
"Benar itu Farel? Siapa dia?" Mama mengalihkan pandangan ke arah putra tunggalnya.
"Mahasiswi di kampus tempatku mengajar," sahut Farel pelan.
"Kamu sudah menikah lagi tanpa memberitahu Mama?"
"Aku memang rencana mau bawa dia datang menemui Mama, tapi belum sempat. Jadwal mengajarku penuh sampai dua bulan kedepan, Ma."
"Kamu bercerai dengan Marisa saja sudah membuat Mama kecewa, sekarang kamu datang bawa kabar kalau kamu sudah menikah tanpa memberi tahu Mama? ... dia hamil?" tanya Mama hati-hati.
"Belum hamil," ujar Farel sembari tersenyum. Membicarakan istri kecilnya membuat suasana hatinya sedikit membaik.
"Mungkin pakai kontrasepsi, Ma. Biasa anak mahasiswi yang suka 'dagang' pakai pengaman biar ga hamil," timpal Marisa.
"Kamu bicara apa sih! Kalau tidak kenal dengan Niki, ga usah ikut bicara!" sergah Farel geram.
"Aku hanya menyampaikan yang aku tahu tentang anak jaman sekarang," ujar Marisa membela diri.
"Dia tahu hubunganmu dengan Marisa seperti apa sebelumnya?" Mama mengalihkan perdebatan keduanya.
"Dia yang memberi tahu, kalau Marisa ada bersama Galih di dalam hotel. Malam itu kami berdua mendapati mereka di dalam kamar." Farel menatap tajam ke arah mantan istrinya itu.
"Ow, jadi sekarang sudah jelas dari mana kamu tahu aku ada di sana malam itu. Rupanya perempuan itu berniat sekali untuk merebutmu. Heh, untuk apa anak mahasiswa ada di hotel sendirian malam-malam?"
"Dia kerja, Echa. Tak usah mengalihkan pembicaraan!"
"Kerja? Kerja apa di hotel saat malam hari? Aku tidak melihat dia memakai seragam hotel. Mungkin kerja ... Yaaa, begitulah, Ma." Marisa tersenyum sinis."
"Hentikan, Echa," desis Farel ketika melihat mamanya memegang kepala karena pusing melihat mereka berdebat.
"Ada apa dengan kalian. Satu persoalan belum selesai, muncul persoalan baru. Selesaikan masalah kalian berdua dulu, baru membicarakan yang lain."
"Kami berdua sudah selesai," ucap Farel tegas. Tangan Marisa saling bertaut dan meremas. Keduanya saling memandang tajam.
"Bagaimana dengan bayi yang dikandung Marisa? Sebelumnya Mama sudah menyampaikan sama kamu 'kan, gimana?"
__ADS_1
Farel mendesah kesal diingatkan kembali persoalan yang seharusnya bukan tanggungjawabnya. Ia mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi Galih dengan dua nomer yang ia punya.
Farel menekan nomer Galih berulang kali dengan emosi, tapi yang menjawab hanyalah pesan kotak suara. Pesan yang ia kirimkan sejak siang tadi sama sekali tidak terkirim. Farel mengusap wajahnya lelah.
"Coba kamu hubungi pacarmu itu," pinta Farel ketus.
"Sudah aku bilang seminggu ini aku tidak bisa menghubunginya. Mungkin sekarang nomermu juga di blokir sama seperti aku."
"Kenapa kamu ga datangi saja rumah atau kantornya? Apa yang kamu tunggu, dia datang dan melamarmu? Echa, echaa ...dia hanya menjadikanmu tempatnya bersenang-senang. Kalau sekarang kamu dibuang, berarti bagi dia kamu sudah tidak menyenangkan lagi."
Marisa memalingkan wajahnya. Ia merasa ditelanjangi di depan mantan mertuanya.
"Aku tahu, aku sudah berbuat salah. Aku sudah mengkhianatimu, aku tahuu itu. Kalau dia atau kamu tidak mau menerima aku dan memaafkan kesalahanku, untuk apa lagi aku hidup. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Kenapa tadi kamu menyelamatkanku! Harusnya kamu biarkan aku mati kehabisan darah, biar kamu bisa hidup bahagia dengan wanita perebut suami orang itu!" Marisa menjerit marah dengan air mata berderai membasahi seluruh wajahnya.
"Marisaaa, ingat kondisimu. Kamu masih lemah." Mama merengkuh mantan menantunya itu, lalu mengusap-usap punggungnya, "Lebih baik kamu istirahat dulu."
Mama menuntun Marisa yang masih meraung, masuk kembali ke dalam kamarnya.
"Maa, biarkan aku mati saja. Aku berdosaaa." Marisa menahan tangan Mama Farel sesaat setelah membantunya berbaring di ranjang.
"Aku ga sanggup, Maaa. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Dulu Aku kuat karena ada Farel, tapi sejak ada perempuan penggoda itu Farel berubah, Ma. Dia menghabiskan harta Farel. Kartu kredit, apartement, Farel berikan untuk dia, padahal mereka belum lama saling kenal. Perempuan itu juga berasal dari keluarga yang kurang baik, Ma."
"Kurang baik bagaimana?"
"Papanya perempuan itu dulu sudah menikah sebelum bertemu mamanya. Lalu mereka sering bertemu karena satu kantor, akhirnya Papanya perempuan itu meninggalkan istrinya dan menikahi wanita yang menjadi mamanya sekarang."
"Mamanya merebut suami wanita lain?" desis Mama Farel.
"Sama seperti anaknya."
"Istirahatlah, Mama masih mau bicara dengan Farel."
"Ma ... Terima kasih, mama mertua yang terbaik. Aku sungguh beruntung sudah pernah memiliki Mama dan Farel ... A-aku minta maaf."
Mama menepuk pundak Marisa pelan lalu berjalan keluar dari kamar. Sepeninggal mantan mertuanya, Marisa menghapus air mata yang tadi susah payah ia keluarkan. Seringai licik terurai di kedua sudut bibirnya.
__ADS_1
Mama kembali ke ruang tamu, di sana putranya masih duduk sambil memandangi layar ponselnya.
"Ada fotonya?" tanya Mama datar.
"Foto apa?"
"Mahasiswimu itu."
Farel mencari foto Niki dari galeri ponselnya. Ia baru menyadari, wajah istri kecilnya itu tidak ada satupun yang tersimpan di dalamnya. Lalu ia membuka media sosial Niki dan mencari foto terbaik yang pantas diperlihatkan ke Mamanya. Farel menggaruk kepalanya melihat tampilan media sosial istrinya itu. Khas anak muda, dengan foto centil yang terkesan menonjolkan kecantikan dan lekukan tubuh.
"Mana, masa sudah nikah kamu ga punya satupun fotonya?" pinta mama tak sabar. Tenggorokan Farel tetiba kering mendengar sindiran mamanya. Sedikit ragu ia memperlihatkan media sosial Niki pada mamanya.
"Kamu meninggalkan Marisa dan menikahi anak kecil ini? Apa bedanya dia dengan Marisa? tidakkah kamu bisa mencari wanita yang jauh lebih baik dari keduanya?"
"Ma, Niki anak yang baik, aku bisa memastikannya."
"Dulu saat kamu ingin menikahi Marisa, kamu juga mengatakan hal yang sama. Sampai-sampai kamu berani berteriak di depan papamu yang sedang sakit. Apa nanti kamu akan melakukan hal yang sama pada mama demi wanita ini?" Suara tua mama bergetar menahan tangis.
"Maa, ini beda. Jangan berkata seperti itu." Dada Farel nyeri mengingat kejadian masa lalu. Ia pernah beradu mulut dengan almarhum papanya, demi membela Marisa. Kedua orangtuanya menanggung malu gara-gara perbuatan Marisa yang sudah diketahui oleh keluarga besar mereka.
"Mama harap kamu jadi pria dewasa yang dapat diandalkan. Ingat kamu masih punya satu tanggungjawab besar. Mama akan sangat kecewa kalau keputusan yang kamu pilih bisa mengorbankan satu nyawa yang tidak berdosa."
"Farel harus apa supaya mama senang?"
"Jika ayah bayi itu tidak mau bertanggungjawab, dampingi Marisa sampai ia melahirkan anaknya. Pastikan ia tenang dan bayinya selamat hingga lahir. Setelah bayi itu lahir dan dia tidak mau merawatnya berikan pada mama. Mama akan merawatnya sampai besar."
"Maksudnya?" Jantung Farel hampir terhenti ketika ia bertanya hal ini, karena sebenarnya ia tahu apa yang mamanya inginkan.
"Nikahi Marisa lagi, kalau istri barumu itu benar mencintai kamu dengan tulus. Mama yakin dia mau mengerti."
...❤️🤍...
Haai, ada cerita bagus lagiii nih. Mampir dong, biar ga penasaran sama ceritanya
__ADS_1