang perawat. Farel meninggalkan si dokter yang masih memandangnya penuh selidik seolah dia adalah seorang tersangka.


"Farel ...."


"Kenapa kamu bisa berbuat sebodoh ini, Echa?"


"Untuk apa aku hidup kalau sudah tidak ada orang yang peduli denganku? Galih sudah pergi dan sekarang kamu juga sudah tidak mau melihatku lagi." Tangan Marisa berusaha menggapai lengan Farel yang bertumpu pada sisi ranjang, tapi mantan suaminya itu bergerak mundur seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kamu yang lebih dulu meninggalkan aku, Echa."


Marisa tidak membalas ucapan Farel, karena apa yang dikatakan pria itu memang benar. Selain itu, kondisinya yang masih lemah dan sedikit pusing membuatnya hanya ingin memejamkan mata.


"Bagaimana, kamu sudah berhasil menghubungi temanmu itu?"


"Nomernya tidak aktif," keluh Farel. Suara pria itu terdengar sangat frustasi.


"Kamu sudah coba hubungi dia dengan nomer lain?"


"Sudah, tapi dia beralasan masih sibuk lalu setelah itu nomer baru ku juga tidak bisa dipakai untuk menghubunginya. Rasanya ia memblokir semua nomerku," geram Farel.


"Dengan kata lain temanmu itu tidak mau bertanggung jawab dengan Marisa dan bayinya?"


Marisa yang berada di dalam kamar menutup mulutnya terkejut, ketika sadar ibu dari mantan suaminya itu sudah mengetahui keadaan yang sebenarnya.


"Sejak awal dia tidak pernah menganggap serius hubungannya dengan Marisa. Berulang kali aku sudah mengatakan padanya, tapi Marisa tidak pernah mau percaya kalau dia hanya dijadikan selingan sesaat."

__ADS_1


Air mata Marisa tumpah tak tertahankan. Ia sebenarnya tahu jika Galih tidak ada niat untuk menjalin hubungan serius dengannya, tapi kenapa ia terlalu bodoh hingga semakin terjerat dalam pesona pria itu. Sekarang setelah Galih benar-benar membuangnya bagaikan sampah, pria yang selama ini ia abaikan tampak bagai berlian di matanya. Tapi pria itu sekarang juga sudah melepasnya dan mengikat janji dengan wanita lain.


Tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku masih punya kesempatan!


Marisa memaksa tubuhnya berdiri dari ranjang dan berjalan menuju pintu kamar.


"Lalu bagaimana keputusanmu? Membiarkannya sendiri dan membunuh bayi yang ada di perutnya?"


"Aku ga bisa, Ma. Mengapa aku yang harus bertanggungjawab?"


"Lantas siapa lagi kalau ayah bayi itu sendiri menolaknya. Mama mengerti kondisimu, tapi mama tidak pernah mengajarkanmu menjadi seorang pria yang tidak punya empati. Setidaknya bisakah bertahan hingga anak itu lahir? Setelah itu kamu bebas melakukan apa saja. Kalau Marisa tidak mau merawat anak itu, biar mama yang merawatnya," pinta Mama memelas.


"A-aku ga bisa, Ma. A-ku sudah ...." Farel mengusap wajah dan mengacak rambutnya kasar. Ia tidak sanggup mengatakannya pada mamanya tentang Niki saat ini.


"Farel sudah menikah lagi, Ma." Marisa berdiri bersandar di tembok ruang tamu.


"Marisa, kamu kenapa bangun. Wajahmu masih pucat." Mama hendak berdiri untuk mendekati mantan menantunya itu, tapi Marisa lebih dulu menghampirinya dan bersimpuh di kaki mama Farel.


"Maafkan, Marisa Maaa. Marisa tahu, apa yang sudah Marisa buat ini salah dan dosa besar. Ampuni, Marisa Maaa, Marisa menyesal,"


"Berdiri, Marisa. Apa katamu tadi, Farel sudah menikah lagi? Dengan siapa?" Mama mengangkat tubuh Marisa dan membantunya duduk di sampingnya.


"Farel menikah diam-diam dengan mahasiswinya. Aku pun awalnya juga tidak tahu, Ma. Tapi aku mengerti, karena selama ini aku belum menjadi istri yang baik. Mungkin Farel mendapatkan perhatian dan cinta yang lebih dari istri barunya itu, karena perempuan itu yang duluan mengejar Farel sampai-sampai minta dinikahi meski sudah tahu kalau dosennya sudah punya istri."


"Echa!"


"Tapi saya mengerti kok, Ma. Anak muda terkadang lebih agresif, meski hanya jadi simpanan pria dewasa pun mereka lakukan asal kebutuhannya terpenuhi," lanjut Marisa tanpa memepedulikan seruan Farel. Alis mama Farel semakin tertaut mendengar penjelasan mantan menantunya itu.


...❤️🤍...


Ssst, sini-sini aku bisikkan rekomendasi novel yang ga kalah bagusnyaa 🤫 jangan lupa mampir ya

__ADS_1



__ADS_2