
Marisa melirik meminta dukungan ke arah mantan mertuanya yang berada di bangku belakang. Namun Mama Farel pun sepertinya sudah tak berpihak lagi padanya. Wanita tua itu memandang sama kesalnya dengan Farel.
"Kita turun, Marisa. Farel harus segera menemani istrinya di kampus," ujar Mama sembari membuka pintu mobil lalu memanggil pekerja rumah tangga Marisa yang membukakan pintu untuk mereka.
"Nur, bawa koper ibu ke kamar Bapak," pinta Mama Farel, "Eh, bukan yang itu. Itu punya Bu Marisa, koper yang ini Nur punya Bu Niki." Mama menggeser koper berwarna kuning muda milik Niki ke arah Nur.
"Bu Niki?" Pekerja rumah tangga yang masih belia itu mulai kebingungan, yang ia tahu wanita yang dipanggil Ibu di rumah itu adalah Marisa sang Nyonya rumah.
"Sudaah, cepat bawa masuk ke kamar Bapak."
Begitu semua barang yang ada di bagasi mobil diturunkan, Farel langsung melarikan mobilnya kembali ke kampus.
Sementara itu Niki yang enggan bertemu dosen dan teman-temannya, memilih tak mengikuti mata kuliah hari ini. Ia capek menghadapi dosen dan teman-temannya yang terus menudingnya sebagai perusak rumah tangga dosen mereka. Terkadang kisahnya dengan Farel menjadi kerap dijadikan bahan candaan oleh mereka. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi penghuni kampus. Ingin marah, tapi ia lah biang masalah. Tetap bertahan hingga wisuda, hati sakit dan malu.
Niki beringsut menyepi di sudut gedung kampus, tempat ternyaman bagi mahasiswa yang ingin lari dari tugas. Ia duduk di lantai dan menelungkupkan kepalanya di antara kedua lututnya. Kepala dan pundaknya terasa sangat berat dengan beban yang ia tanggung sekarang ini. Ia merasa tak ada tempat berbagi yang dapat mengerti dirinya. Niki membuka kontak di ponselnya dan mengirim pesan ke orang yang paling ia percaya saat ini.
"Ada apa lagi?" tegur Fera sembari duduk di hadapan Niki.
"Feeeerrr." Niki mengangkat kepalanya. Matanya sembab dengan air mata di pipinya, "Aku bingung, aku takuut."
Fera menarik nafas lalu memeluk Niki. Walaupun ia sempat jengkel dan tidak setuju dengan kelakuan temannya itu, Niki tetaplah sahabat terbaiknya. Ia tahu dan sangat mengenal siapa dan bagaimana Niki sebenarnya. Perkataan miring yang beredar di kampus tentang Niki, tak satupun ia hiraukan.
"Lakukan apa yang kamu rasa benar. Kamu sudah melangkah terlalu jauh, selesaikan itu," ujar Fera.
"Aku ga sanggup, Feer. A-aku binguung. Andai saja bisa memutar waktuuuu, aku ga mau ini semua terjadi." Niki tergugu menahan isakan.
__ADS_1
"Sudah terjadi, jangan berharap yang tidak mungkin. Pak Farel sekarang suamimu, sesuai keinginanmu. Lalu apa lagi yang kamu inginkan?"
Pertanyaan Fera semakin menambah penyesalan dan rasa bersalah Niki. Ia semakin merasa menjadi wanita yang egois dan serakah.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Nik?"
"Pak Farel tidak mencintai aku," ucap Niki lirih.
"Seharusnya kamu tahu itu sebelum membuat cerita palsu."
"Feeerrr, pleasee. Aku tahu ituuu."
"Dari mana kamu tahu dia tidak mencintaimu, yang aku dengar Pak Farel sudah menceraikan istrinya. Sekarang kamulah satu-satunya istrinya, itu 'kan yang kamu inginkan."
Niki melengos sedih mendengar ucapan sinis dari sahabatnya. Ia tahu Fera bukan bermaksud mengoloknya, tapi kawannya itu memang akan mengungkapkan apa saja yang ada di dalam pikirannya.
"Mantan istri Pak Farel hamil?" Mata Fera membesar.
"Ya, tapi bukan anak Pak Farel. Mba Marisa selingkuh dengan teman Pak Farel sendiri."
"Gila, kalau gitu aku dukung kamu tikung Pak Farel, Nik." Fera terlihat bersemangat.
"Tapi aku ingin berpisah, aku ga sanggup lagi." Air matanya turun semakin deras ketika ia mengucapkan hal itu.
"Kamu yakin?" Niki menganggukan kepala menanggapi pertanyaan Fera, "Tapi matamu mengatakan berat untuk melepasnya, Niki."
__ADS_1
"Pikirkanlah baik-baik, kehidupan menikah itu tidak hanya yang indah-indah. Apalagi kamu memulainya dengan proses yang salah, lantas apa yang kamu harapkan? Dia memujamu bagai ratu? Kalian berdua hidup bahagia happily ever after?" lanjut Fera.
"Feerrr, please jangan bikin aku tambah pusing." Niki mengeluh frustasi mendengar ejekan sahabatnya.
"Sori, aku memang ga bisa menghiburmu dengan kata-kata yang manis. Aku yakin kamu ga butuh kata-kata menghibur, karena aku tahu kamu sebenarnya paham apa yang kamu lakukan di awal adalah salah dan kamu harus bertanggungjawab memperbaikinya, bukan meninggalkannya begitu saja," tegas Fera.
"Lalu aku harus bagaimana, Pak Farel masih mencintai Mba Marisa," jerit Niki tertahan.
"Kamu yakin?"
"Harus ku katakan berapa kali sih, Fer!"
"Lantas kira-kira siapa yang Pak Farel cari sampai wajahnya panik begitu ya? Apa mantan istrinya juga kuliah di sini?" Fera memandang jauh ke arah belakang Niki.
"Heh?"
"Tuuh, suamimu lagi ngobrol sama Tomi."
Niki langsung berdiri dan memutar tubuhnya. Ia segera berlari ke arah suaminya dan Tomi yang lebih terlihat sedang berdebat dari pada berbincang.
"Pak Farel jangan!"
...❤️🤍...
Bawa cerita bagus lagi nih, kalian wajib mampir pokoknya 😁
__ADS_1