
"Rumah Sakit mana, Bu?" Niki lebih dulu merespon infornasi yang diberikan Bu Sari.
"Rumah sakit Bandono, Mba."
"Baik, terima kasih informasinya Bu Sari kami memang sedang mencari Marisa beberapa hari terakhir." Farel berusaha menenangkan Niki dengan memegang kedua bahunya. Istri kecilnya itu tanpa sadar sudah semakin maju hingga nembuat tetangganya merasa bingung tak nyaman.
Setelah memberikan informasi di mana Marisa berada, Bu Sari langsung pamit dan kembali ke rumahnya.
"Ayuk," ajak Niki. Ketika Bu Sari pamit tadi, ia langsung masuk ke dalam kamar berganti pakaian dan mengambil tasnya.
"Mau kemana?"
"Ke Rumah Sakit, Mas Farel tadi dengar sendiri kalau Mba Marisa ada di Rumah Sakit." Niki menarik tangan suaminya.
"Habiskan makanmu dulu." Farel menunjuk piring Niki yang baru berkurang dua sendok.
"Nanti saja, aku sudah kenyang." Niki bersikukuh seraya menarik lengan suaminya.
"Aku bilang habiskan makanmu dulu, Annikin!" gertak Farel, "Marisa kondisinya dalam keadaan baik, aku sudah pastikan tadi sama Bu Sari," ujar Farel dengan nada lembut. Ia mengarahkan Niki duduk kembali di kursinya.
Walaupun perut terasa penuh, Niki berusaha menghabiskan sisa makannya. Ia sempat terkejut dan gentar ketika suaminya bersuara keras. Selama Farel mengajar sebagai dosen sampai menikah dengannya, baru ini ia mendengar Farel menggertak dengan serius.
"Kalau makanmu tidak teratur, bisa-bisa kamu yang dirawat di Rumah Sakit. Lagian kenapa sampai panik seperti itu sih?"
"Ya jelas panik, orang kalau di rawat di Rumah Sakit berarti sedang tidak baik-baik saja."
"Aku tahu, tapi rasanya aneh melihat kamu begitu mempedulikan orang yang pernah menyakitimu." Farel mengusap rambut panjang Niki.
"Di dalam pikiranku hanya bayi yang ada di perut Mba Marisa, tapi bukan aku tak khawatir dengan keadaannya. Aku berharap dia baik-baik saja. Kalau soal Mba Marisa pernah menyakiti aku, tak perlu diingat lagi. Hidupnya jauh lebih menyedihkan sekarang, apa pantas aku juga menghukumnya?" Farel langsung menarik kepala Niki dan mengecupnya berulang kali. Ia tidak menyangka, mahasiswi manja yang menjadi biang masalah di kampus dan rumah tangganya dulu, sekarang menjelma menjadi wanita yang berpikiran dewasa.
__ADS_1
"Istriku kok cantik sekali malam ini." Farel tersenyum bangga.
"Yuk ke Rumah Sakit." Merasa amarah suaminya mengendur, Niki mencoba mengajak suaminya lagi, "Aku beneran sudah kenyang, nanti pulang dari Rumah Sakit mampir ke warung sate langganan. Aku pingin makan sate sama gulai di sana," bujuk Niki ketika mata Farel mengarah ke piringnya yang masih tersisa nasi dan lauknya.
"Ya sudah." Merasa percuma memaksa Niki menghabiskan makannya, Farel akhirnya mengalah.
Sesampainya di Rumah Sakit, Farel langsung ke bagian informasi untuk mencari keberadaan mantan istrinya. Begitu mendapat nomer kamar di mana Marisa dirawat, Farel dan Niki segera menuju bangsal yang ditunjukan oleh perawat.
Namun saat akan membuka pintu ruang rawat, mereka dikejutkan oleh seorang pria bertubuh tinggi dengan jaket hitam besar yang akan keluar dari ruang rawat Marisa.
"Farel," desis pria itu.
"Galih?" ucap Farel setelah memastikan pria di balik masker dan kacamata hitam itu kawannya sekaligus selingkuhan mantan istrinya dulu.
"Permisi, aku harus kembali pulang sekarang." Galih menurunkan penutup kepala serta menaikan maskernya lalu dengan cepat menyelinap keluar ruangan, tapi Farel dengan sigap menarik jaket Galih dan mendudukannya di bangku ruang tunggu.
"Kamu masuk dulu, aku masih ada perlu," ujar Farel pada istrinya yang terlihat kebingungan.
"Ada apa dengan Marisa?"
"Kamu masih perhatian rupanya." Galih terkekeh diantara kesulitan bernafasnya.
"Jangan sampai tangan dan kakiku melayang lalu mengakibatkan kamu menjadi pasien baru malam ini." Farel semakin mengeratkan cengkramannya di krah baju Galih.
"Marisa sempat pendarahan ... Lepaass, aku tidak bisa bernafassh." Galih mendorong tubuh Farel "Biarkan aku menjelaskan dulu." Ia memberikan kode pada Farel agar kawannya itu tak mendekatinya dulu.
"Marisa tiba-tiba datang ke rumah pagi itu. Ia berteriak di depan rumahku, Delilah memintaku untuk mengurus Marisa agar diam. Ia sendiri membawa anak-anak kami masuk ke dalam kamar, agar tidak ikut mendengar apa yang Marisa teriakan. Aku tahu istriku sangat kecewa dan marah, aku kira pernikahanku berakhir hari itu juga. Namun Delilah punya hati yang besar, ia tetap menerimaku meski aku telah mengakui kesalahanku."
"Aku tak ada waktu mendengar kau memuji istrimu, brengsek! Yang aku tanyakan bagaimana Marisa bisa ada di Rumah Sakit? Apa yang terjadi padanya?" Farel tak dapat menahan emosinya, ia kembali menarik krah baju Galih.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, kamu sekarang tidak sabaran." Galih kembali mendorong Farel menjauh, "Karena istriku tidak terpengaruh, Marisa sepertinya merasa gagal. Ia semakin histeris, lalu mengalami pendarahan. Karena aku tidak bisa meninggalkan Delilah sendirian bersama anak-anak setelah kejadian itu, aku meminta sopir dan pembantuku untuk membawa Marisa ke Rumah Sakit," papar Galih ringan.
Satu kepalan Farel mendarat di rahang Galih.
"Saakiit! Apa salahku?!" teriak Galih tak terima.
"Kamu masih bertanya apa salahmu? Salahmu adalah menjadi seorang bajingan. Kamu lebih pantas disebut binatang daripada manusia!" Farel mengarahkan telunjuknya ke wajah Galih.
"Setidaknya aku masih bertanggung jawab membawa dia ke rumah sakit dan membayar semua pengobatannya," ujar Galih membela diri.
"Setan!" Farel hendak melayangkan lagi kepalan tangannya, tapi tangan Galih lebih dulu menahannya.
"Kalau kamu masih cinta, nikahi lagi saja. Istrimu nampak akrab dengan Marisa, sepertinya tidak sulit menyatukan mereka." Galih kembali tertawa meremehkan.
Farel hampir saja kehilangan kendali, andai saja Niki tak segera keluar dari ruang rawat mungkin ia sudah membunuh Galih.
"Maaass ... Mba Marisaa ... Toloong," ucap Niki terbata. Farel segera masuk ke dalam kamar dan melihat kondisi Marisa, situasi ini dimanfaatkan Galih untuk kabur ketika perhatian Farel teralih.
Marisa tampak merintih kesakitan. Tubuhnya yang kurus semakin terlihat ringkih dan rapuh. Farel segera menekan tombol darurat yang ada di sisi ranjang pasien.
Tak berapa lama perawat serta dokter jaga masuk ke dalam ruangan. Farel dan Niki hanya menatap dari jauh ketika paramedis itu menjalankan tugasnya.
Dokter yang memeriksa Marisa berjalan mendekati mereka. Melihat wajahnya yang tegang, Farel bisa menduga ada hal yang kurang baik pada mantan istrinya itu.
"Ibu Marisa harus segera dioperasi malam ini, Pak. Detak jantung bayinya semakin lemah dan kondisi Ibu Marisa juga kurang baik. Apa anda keluarganya?"
"Iya, kami keluarganya," sahut Niki cepat.
"Baik, kami minta persetujuan keluarga untuk tindak operasi malam ini. Silahkan ke ruang administrasi sambil menunggu Dokter bedah dan kandungan bersiap."
__ADS_1
...❤️🤍...