Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
NAPD 36


__ADS_3

"Untuk apa dia menghubungimu malam hari seperti ini?"


"Dia temanku dan ini masih jam tujuh, belum terlalu larut seorang teman untuk menelepon." Niki berusaha mengambil ponselnya kembali, tapi Farel lebih cepat mengangkat tangannya tinggi ke atas.


"Kamu sekarang sudah punya suami, jadi hal apapun tentang kamu aku harus tahu." Farel membawa ponsel Niki menjauh dari pemiliknya.


"Halo," sapa Farel datar begitu menjawab panggilan masuk di ponsel istrinya.


"Halo? maaf mungkin saya salah sambung," jawab Tomi di seberang sana. Ia terkejut saat suara pria yang terdengar dari ponsel Niki. Berulang kali ia melihat nama yang tertulis di layar ponselnya dan memastikan ia tidak salah menekan nomor.


"Kamu ingin menghubungi, Niki? Ada apa? Kamu bisa menyampaikannya lewat saya."


"Maaf ini siapa?"


"Farel. Saya suaminya, kamu sudah tahu bukan?" Ada nada kemenangan yang terdengar dari suara Farel.


"Oh ya, maaf saya tahu ... Pak Farel. Maaf jika saya mengganggu, Niki tadi meminta saya untuk datang menjemputnya di apartement dan saya sudah di bawah," ujar Tomi tak kalah bangganya.


Farel melirik ke arah Niki yang menyilangkan kedua tangannya di dada dengan wajah garang.


"Maaf Tomi jika merepotkanmu, sepertinya Niki sekarang ini tidak membutuhkan bantuanmu. Ada saya sekarang di sini bersamanya. Terima kasih." Farel langsung memutus sambungan telepon dan memasukan ponsel Niki ke dalam saku celananya.


"Kemarikan ponsel saya, Pak." Niki menengadahkan telapak tangannya ke arah Farel.


"Kamu meminta pria lain untuk menjemputmu di sini? Mau kemana kamu?" Farel tidak menghiraukan tangan Niki yamg terulur ke arahnya. Ia meletakan kedua tangannya di pinggang dan menatap istri kecilnya dengan tajam.


"Pulang."


"Ini rumahmu, kamu sudah pulang."


"Rumahku bersama Papa dan Mama. Ini rumah Pak Farel."


"Aku suamimu, Niki! Ini juga rumahmu. Apa kamu menginginkan rumah yang sebenarnya bukan apartement? Aku bisa membelikannya untukmu."


Niki hanya diam tak membalas, karena bukan itu yang ia inginkan. Melainkan sebuah pengakuan hati dari suaminya.

__ADS_1


"Bapak tadi ga malu mengakui saya sebagai istri di depan Tomi? Dia bisa menyebarkan berita itu ke semua mahasiswa."


Niki tahu selama pernikahannya dengan Farel yang baru seumur jagung, dosennya itu kerap kali menjaga jarak saat di kampus. Walaupun berita sudah tersebar, tapi karena belum ada pemberitaan secara resmi tidak ada yang berani secara terang-terangan menyinggung hal itu di depan Farel ataupun Niki.


Hanya teman dekat dan rekan sejawat Farel yang mengetahui secara pasti kisah mereka. Farel masih merasa malu dengan kejadian itu, apalagi Marisa pernah datang ke kampus membuat keributan kecil.


"Memangnya kenapa? Saya berkata yamg sebenarnya, kamu memang istri saya lalu kenapa harus malu?" kelit Farel. Sejatinya saat ia berkata itu pada Tomi, ia sedang membuat pagar agar pemuda itu tidak berani mendekati miliknya. Bibir Niki mencibir mendengar ucapan suaminya.


Ponsel Farel berdering, nama Mamanya tampil di sana. Saat akan mengangkat ponselnya dan menjauh dari istrinya, Farel urung melihat tatapan curiga Niki. Ia lalu menjawab panggilan itu tepat di depan istrinya.


"Halo, Ma," sapa Farel. Ia sengaja memakai pengeras suara agar Niki ikut mendengar dengan siapa ia berbicara.


"Kamu sudah lupa, Mama masih hidup?" Suara serak dan batuk mengiringi nada kecewa dari mamanya.


"Jangan ngomong begitu, Ma. Farel mana lupa masih punya Mama. Jadwal Farel mengajar padat, Ma. Mama sehat di sana?"


"Syukurlah sehat. Kamu gimana? Kata istrimu kamu sekarang sibuk, jadi kurang memperhatikan kondisinya. Kamu itu keterlaluan Farel, istri lagi hamil itu butuh perhatian dan kasih sayang. Jangan kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu. Mama tahu kamu suka dengan dunia mengajar, tapi kamu di sana hanya dosen pengganti saja. Pekerjaanmu yamg sesungguhnya jangan kamu tinggalkan." Petuah Mamanya yang begitu panjang itu seakan hanya lewat saja di telinganya. Farel terkejut mamanya mengatakan istrinya sedang hamil, istri mana yang dimaksud?


"Hamil?"


"Farel tahu, Ma. Dia hanya malu mama tahu sebelum dia mengabarkan berita bahagia ini." Suara Marisa di belakang Mamanya semakin membuat tangan Farel lemas.


"Marisa ada di sana?"


"Iya, tadi sore dia sampai sendirian. Tega kamu, Farel. Dia bilang kesepian karena kamu sering keluar kota, awas aja kamu berbuat macam-macam selama cucu mama belum lahir ... uhuukk .. hukk ... uhuuk!" Ancaman mama terputus oleh batuk yang mengganggu.


Kesehatan mama yang semakin menurun sejak papanya meninggal dua tahun lalu, membuat Farel harus menahan emosi dan egonya untuk tidak langsung menyembur Marisa di telepon.


"Ma, banyak istirahat." Farel mencoba menenangkan mamanya.


"Pulang sebentar, Farel mama kangen. Sekalian jemput istrimu kembali."


"Ya, Ma. Besok aku ambil penerbangan paling pagi."


Farel menatap istri kecilnya dengan gamang. Niki sedang menanti penjelasannya. Ada rasa sedih di mata gadis itu. Ia memang belum sempat mengenalkan Niki pada mamanya. Ia masih belum menemukan waktu yang pas untuk menjelaskan pada mamanya situasi yang terjadi.

__ADS_1


Farel mengusap wajahnya lelah. Persoalan yang di depannya saja belum selesai sekarang sudah bertambah satu lagi.


"Besok pagi aku harus terbang ke Semarang."


"Ow." Niki menganggukan kepala mengerti.


"Hanya sebentar. Maaf aku belum bisa mengajakmu menemui orangtuaku."


"Aku mengerti karena bagi mama Pak Farel, Mba Marisa lah istri yang sebenarnya," ujar Niki nyeri.


"Bukan begitu, aku hanya butuh waktu untuk menjelaskan semuanya pada mama. Mungkin besok waktu yang tepat."


"Kalau begitu aku pulang ke rumah papa aja, untuk apa aku di sini kalau besok pagi Pak Farel sudah berangkat ke bandara."


"Ya udah aku antar."


"Gak usah, aku pulang sendiri. Pak Farel nanti capek kalau harus bolak balik."


"Aku bisa berangkat dari rumah mamamu."


"Terlalu jauh ke bandara, macet juga nanti bisa ketinggalan pesawat." Niki bersikukuh. Ia menengadahkan tangannya meminta ponselnya kembali.


"Pilihannya aku antar kamu pulang, atau kamu tetap di sini malam ini," ujar Farel tegas.


"Kenapa sih aku ga boleh pulang?"


"Aku tidak melarang kamu pulang, tapi aku melarangmu pulang sendiri apalagi bersama temanmu itu."


"Tomi baik kok dan dia tidak akan berlaku kurang ajar sama aku."


"Dia baik karena ada maunya. Pria baik macam apa yang masih mengharap dapat berduaan dengan wanita yang sudah punya pasangan?"


"Wanita macam apa yang berduaan dengan seorang pria di kamar hotel tapi masih Pak Farel puja sebagai istri yang baik dan tersakiti?" balas Niki tajam.


Ia tidak menunggu balasan Farel, Niki langsung masuk ke dalam kamar dan menghempas pintunya. Ia Merasa percuma dan lelah berdebat hanya untuk meminta ijin pulang ke rumah.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2