Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Negosiasi


__ADS_3

"Makan dulu yuk." Niki menunjukan tangannya yang memegang nampan berisi sepiring nasi beserta lauknya dan segelas susu untuk wanita yang mengandung.


"Taruh aja di meja, nanti aku makan."


Marisa kembali akan menutup pintu kamarnya, tapi kaki dan tangan Niki lebih dulu menahan agar pintu itu jangan tertutup dulu, "Jangan nanti-nanti, sekarang aja," paksa Niki.


"Kamu tuh cerewet sekali! Kenapa sih suka sekali ngurusin hidup orang lain. Sana, kamu urus aja suamimu itu!" sentak Marisa dengan mata melotot.


"Aku cuman bawakan makan untuk bayi, Mba Marisa. Kalau Mas Farel sih sudah gede, dia kalau lapar bisa cari makan sendiri, tapi yang diperut Mba Marisa belum bisa keluar cari makan."


"Siniin, bawel!" Marisa membuka pintu lalu mengambil nampan dan menaruhnya di atas meja. Kelengahan Marisa serta pintu yang terbuka lebar, dimanfaatkan Niki untuk segera menyelinap masuk dan duduk di tepi ranjang, "Ngapain kamu di sini, keluar!" Marisa memegang lengan Niki dan akan menariknya keluar dari kamar.


"Ga mau, aku harus pastikan makanan dan susu itu harus habis dulu." Niki bertahan di posisinya semula.


"Ngerepotin banget sih kamu!"


"Mba Marisa itu yang merepotkan kalau ga mau makan. Coba kalau tiba-tiba sakit, siapa yang bawa Mba Marisa ke rumah sakit, siapa yang jagain di rumah sakit kalau bukan aku? Ibu jelas ga mungkin karena sudah lanjut usia, kalau Mas Farel lebih tidak mungkin karena pasti aku larang deket-deket sama mantan istri."


"Yang bilang aku tidak mau makan itu siapa?"


"Ya sudah, ayo buktikan di habiskan makan sama susunya," tantang Niki.


"Cerewet!" Dengan menahan emosi, Marisa mengambil piring lalu mulai menyendokan nasi serta lauknya ke dalam mulut. Niki memandangnya dengan senyum merekah.


"Sudah kelihatan besar ya perutnya," celetuk Niki. Marisa mengunyah sembari menggerutu kesal disinggung perihal bentuk tubuhnya yang berubah. Tubuhnya yang kurus dan tinggi membuat kehamilannya tidak terlalu terlihat di awal.


"Kalau sudah lahir pasti ganteng atau cantik."


"Tahu dari mana kamu kalau dia cantik atau ganteng?" Marisa berdecih sinis.


"Mba Marisa 'kan cantik, tinggi kayak bule, pasti anaknya juga cantik atau ganteng."


"Kalau mirip Bapaknya gimana?"

__ADS_1


"Mas Galih ganteng ga?"


Ujung bibir Marisa terangkat sedikit, matanya menerawang seolah mengingat sesuatu, "Ganteng sekali," ucapnya lirih hampir tak terdengar, tapi sedetik kemudian ia seperti tersadar lalu kembali ketus, "Bajingan seperti dia ga ada bagusnya!"


Rasa marah yang meluap, membuat nafsu makan Marisa naik dua kali lipat. Ia makan dengan lahap seperti tidak akan merasakan makanan seenak itu lagi.


"Makan yang banyak ya, Mba biar bayinya sehat."


"Percuma ia sehat kalau nanti terbukti ini anaknya Galih, aku harus menggugurkannya." Marisa mengusap perutnya yang terlihat membuncit. Suaranya terdengar bergetar menahan rasa nyeri di dadanya.


"Pasti ada jalan lain."


"Aku malas memikirkan jalan lain, untuk mengurus hidupku saja aku belum yakin sanggup, apalagi harus ada dia." Marisa meringkas piring kotor serta gelas kosong ke atas nampan.


"Biar aku yang rawat, Mba boleh ga?"


"Kamu?" Tangan Marisa terhenti, ia menoleh ke arah istri mantan suaminya dengan tatapan tak percaya, "Tahu apa tentang bayi? Kamu masih kecil."


"Ada Ibu sama Mama aku yang bantu jaga, Mba Marisa ga usah khawatir."


"Mas Farel dulu 'kan memang Mba Marisa ga pedulikan, ya aku ambil. Kalau bayi itu mau Mba buang, ya aku ambil juga. Ga apa-apa kalau harus dibilang pemulung suka semua yang bekas, asal jangan bunuh bayi ini karena dia sekarang punyaku," ujar Niki tegas sembari mengusap perut Marisa.


Marisa hanya bisa diam tertegun melihat Niki yang keluar dari kamar dengan membawa nampan di tangannya.


Semenjak itu, Niki adalah orang yang paling cerewet tentang kondisi kesehatan Marisa dan kandungannya. Niki memperlakukan Marisa seperti wanita yang dipinjami rahimnya. Ia juga tak segan-segan mengusap dan berbicara dengan calon bayi Marisa yang masih ada di dalam perut.


Awalnya Marisa, Ibu serta Farel merasa risih dengan sikap dan perlakuan Niki, tapi lambat laun mereka sudah mulai terbiasa dengan polah tingkah wanita yang baru beranjak dewasa itu.


"Siapa?" tanya Niki ketika melihat wajah Marisa yang pucat setelah menerima telepon.


"Orang suruhan mertua Galih, mereka menanyakan kapan bisa dilakukan tes DNA."


Marisa merasa menyesal, dia yang meminta untuk di tes DNA sekarang dia pulalah yang tidak menginginkan hal itu lagi.

__ADS_1


"Mba Marisa sudah bilang kalau mau membatalkan menuntut tanggung jawab Galih?"


"Sudah, tapi mereka tetap memaksa, karena takut di waktu yang akan datang aku atau anak ini menuntut haknya."


"Keterlaluan, orang kaya tapi ga bisa beli otak!"


"Nikiiii!" Mata Farel menyipit memberi peringatan pada istri kecilnya itu.


"Emang benar, aku ga habis pikir sebegitu takutnya mereka dengan bayi yang belum lahir ini. Kasihan kamu, belum juga lahir sudah menghadapi dunia yang kejam." Niki mengusap-usap serta mengecup perut Marisa yang sudah semakin besar.


"A-aku ke kamar dulu." Marisa menggeser tubuh Niki lalu berdiri dan masuk ke dalam kamar.


"Ada yang aneh." Mata Niki mengikuti langkah Marisa hingga hilang di balik pintu kamar.


"Apa yang aneh? Kamu itu yang aneh sekarang." Farel menggeser duduknya merapat ke arah istrinya, "Pingin sekali punya bayi? Kenapa kita ga buat sendiri?" Farel melingkarkan tangannya di bahu Niki dan mulai mendekatkan wajahnya.


"Bisa bayangin ga, kalau aku hamil di saat anak Mba Marisa masih bayi. Siapa nanti yang rawat?" Niki melirik sebal.


"Buat anak 'kan ga harus langsung jadi." Farel tersenyum miring dengan tatapan lapar.


"Iiisshh, selalu waktunya ga pas." Niki menggerutu ketika dosennya itu menarik tangannya masuk ke dalam kamar, tapi ia tidak menolak. Beberapa waktu kemudian yang terdengar dari balik pintu coklat itu hanyalah gelak tawa dan desah yang saling bersahutan.


Pagi harinya, keduanya terbangun karena pintu kamar mereka di ketuk dengan keras.


"Fareeell, Nikiii, cepat bangun!" Suara Mama terdengar panik. Mereka yang belum sempat berpakaian setelah pertandingan tadi malam, sontak berebut mencari kain dan selimut untuk menutupi tubuh yang terbuka.


Farel menyambar celana boxernya, sedangkan Niki lari masuk ke dalam kamar mandi dengan tubuh polos.


"Ada apa, Ma?"


"Kamu lihat Marisa?"


"Baru juga bangun, kita belum ada yang keluar kamar pagi ini."

__ADS_1


"Marisa ga ada di kamarnya."


...❤️🤍...


__ADS_2