
"Niki." Farel memanggil dengan lirih. Lututnya lemas seakan tak mampu menompang berat tubuhnya.
"Apa?" Gadis sok lugu itu bertanya seolah tak melakukan hal yang salah.
"Kemari." Farel bergerak mendekati istri kecilnya yang sedang mengoleskan lotion di kaki dan tangannya. Wangi lembut yang meminta untuk di hirup, semakin mengundang kelelakian Farel.
"Mas Farel kenapa?" Niki mengernyit melihat tatapan mata suaminya yang nanar.
"Kemari." Farel duduk di tepi ranjang lalu menarik Niki dan memaksa duduk di pangkuannya.
"Kok gini sih." Niki hendak berdiri tapi tertahan karena pelukan Farel.
"Dari mana kamu belajar berciuman, hmm?" Farel berbisik di telinga Niki. Hembusan nafas dan suara Farel yang lembut membuat kuduk Niki meremang.
"Hal seperti itu ga perlu belajar kali." Niki semakin bergidik kala Farel mulai mengendus batang lehernya. Tubuhnya reflek menjauh, tapi lagi-lagi tertahan oleh pelukan suaminya yang semakin erat.
"Oh, ya? Kamu sudah mulai pintar, Niki." Suara Farel terbenam di antara ceruk leher Niki.
"Aku sekolah, jelas aku pintar, Mas! Geli, ah." Niki terpekik ketika suaminya menggigit kecil lehernya. Farel tertawa pelan, ia sudah terbuai dengan lembut dan keharuman tubuh Niki.
Saat Farel kembali akan menyesap lehernya, Niki menjauhkan badannya, "Misalkan benar kalau aku biasa menggoda laki-laki, Mas Farel ga merasa jijik?"
"Kamu ngomong apa sih? Aku kira kita sudah sepakat tadi, bahwa apa yang kita pikirkan masing-masing adalah salah paham."
"Aku cuman takut, Mas Farel masih berpikir aku wanita nakal."
"Kamu memang nakal."
"Tuhh, 'kaaan!" Niki berdiri dari pangkuan Farel, tapi suaminya itu menariknya kembali.
"Kamu memang Nakal, berani menggodaku dengan pakaian yang nyaris setengah telanjang dan tadi dengan ciuman yang menggoda. Kamu nakal sekali, Niki," ucap Farel.
"Tapi aku bukan wanita nakal seperti diluaran, aku hanya melakukan ini di depan Mas Farel," cicit Niki dengan suara bergetar. Ia tidak tahan disamakan dengan wanita penjaja tubuh di luar sana. Ia hanya menjajakan tubuh pada pasangan halalnya.
__ADS_1
"Benar? Memangnya kamu dengan Tomi masa tidak pernah bermesraan?" selidik Farel.
"Memang aku perempuan apaan? Aku dan Tomi tidak pernah ada hubungan selain teman. Apa aku harus berpelukan, berciuman dengan setiap teman pria?"
Farel tersenyum melihat Niki yang begitu emosional. Sebenarnya hati kecilnya pun menyangkal apa yang sudah ia katakan semalam. Ia sangat yakin istri kecilnya ini adalah gadis polos yang mencoba berlaku dewasa. Mungkin kemarin hatinya dibutakan oleh rasa cemburu.
"Aku penasaran, kamu sempat bilang kalau salah menilai perasaanmu. Kamu mencintai Tomi bukan aku, apa benar seperti itu?"
Niki menggelengkan kepalanya.
"Kamu benar-benar, Nakal Niki." Farel menggigit gemas pundak istrinya.
"Aku capek tunggu Mas Farel melihat aku, bukan Mba Marisa. Selama pernikahan kita, Mas Farel selalu mementingkan Mba Marisa. Aku tahu, di sini aku lah yang salah. Aku turut membuat kacau pernikahan Mas Farel dengan Mba Marisa, jadi aku tahu diri untuk mengalah dan bersabar menunggu Mas Farel melihatku sebagai istri. Tapi kalau Mas Farel tidak sanggup, aku tidak apa-apa. Berpisahpun aku sudah siap," papar Niki dengan air mata menggenang.
"Aku sudah melihatmu sejak awal kita menikah, Niki. Mungkin kamu yang terlalu sibuk dengan pikiran dan dugaanmu sendiri. Aku akui, tidak mudah menerimamu sebagai istri dengan cara seperti itu. Kamu tahu, tidak hanya kamu yang menuai hujatan atas keputusan kita. Aku juga disindir, dihina sampai disumpahin karena menceraikan Marisa dan menikahimu. Mereka menganggap aku memilihmu karena kamu masih muda dari pada Marisa. Mereka hanya bisa menilai tanpa tahu apa yang terjadi. Aku juga ga mungkin 'kan membuka aib keluargaku pada orang-orang yang hanya ingin tahu tapi sebenarnya tidak peduli." Farel menatap Niki mesra.
"Siapa yang menghujat Mas Farel?"
"Warga kampus." Farel terkekeh pelan.
"Dan membuat kamu semakin merasa bersalah lalu berhenti kuliah?"
"Sekarang aku sudah tahu, Mas Farel ga takut kalau aku ga mau meneruskan kuliah?"
"Kampus tidak hanya satu, lagipula kalau tidak mau selesaikan kuliah ya tidak apa-apa. Kamu cukup di rumah, biar aku yang mencari uang untuk kamu beli kosmetik, baju, nonton film dan lainnya."
Niki dan Farel tertawa bersama. Ketegangan di antara keduanya sudah mencair. Niki semakin menempel, lengannya melingkar di leher suaminya.
"Mas Farel masih sayang sama Mba Marisa?" Menanyakan hal ini sebenarnya membuat dirinya takut dengan jawaban yang akan diberikan Farel, tapi ia sudah lelah menduga-duga.
"Sayang itu relatif." Raut wajah Niki seketika muram, "Jangan salah sangka dulu. Sayang sebatas saudara dan peduli karena sesama, itu ada 'kan. Itulah yang sekarang aku rasakan pada Marisa sekarang."
"Aku tahu pikiranmu, aku sangat mengerti. Marisa mantan istriku, wanita yang pernah aku cintai. Wajar kalau kamu menaruh curiga, apalagi sekarang kita tinggal serumah. Aku kehabisan kata-kata untuk membuatmu yakin, kalau Marisa adalah masa lalu dan situasi ini aku jamin tidak lama." Farel mengusap rambut panjang Niki.
__ADS_1
"Kalau sama aku, Mas Farel sudah ada rasa sayang belum?"
"Cinta."
"Kenapa Mas Farel bohong?" Ujung bibir Niki mencebik kebawah. Ia berusaha menahan rasa untuk menangis.
"Bohong? Bagian mana yang aku tidak jujur sama kamu?"
"Tidak perlu mengatakan itu hanya untuk membuat aku senang."
"Kenapa kamu bilang seperti itu? Yang tahu perasaanku 'kan aku sendiri."
"Kenapa Mas Farel tidak pernah menyentuhku." Wajah Niki memanas menahan malu.
"Aku sudah sering menyentuhmu, lihat sekarang malah lebih dari sekedar menyentuh." Farel semakin merapatkan pelukannya.
"Bukan itu."
"Mmm, hubungan suami istri maksudmu?" Niki menunduk mencoba menyembunyikan pipinya yang bersemu merah.
"Nik, apa itu bagimu sebagai standart rasa cinta? Justru karena aku sangat sayang dan cinta, aku tidak ingin kamu semakin dijauhi oleh teman-temanmu karena ke kampus dengan perut besar."
"Kita bisa tunda kalau itu yang Mas Farel takutkan."
"Tunda pakai apa, memang kamu tahu? Farel mencubit gemas hidung istrinya, "Kontrasepsi seperti yang dikatakan Om mu? Aku tidak mau kalau kamu harus disuntik atau minum pil KB. Apa yang dikatakan Om mu itu benar."
"Cara yang lain 'kan juga ada. Pakai pengaman, dijual di minimarket banyak."
"Ga enak, kurang terasa." Farel berbisik tepat di telinga Niki, dan disambut dengan tawa dan tubuh yang menggeliat karena merasa geli, "Satu lagi, kalau harus pakai karet tiap berhubungan aku tidak yakin niat menunda punya anak akan berhasil."
"Kok bisa, kenapa?"
"Terlalu menikmati lupa pasang," sahut Farel cepat lalu membungkam mulut Niki yang sudah siap mengatakan sesuatu dengan bibirnya.
__ADS_1
...❤️🤍...