Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Mempertahankan apa yang dimiliki


__ADS_3

Niki menoleh ke arah Farel, ia ingin tahu bagaimana perasaan suaminya dari reaksi wajahnya. Mata Farel tampak mengerjap gelisah, kelihatan sekali pria itu salah tingkah di hadapan mantan istrinya.


"Silahkan dilanjutkan nostalgianya, aku mau istirahat." Niki membuka pintu kamar dan hampir saja membanting pintu tepat di hadapan Farel.


"Niki." Farel menahan daun pintu yang hampir menutup, "Kamu ga mau makan dulu?" tanya Farel menutupi rasa salah tingkahnya.


"Baru aja ketemu di depan kamar sama mantan, sudah lupa aja kalau aku bilang makannya nanti dulu." Niki melirik sinis.


"Aku ga lupa, cuman nanya aja kok jawabannya gitu."


Niki tak menjawab ia sedang memperhatikan isi dari kamar dosennya. Kamar itu sangat minimalis hanya ada sebuah ranjang besar, meja dan kursi untuk Farel bekerja serta sebuah lemari pakaian. Tak ada hiasan atau foto tergantung di dinding kamar itu, sprei dan gordennya pun senada berwarna biru gelap.


"Kamar ini, hanya sebagai tempat penyimpanan barang selama ini, jadi aku belum pernah tidur di sini. Harap maklum kalau isinya hanya sekedarnya," ujar Farel. Ia menyadari arti pandangan mata istrinya.


"Jadi selama ini tidur di mana?"


"Aku 'kan tidur di apartement sama kamu."


"Maksudnya ... aaah, sudahlah." Niki mengibaskan tangannya. Membayangkan suaminya seranjang dengan mantan istrinya kembali menimbulkan bara api di dadanya.


Ia sadar rasa cemburu tentang masa lalu suaminya akan terus menghantuinya. Selama ini dia sendiri yang membawa pikiran itu dan merusak kedamaian hatinya. Selalu menduga-duga hal buruk yang belum tentu terjadi, semakin menambah sakit perasaannya sendiri.


Sekarang Farel adalah suaminya Kedua orangtuanya merestui, bahkan ia sudah bertemu dengan Mama dari suaminya dan mertuanya itu sangat sayang padanya. Lalu apa lagi yang harus ia keluhkan? Cinta suaminya? Hal itu harus ia perjuangkan, mengingat cara dia menjerat dosennya dengan cara yang salah. Tentu ia harus menanggung resiko atas perbuatannya. Sekarang Farel adalah miliknya, tidak akan ia berikan celah untuk Marisa merebutnya kembali.


"Kamu kenapa?" Farel menatap heran pada Niki yang mengepalkan keduatangannya.


"He? Oh, ga apa-apa. Aku tiba-tiba ingat deadline revisi tugas akhirku."


"Nanti aku bantu."


"Mmm, tapi aku ga bisa kalau belajar di kamar seperti ini." Niki berbalik menghadap suaminya. Bibirnya cemberut manja lalu jarinya memutar ujung rambutnya.


"Kamu mau kamar yang bagaimana? Di lantai satu ada kamar kosong lagi tapi agak kecil dan agak di belakang, mau lihat?"

__ADS_1


"Kamar ini aja, tapiii ...," Niki berjalan pelan mendekati suaminya. Senyumnya dibuat senakal mungkin.


"Nik ...." Kaki Farel mundur selangkah. Agak seram baginya melihat perubahan drastis istrinya.


"Aku diijinkan dekor ulang kamar Pak Farel boleh?" Kedua tangan Niki bergelayut di leher Farel.


"Bo-boleh." Nafas Farel seakan tercekat ketika hembusan nafas Niki menerpa bibirnya.


"Semua warna dan hiasannya sesuai kesukaanku, boleh?" bisik Niki di telinga suaminya


Farel berusaha menelan ludahnya sebelum menanggapi lirih "He eh."


"Oke, mari kita berbelanja," ucap Niki tiba-tiba bersemangat. Tubuh Farel masih mematung, kakinya tak sanggup bergerak sampai istri kecilnya itu menarik lengannya keluar dari kamar.


Senyum Niki terbit saat memeluk suaminya, ia merasakan ada sesuatu yang bergerak di bawah sana. Tekadnya sudah bulat, mempertahankan apa yang sudah menjadi miliknya. Tingkah Marisa yang tak tahu diri, membuatnya semakin terpacu untuk menunjukan pada wanita itu bahwa Farel Pratama adalah suaminya.


"Kalian mau kemana?" tanya Mama yang duduk di sofa sedang menonton televisi.


"Mau belanja, Ma. Mama mau titip apa biar Niki belikan."


"Kamu mau kemana Farel?" Marisa muncul dari lantai atas.


"Jalan," ucap Niki cepat sebelum suaminya sempat menjawab pertanyaan Marisa.


"Boleh ik---"


"Tidak. Kami mau menghabiskan waktu berdua, ya 'kan Yang?" Niki semakin merapatkan pelukannya. Farel tak menjawab, dosennya itu tampak memandang Marisa dan dirinya bergantian.


"Aku bosan di rumah," keluh Marisa. Matanya memandang lurus ke arah Farel, mengharap pria yang dulu selalu tunduk dengan apa yang ia katakan mengajaknya untuk bergabung.


"Makan dulu yuk, aku lapar." Tak menghiraukan ucapan Marisa, Niki menarik lengan suaminya ke arah meja makan. Ia tidak akan memberikan celah sedikitpun bagi wanita masa lalu Farel untuk masuk.


Tanpa diminta, Niki mengambilkan piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk. Ia melakukan apa yang pernah Mamanya ajarkan bagaimana melayani suami dengan baik.

__ADS_1


Marisa memperhatikan Niki dari ujung meja. Hal yang tak pernah ia lakukan selama ia menjadi istri Farel, dan sekarang semua sudah terlambat. Ada wanita lain yang dapat membuat senyum di bibir Farel terkembang. Rasa iri dan cemburu menyeruak di hati Marisa. Keegoisannya tak luntur meski sudah menerima penolakan secara terang-terangan.


Di bawah tatapan tajam mantan istrinya, berat rasanya nasi dan lauknya tertelan oleh Farel. Sedangkan istri kecilnya tampak santai, bahkan terlihat sangat menikmati makan siangnya.


"Mba Marisa ga makan?" tanya Niki basa basi.


"Sudah," sahut Marisa datar, "Farel aku titip susu untuk ibu hamil bisa?" lanjut Marisa dengan nada yang manis.


"Bisa, nanti aku belikan, karena semua uang suamiku yang pegang aku," timpal Niki dengan bangga "Jangan lupa dicatat setiap pengeluaran untuk Mba Marisa, biar bisa ditagihkan ke temanmu itu," lanjut Niki dengan berbisik tapi keras untuk di dengar Marisa.


"Nikiii." Farel menggelengkan kepala tak setuju.


"Apa? Yuk jalan, nanti kemalaman." Niki tak memberikan kesempatan suaminya untuk membahas perkara Marisa. Baginya wanita itu adalah orang lain yang tak penting di kehidupannya.


"Kamu kenapa jadi berubah ketus sih?" tanya Farel saat mereka sudah mobil.


"Ah, masa. Biasa aja kok."


"Jangan begitu lagi ya."


"Jangan begitu yang bagaimana?"


"Sikapmu tadi sama Marisa, judes banget kayak bukan Niki yang aku kenal."


"Aku memang ga suka. Apa aku harus berpura-pura manis di depan Mba Marisa? Aku rasa sikapku tadi wajar kok, aku hanya menegaskan posisiku sebagai istri Pak Farel. Apa aku salah?"


"Kamu ga salah, hanya kasihan dia lagi hamil kalau stress bisa berpengaruh sama bayinya," ujar Farel dengan sangat pelan.


"Jadi karena Mba Marisa hamil lebih diperhatikan perasaannya dari pada aku yang tidak sedang hamil? Kalau begitu kapan Pak Farel hamilin aku?" tantang Niki sembari mengusap paha suaminya.


...❤️🤍...


Semoga masih setia nungguin cerita Niki dan Farel yaa 🙏 sambil tunggu up lagi mampir ke karya temanku yuk, pasti bagus deh

__ADS_1



__ADS_2