
Niki menoleh ke Mama Farel yang berada di barisan belakang, seakan berkata 'Nah, 'kan apa aku bilang.'
"Kenapa Niki harus tukar tempat dengan Marisa?" tanya Mama mewakili pertanyaan Niki.
"Marisa pusing kalau duduk di belakang," jelas Farel tak enak. Ia tahu hal ini akan membuat istri kecilnya itu ngambek berkepanjangan, tapi ia juga tak punya pilihan lain saat ini. Dari pada Marisa memuntahkan isi perutnya di dalam mobil dan membuat Niki terlambat mengikuti kuis di kelasnya, lebih baik memindahkan wanita itu di bagian depan. Soal Niki, biarlah nanti akan ia coba jelaskan.
Tanpa bertanya dan memandang Farel serta mantan istrinya, Niki turun dari mobil dan duduk di sebelah Mama di deretan tengah mobil. Di dalam mobil, Mama Farel terus menggenggam tangan anak mantunya itu untuk menenangkannya.
Sebagai seorang wanita, ia sangat mengerti perasaan Niki. Namun tugasnya sebagai ibu sekarang sungguh berat. Di satu sisi ia ingin agar putra tunggalnya menebus kesalahan yang pernah dibuatnya dengan menyelamatkan janin yang ada di kandungan Marisa, tapi di sisi lain Mama tak ingin pernikahan kedua Farel hancur gara-gara masa lalu.
"Aku turunkan kamu di kampus ya, kalau sudah selesai kabari nanti aku jemput." Farel melirik Niki dari kaca spion. Niki tak menanggapinya, wajahnya ia palingkan memandangi pemandangan di luar mobil yang berjalan.
"Reel, nanti mampir ke warung bakso di jalan Irian ya, mual gini enak cuman selera makan bakso," celetuk Marisa dengan nada yang lirih tapi terdengar manja.
"Pesan lewat online," sahut Farel singkat.
"Belum pakai sistem online mereka, Reel. Jalan Irian 'kan dekat kampus tempat kamu ngajar. Dulu kamu rajin banget belikan aku bakso itu, jadi kepingin kamu belikan lagi." Marisa mengusap-usap perutnya.
__ADS_1
"Turun di gerbang satu aja," celetuk Niki.
"Kalau dari gerbang satu kejauhan ke fakultasmu, Niki. Terus dikit lagi ya, turun di gerbang tiga seperti bi---"
"Gerbang satu aja, aku mau ketemu teman dulu," ucap Niki tegas. Ia sungguh malas melihat kelakuan Marisa yang semakin menjadi.
"Teman siapa?" tanya Farel curiga karena gedung terdekat di gerbang satu hanyalah fakultas teknik, tapi ia tetap menepikan kendaraannya di depan gerbang satu kampus Niki.
"Pamit, Ma kuliah dulu." Niki mencium tangan mama mertuanya sopan.
"Teman siapa, Niki?" tanya Farel ulang sembari menyodorkan tangannya.
"Kabari kalau sudah pulang ya, Nik," seru Farel berkejaran dengan pintu mobil yang ditutup Niki begitu saja.
Farel memantau istri kecilnya sejak keluar dari dalam mobil, hingga masuk ke pelataran kampus. Dadanya memanas menduga-duga siapakah yang ingin ditemui istrinya itu di fakultas yang mayoritas berisi dengan kaum adam.
"Farel, jalan dong pusing nih dengar mobil belakang bunyikan bel terus," keluh Marisa sembari memegang kepalanya. Ingin Farel turun dari mobil dan mengikuti langkah Niki yang semakin hilang dari pandangannya, tapi bunyi klakson mobil yang mengantri di belakangnya seolah tak sabar mengusirnya dari sana.
__ADS_1
"Nanti setelah kamu antar Mama dan Marisa pulang, langsung susul istrimu di kampus. Biar Mama yang beresin barang-barang kalian." Farel mengangguk lega, Mamanya tahu kegundahan hatinya.
"Reel, kok belok sini. Beli bakso dong," protes Marisa ketika jalan yang dituju tak sesuai dengan keinginannya.
"Sori, aku buru-buru. Ga harus bakso yang jual di sana 'kan?, kamu beli lewat online saja."
"Tapi aku pinginnya bakso yang ada di sana. Aku ga bisa makan kalau bukan bakso yang di jalan Irian." Marisa bersikukuh. Sepanjang perjalanan, Marisa terus mengomel dan meminta Farel memutar kemudinya kembali ke jalan Irian.
Farel mengeratkan rahangnya menahan emosi. Belum reda emosinya karena terbayang Niki bersama pria lain, suara manja yang terdengar dibuat-buat, semakin membuat pusing kepalanya.
Begitu sampai di depan rumah, Farel mematikan mesin mobilnya dan berseru dengan kencang, "Cukup, Marisa! Jujur aku terpaksa menjalani ini semua, kalau bukan karena Mama yang meminta dan Niki mengijinkan kamu tinggal bersama kami, aku tidak mau melihat wajahmu lagi. Jadi, aku minta kamu sadar ada batasan jelas antara aku dengan kamu!"
...❤️🤍...
Kakaaak, jangan marah-marah dulu dong 🙏. Niki pasti bahagia kok, tapi ada prosesnya dan memang tidak mudah. Sabar yaaa.
Sambil tungguin yuk mampir ke novel ini, bagus juga loh pasti nagih bacanya.
__ADS_1