Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Bab 33


__ADS_3

"Hentikan, Echa!" Farel berusaha tega melepas dan berbicara keras pada wanita yang sudah menjadi mantan istrinya itu Namun hati tak bisa berbohong, ia terluka saat menghardik Marisa. Suaranya bergetar saat melepaskan tangan Marisa dari perutnya.


"Fareeeell ...." Marisa tersedu dan terus berusaha memeluk.


"Keluarlah, Echa." Farel menggiring wanita yang sudah hidup bersamanya selama dua tahun itu ke arah pintu kamar.


"Farel, aku tahu kamu masih mencintaiku. Aku bisa melihat dari matamu." Marisa berbalik dan menatap lurus ke arah bola mata Farel.


Pria itu mengedip-ngedipkan matanya gelisah. Ia berusaha menghindari kontak mata dengan Marisa, karena ia sendiri yakin masih ada sinar cinta untuk wanita itu. Walaupun semua orang mengatakan ia pria yang bodoh, tapi bukankah cinta dapat membuat orang sepintar apapun menjadi bodoh?


"Keluarlah, Echa cerita kita sudah berakhir. Aku sudah menemukan kebahagianku sendiri. Aku melepasmu, kejarlah kebahagiaanmu sendiri. Anakmu butuh ayahnya," ucap Farel dengan mata tertuju ke arah langit-langit kamar. Ia tengadah agar air mata yang merebak tidak jatuh ke bawah.


"Galih tidak akan menikahiku, dia akan kehilangan segalanya jika berpisah dari Delilah," ujar Marisa lirih.


Ingin rasanya Farel mengatakan jika Galih tak hanya takut kehilangan harta benda serta kekayaan yang dimiliki dari warisan orang tua Delilah, tapi sesungguhnya Galih takut kehilangan Delilah dan anak-anaknya.


Sebagai sesama pria, Farel sangat tahu arti tatapan Galih kepada istrinya. Tatapan penuh cinta dan memuja, sangat jauh berbeda ketika Galih melihat Marisa. Galih memperlakukan Delilah sangat lembut bagaikan ratu. Sedangkan pada Marisa, Galih selalu ingin diutamakan dan dilayani.


"Maaf, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain melepaskanmu asal kamu bahagia, dan aku sangat mengerti kebahagiaanmu ada pada Galih."


"Ga ... gaak! kamu harus menolong aku, Farel. Aku sayang sama kamu."


Farel tersenyum miring mendengar kalimat tidak tulus yang terucap dari mulut Marisa dengan ragu-ragu. Semakin mantaplah keputusannya untuk melepaskan Marisa.


"Keluarlah, Echa. Aku harus berkemas," ucap Farel sembari menggiring Marisa ke arah pintu kamar.


"Be-berkemas? Kamu mau kemana?" Marisa bertahan di ambang pintu. Farel tidak mengatakan apapun, ia tetap berusaha menutup pintu dan menguncinya sehingga Marisa akhirnya terpaksa terdorong keluar dari kamar.


Marisa masih terus menggedor pintu kamar dan berusaha membuka paksa pintu dengan menggoyang-goyangkan pegangan pintu, agar Farel mau membukakannya untuknya.

__ADS_1


Farel menulikan telinganya dari rengekan wanita yang belum lama ditalaknya itu. Sebagai seorang pria yang masih menyimpan rasa, ada keinginan untuk menarik segala ucapannya kemarin. Namun begitu wajah jahil istri kecilnya itu melintas di kepalanya, ia lalu membalikan tubuhnya dan dengan gerakan cepat meringkas segala barang miliknya yang akan ia bawa ke apartementnya yang ia tinggali bersama Niki.


Marisa masih berdiri di depan pintu kamar saat Farel keluar dari kamar dengan satu koper berukuran besar yang ia tarik keluar.


"Farel, Fareel ... kamu ga serius tinggalkan aku 'kan?" Marisa mengiringi langkah Farel yang lebar.


"Maafkan aku, Echa. Jalan kita sudah berbeda, sudah selayaknya kamu bersama dengan orang yang kamu cintai."


"Aku mencintaimu, Farel." Marisa mencoba menghadang langkah Farel yang sudah hampir mencapai pintu depan.


Farel menghentikan langkahnya, ia menatap Marisa yang sedang memandangnya penuh harap. Ia tersenyum miris melihat wajah wanita yang pernah dicintainya sepenuh hati.


"Kata-katamu itu sudah terlambat, Echa," ucap Farel sendu. Ia menyesalkan kalimat Marisa yang baru terdengar setelah ia menunggu sekian lama.


"Akuuu mencintaimu ... Akuuuu mencintaimuuu, tolong jangan tinggalkan akuuu." Marisa meraung sembari memukul-mukul dadanya.


"Berdirilah, Echa. Kamu wanita yang hebat dan kuat. Tanpa aku sekalipun aku yakin kamu mampu melewati ini semua." Farel membantu Marisa berdiri. Sesakit apapun hatinya ia masih punya rasa kasih pada Marisa.


"Aku ga bisaaa ... jangan pergiiii!" Marisa menjerit ketika Farel meneruskan langkah kakinya.


"Aku akan membunuh bayi ini!" ancam Marisa. Farel berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan langkahnya.


"Aku tidak rela perempuan itu bahagia, dia merebutmu dari akuu!" Marisa kembali menjerit. Langkah Farel terhenti, ia tahu siapa yang dimaksud oleh Marisa.


"Aku tidak merasa direbut oleh siapapun. Aku bukan benda mati, aku punya perasaan dan kehendak bebas. Aku yang melepaskan diri dari kamu, Echa," ujar Farel masih berusaha lembut.


"Aku tidak akan membiarkan perempuan laknat itu bahagia sedangkan aku menderita!" Marisa menggeram marah. Tak ada lagi air mata yang mengalir, yang tersisa hanyalah kemarahan dan dendam.


Mendengar perkataan Marisa, Farel mengambil langkah seribu keluar dari rumah dan memacu kendaraannya menuju kampus. Berulang kali ia mencoba menghubungi istri kecilnya tapi tak satupun panggilannya terjawab. Pesan yang ia kirimkan tidak satupun di baca apalagi di balas, padahal dengan jelas status terakhir Niki sedang aktif.

__ADS_1


Niki segera mengambil tempat pojok di ruang perpustakaan ketika melihat suaminya melangkah masuk di lorong kampus dengan langkah tergesa. Ponsel yang menempel di telinga Farel, sudah dipastikan sedang mencoba menghubunginya karena ponsel ditangannya terus bergetar menampilkan nama suaminya.


Niki masih enggan beretemu. Ia sedang butuh waktu sendiri. Perasaannya mengatakan salah telah memaksakan hubungannya dengan dosennya. Ia merasa sangat bodoh dan serakah sebagai seorang wanita.


Niki menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dadanya sesak dengan rasa cinta tapi terabaikan. Farel memang sudah menjadi miliknya, tapi ia merasa hati pria itu tetaplah milik wanita lain.


"Kamu baik-baik aja, Nik?" Sebuah tangan hangat menyentuh lengannya. Perlahan Niki menurunkan tangannya, wajah Tomi yang tampan tepat berada di hadapannya.


"Ba-baik." Niki memundurkan tubuhnya. Risih karena terlalu dekat jarak wajahnya dengan Tomi. Pemuda yang sejak semester pertama berusaha mendekatinya dengan segala macam cara.


"Sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja." Tomi menyusut air di pelupuk matanya, "Kalau ada masalah, ceritakan. Sebisa mungkin aku ada untuk kamu," ucap Tomi pelan.


"Agak ga enak badan aja," kelit Niki.


"Tidak panas." Niki sedikit terkejut saat telapak tangan Tomi menyentuh keningnya.


"Aku baik-baik aja, Tom." Niki menurunkan tangan Tomi dari keningnya. Tomi tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia menarik tangan Niki dan menyimpan dalam genggaman tangannya.


"Sudah selesai kuliah kenapa tidak segera pulang?" Suara dingin dan tegas membuat keduanya menoleh bersamaan.


...❤️🤍...


Masih ada yang menunggu kelanjutan cerita ini ga 🥺


Sekali lagi maafkan ya kalau lamaaaa sekali ga up, karena ada kesibukan yang tidak bisa ditunda 🙏 Semoga setelah ini akan rutin update yaa, jangan kapok dan bosen, semoga ga lupa dengan jalan ceritanya 🙏🥰


Mampir juga ke cerita temanku yuk


__ADS_1


__ADS_2