
"Pak," tegur Niki saat Farel dengan keras berusaha melepaskan tangan Marisa yang mencengkram celana panjangnya. Sebagai sesama wanita, ia merasa tidak sampai hati melihat Marisa yang berlutut di kaki Farel.
"Lepaskan, Marisa. Kembalilah ke kamar bersama Galih. Kamu bisa jadi tontonan dengan berpakaian seperti ini di luar kamar," ujar Farel sembari mengangkat tubuh Marisa agar berdiri. Beberapa tamu hotel yang menginap di lantai yang sama, tampak keluar dari kamar dan memperhatikan mereka.
"Galih tak akan menikahiku, kamu tega meninggalkanku demi bocah ini?" seru Marisa di antara tangisannya yang menggeru.
"Masuklah ke dalam." Farel berusaha menggiring Marisa kembali ke kamarnya meski wanita itu terus menolak.
"Jangan pergi, Farel. Cabut kata-katamu, aku berjanji akan mencintaimu seutuhnyaaa." Marisa berusaha memeluk tubuh Farel.
Farel tidak mempedulikan rengekan Marisa, ia tetap berusaha menggiring wanita yang baru ditalaknya itu masuk ke dalam kamar yang disewa Galih. Jubah mandi Marisa sudah tidak beraturan membuat sebagian tubuhnya hampir terpampang jelas, dan menjadi konsumsi pengunjung hotel lain yang keluar dari kamar karena rasa ingin tahu.
"Galih, dia tanggung jawabmu sekarang," ujar Farel sembari menyerahkan Marisa pada Galih yang masih mematung di ambang pintu kamar.
"Farel ... Fareell!" Marisa kembali berlari mengejar Farel yang langsung melangkah keluar, tapi pria itu dengan cepat menutup pintu dan menghampiri istri kecilnya.
"Ayo." Farel menggamit lengan Niki dan menggiring gadis itu masuk ke dalam lift.
"Bapak salah pencet," protes Niki saat Farel menekan tombol angka sembilan.
Farel tak mengatakan apapun, suasana hatinya sedang memburuk gara-gara kejadian dramatis tadi. Pandangannya lurus ke arah depan dengan mata menyorot tajam namun sendu. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya terkepal di dalam saku celananya. Niki merasa jika dosennya itu sedang tidak ingin diganggu. Ia memilih untuk diam dan menunggu hingga Farel sedikit bisa bersikap lunak kembali.
Begitu pintu lift terbuka, Farel langsung berjalan keluar tanpa mengajak Niki. Ia melangkah di sepanjang lorong kamar hotel yang sepi, sembari mencari angka di pintu kamar yang sesuai dengan kunci di tangannya.
Tangan sebelahnya tetap berada di dalam saku, Farel berjalan terus tanpa menoleh. Niki sedikit kepayahan mengikuti langkah kaki dosennya yang lebar. Ia tetap berada di belakang Farel dengan kening berkerut tapi takut untuk bertanya.
Farel berhenti di depan pintu kamar dan menempelkan kunci yang berbentuk kartu pada sensor pengunci. Begitu pintu terbuka, ia masih tanpa menoleh masuk ke dalam dan membiarkan pintu kamar terbuka lebar.
Niki mengintip ke dalam kamar, ia ingin bertanya kamar siapa dan untuk apa dosennya itu masuk ke dalam kamar. Namun ternyata Farel sudah terlebih dulu masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Paaak ... Pak Fareeel," Niki memanggil dosennya dari ambang pintu kamar. Ia memanjangkan lehernya mencoba melihat lebih jauh ke dalam, apakah ada orang lain selain Farel.
Farel bukannya tidak dengar suara istri kecil memamggilnya. Ia sengaja membiarkan Niki penasaran dan bertanya-tanya dalam hati. Merasa tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi, Niki berjingkat masuk ke dalam kamar. Suara air yang mengucur dari shower di dalam kamar mandi semakin terdengar kencang.
Pantes ga denger, ternyata lagi mandi. Kalau langsung ditinggal ga enak juga, 'kan belum pamit. Kasihan juga lihat Pak Farel, di sini dulu sebentarlah mungkin dia butuh teman untuk bercerita sebentar. Niki membantin dalam hati sembari duduk di sofa yang disediakan di dalam kamar.
Ini kamar siapa sih? Kalau Pak Farel, memang kapan pesan kamarnya, apa sebelum ketemu aku kali ya.
Niki mengedarkan kepalanya ke sekeliling kamar. Ukuran kamarnya sangat luas, berbanding terbalik dengan kamar yang ia sewa. Dari interior dan fasilitas yang di sajikan, kamar yang disewa Farel ini jelas yang paling mahal di hotel ini.
Sambil duduk menunggu Farel selesai mandi, Niki melamun mengingat kalimat perpisahan Farel untuk Marisa. Ia pun turut sedih dan memahami apa yang dirasakan oleh Marisa, bahkan yang ia alami lebih menyakitkan karena ditalak oleh Farel melalui pesan singkat tanpa ada kata perpisahan yang manis.
Suara pintu tertutup membuat Niki spontan berdiri dari duduknya. Ia melangkah dengan cepat ke arah pintu keluar. Dilihatnya Farel dengan rambut basah dan handuk menutupi area pinggulnya berdiri di depan pintu yang tertutup.
"Kok ditutup Pak?" Niki menunjuk ke arah pintu kamar. Saat ia masuk tadi, sengaja pintu ia biarkan terbuka lebar.
"Banyak nyamuk," sahut Farel tak acuh. Niki mengernyitkan kening mendengar jawaban absurd dari dosennya.
"Seharusnya saya yang bertanya sama kamu, ngapain masuk ke dalam kamar saya? Kamu ada perlu dengan saya?" tanya Farel seraya maju mendekati Niki. Sebelah tangannya mengusap-usap rambutnya yang masih basah, sebelah lagi menahan gulungan handuk dipinggangnya agar tidak bergerak turun sebelum diperintahkan.
"Ow, emm. Maaf kalau begitu saya keluar dulu," ujar Niki. Badannya yang mungil dengan mudahnya menyelinap sebelum Farel mendekatinya.
"Pak kok ga bisa dibuka?" Niki menarik-narik pegangan pintu dengan panik.
"Ah, masa? Coba saya lihat." Farel berjalan mendekat, ia berpura-pura memeriksa daun pintu yang tidak bersalah itu. Tanpa sepengetahuan Niki, kamar yang dipesan dosennya itu memiliki pengaman khusus dari dalam dan Niki tidak mengetahui itu.
"Hhhh, harus dilaporkan ini," ujar Farel dengan wajah kesal. Ia meraih telepon yang menempel di dekat pintu dan berbicara seolah-olah dengan petugas hotel.
"Mereka tidak bisa membantu kita malam ini, bagian teknisi kunci sudah pulang karena memang ini sudah larut," lanjut Farel dengan gaya santai.
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu?" Niki berdiri dan bersandar di sudut kamar. Ia berusaha menghalau aroma sabun dan shampo yang menguar dan menggodanya dari tubuh Farel.
"Saya juga ga tahu, tapi besok pagi mereka berjanji akan segera menyelesaikan dan memberikan kompensasi atas ketidaknyamanan ini."
"Lalu saya gimana?"
"Terserah kamu, ranjang ini cukup luas."
"Saya tidur di sini? Sama Bapak?"
"Kenapa? Kamu kok kelihatan panik gitu."
"Ga baik, Pak!"
"Loh, kamu lupa kita adalah suami istri? Tidak ada salahnya dan tidak dosa kita berada dalam satu kamar bahkan satu ranjang."
"Kita sudah bukan suami istri lagi, Pak. Ga boleh tidur satu ranjang," ucap Niki. Namun kata hatinya mengatakan hal yang lain. Jika Farel memaksa pun, mungkin ia akan memasrahkan diri juga.
"Kata siapa kita bukan suami istri?"
"Bapak sendiri."
"Saya?"
"Belum ada satu minggu sudah amnesia, jangan main-main dengan kata talak. Coba baca, jangan pura-pura lupa," ujar Niki sembari menyodorkan layar ponsel ke depan wajah dosennya itu. Sebelum memblokir nomer Farel, ia mengambil gambar pesan singkat yang dikirmkan dari ponsel suaminya.
...❤️🤍...
Mampir ke karya temanku ya
__ADS_1