Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
sudut pandang yang berbeda


__ADS_3

"Aku dulu menikah saat Mas Farel masih mempunyai istri ... Apakah aku juga seorang pelakor, Kak?" Niki menatap Maura dengan tatapan hampa. Wanita yang diajaknya bicara itu terdiam dengan mulut terbuka lebar.


Maura tak sanggup berkata-kata. Apa yang baru saja di dengarnya dari mulut gadis muda di depannya ini sangat di luar dugaannya.


"Kak Maura pasti punya pikiran yang sama, seperti dosen dan teman-temanku di kampus. Mereka sudah ga mau dekat-dekat aku lagi. Tiap kali aku gabung untuk ngobrol, mereka menjauh satu persatu. Malah yang lebih jahatnya lagi, ada yang teriak 'hati-hati Niki datang, amankan pasangan kaliaaan." Niki menirukan cara temannya mempermalukan dirinya dengan tawa getir. Bibirnya mengulas senyum, tapi matanya memancarkan kepedihan.


"Nik ...." Maura mengusap punggung Niki tanpa sanggup melanjutkan kalimatnya.


"Tapi mereka ga salah kok, Kak. Aku memang pelakor seperti yang mereka bilang. Aku ngotot ingin dinikahi oleh pria yang masih terikat pernikahan, padahal dosen aku itu cinta mati sama istrinya. Aku jahat ya, Kak." Niki menatap Maura dengan air mata berlinang, "Sekarang aku tahu kenapa aku setega itu, mungkin menurun dari mamaku."


"Niki! Stop berpikiran buruk seperti itu pada mamamu sendiri." Maura menangkup pipi Niki dan memaksanya menatap bola matanya langsung, "Apa yang ada di dalam pikiranmu sekarang tidaklah seratus persen benar. Aku sudah bilang dari awal, buka pikiranmu jika ingin mendengar cerita sesungguhnya."


Maura menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. Pembicaraan ini memang selalu memancing emosinya. Ia sangat paham dengan apa yang Niki rasakan, karena dulu ia pernah diposisi ini. Bedanya dialah anak dari korban broken home.


Saat masih kecil, yang ia tahu Papa yang selalu memanjakannya sudah tidak serumah lagi. Ia tidak mengerti mengapa Papanya harus tinggal di tempat yang berbeda? Mengapa Papanya menangis ketika memeluknya dan mengatakan jika Papa akan sering main ke rumah, padahal mereka dulu tinggal dalam atap yang sama. Ia tidak mengerti akan semua itu, orang dewasa terlalu sulit dan rumit untuk dipahami.


Sampai satu ketika, di samping Papanya hadir seorang wanita yang berusaha menggendongnya. Ia akhirnya tahu penyebab kedua orangtuanya berpisah. Marah, tentu! Kecewa, pasti! Tapi apa yang bisa ia lakukan dengan tubuh yang masih kecil itu. Lambat laun setelah ia beranjak dewasa, dengan penuh kasih Mamanya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangganya.


Ia mulai dapat melihat dari sisi yang berbeda. Kemarahan dan kekecewaan itu luntur seiringnya waktu. Berganti kebahagiaan dengan keluarga barunya, terlebih ia melihat bahwa wanita yang di samping Papanya itu sangat baik. Mamanya pun menerima dengan tangan terbuka, lalu untuk apa ia masih harus bergelung dengan amarah sedangkan ada kebahagiaan yang bisa ia rasakan.


Maura memeluk tubuh Niki dan membisikan kata demi kata yang bisa ia sampaikan.


"Niki, terkadang kita tidak dapat bisa melihat terang sebelum dapat melewati kegelapan. Tak selamanya apa yang dipandang buruk oleh dunia itu jahat yang sebenarnya. Mereka yang mengecammu, hanya tahu label yang disematkan selama ini tanpa mau tahu alasan dan latar belakangnya."


"Aku tidak mengatakan apa yang kamu lakukan ini benar, tapi aku tidak berhak mengatakan kamu jahat tanpa aku tahu keseluruhan ceritanya. Jadi, kamu mau menceritakan kenapa kamu bisa punya pikiran ingin menikahi dosenmu itu. Secinta apa sih kamu sama dia?" Maura mengambil posisi siap mendengarkan cerita Niki.


Mendengar pertanyaan Maura tentang seberapa besar cintanya untuk dosen yang menjadi suaminya sekarang, bibir Niki tersenyum. Ia menyusut air matanya dan bercerita, dimulai saat pertama Farel melangkahkan kaki masuk ke dalam kampus dan berakhir di pelaminan dadakan. Tak lupa ia menceritakan keberadaan Marisa dan calon bayinya sampai penolakan yang dilakukan Farel terhadap dirinya.

__ADS_1


"Jadi kamu dan mantan istrinya sekarang tinggal serumah?" Mata Maura membesar, "Kesabaranmu luar biasa, Nik. Kalau aku jadi kamu, cabik-cabik wajah perempuan itu." Maura mengepalkan kedua tangannya.


"Aku bisa apa, Kak. Mas Farel mungkin terlalu mencintai mantan istrinya."


"Menurutmu apa dia tidak mencintaimu?"


"Sepertinya tidak, 'kan aku yang ajak nikah. Sudah pakai baju setengah telanjang, dia juga ga tertarik tuh."


"Iiih, nakal ya kamu." Maura mencubit hidung Niki gemas.


"Mau gimana lagi, aku sudah seperti wanita murahan di matanya," ujar Niki kembali sedih.


"Mmm, aku tidak bisa mengambil kesimpulan sebelum melihat bagaimana dia memperlakukanmu, bagaimana dia menatapmu dan sebagainya. Walaupun aku belum punya pasangan, tapi setidaknya aku lebih berpengalaman dari kamu," ucap Maura sombong.


Keduanya tiba-tiba terdiam ketika mendengar suara asing di lantai bawah.


Niki mendahului langkah Maura ke arah pintu kamar. Ia membuka sedikit dan mengintip dari celah pintu.


"Mas Farel," desis Niki tak percaya.


"Itu suamimu?" Kepala Maura muncul ikut mengintip di atas Niki.


"Ya, kok di sini sih."


"Waah, pinter cari suami kamu. Matang dan tampan." Maura tertawa menggoda Niki.


"Iiih, Kak Maura itu suamiku." Niki berdiri dan mencubit Maura secara brutal. Keduanya tertawa hingga lupa menutup pintu kamar.

__ADS_1


"Eh, kalian kok masih diatas. Ayo turun, Niki lihat siapa yang datang," seru Mama Maura dari bawah tangga. Farel mendongak ke atas dan mata mereka bertemu. Ujung bibir Farel tertarik keatas membentuk lengkungan sempurna.


"Ciieeeee." Wajahnya memerah membuat Maura semakin semangat menggodanya.


"Kak Maura!" Dengan cepat Niki menutup pintu kamar yang terbuka tanpa sengaja, "Gimana ini, mukakku belel banget." Niki lari ke arah meja rias dan terkejut melihat kondisi wajahnya.


"Mandi buruan, kamu harus lebih cantik dari mantan istrinya." Maura menarik tangan Niki dan mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi.


"Nikiiii ...." Suara Mama Maura kembali terdengar.


"Bentar Maaa, masih mandi dia," seru Maura sembari membuka pintu sedikit.


Empat orang dewasa di bawah menggelengkan kepala dan kembali menaruh perhatian pada pria yang duduk tertunduk di hadapan mereka.


"Kakak ngapain?" Begitu membuka pintu kamar mandi, Niki terkejut melihat hampir separuh isi lemari Maura keluar dan terhambur di atas ranjang.


"Udaah ga usah banyak tanya. Duduk sini." Maura menarik tangan Niki dan memaksanya duduk di depan meja rias, "Niki, membuat pria bertekuk lutut itu ada seninya. Seperti layangan, tarik ulur itu perlu. Pria selalu suka dengan tantangan dan rasa penasaran mereka sangat tinggi. Jadi mulai malam ini, mainkan layang-layangmu," bisik Maura.


...❤️🤍...


Haii kali ini mau kenalkan karya kedua aku, sudah tamat juga judulnya : Ternyata itu Cinta mampir ya buat yang belum baca, ceritanya ringan seputar anak ABG tapi ga bikin bosen kok 😁


Cinta itu tidak punya mata, mulut dan juga telinga yang dia punya hanyalah hati. Tidak perlu mata, mulut dan telinga untuk tahu arti Cinta, tapi jika kamu ingin tahu apakah itu benar Cinta, coba tanyakan hatimu – Langit Angkasa


Aku tidak tahu dan tidak kenal apa itu Cinta, tapi aku nyaman dekat denganmu dan tidak mau kaamu menjauh. Apakah itu yang dinamakan Cinta? - Gita Gempita


__ADS_1


__ADS_2