
Mama Farel membiarkan putranya tertidur seranjang bersamanya. Ia mengerti status pernikahan putra tunggalnya sekarang, yang tak memungkinkan mereka tidur di ranjang yang sama. Ia pandangi wajah yang dulu sempat beradu pendapat dengan papanya. Farel dulu dibutakan oleh cintanya pada Marisa, sampai menulikan telinga dan membutakan matanya sendiri atas kenyataan yang sudah jelas di depan matanya.
'Mama tahu apa yang kamu rasakan, tapi ini buah yang harus kamu tuai karena perbuatanmu. Belum terlambat, Farel. Maafkan Mama kalau harus membuatmu dalam posisi yang sulit, tapi ada satu nyawa yang harus kamu selamatkan. Mama tidak yakin Marisa mau merawat bahkan melahirkan anaknya dalam keadaan baik-baik saja jika ia dalam kondisi depresi, dan itu tanggung jawabmu sebagai seorang pria.' Mama mengusap kepala putranya dengan kasih.
Esok paginya saat Farel keluar dari kamar, ia kembali dikejutkan oleh tingkah laku Marisa yang tidak biasa. Rambut di gulung ke atas dengan pakaian daster, Marisa tampak memegang sapu dengan kaku.
"Hai, Farel aku semalam tungguin kamu rupanya kamu tidur di kamar mama. Kangen ya." Marisa mengembangkan senyum manis.
Farel mengerutkan keningnya mendengar nada suara Marisa yang lembut. Biasa yang terdengar di telinganya adalah suara ketus dengan nada yang tinggi. Ia melirik mamanya yang sedang menikmati secangkir teh hangat di dekat meja makan. Mamanya itu hanya membalas juga dengan sebuah lirikan tanpa arti.
"Kamu mau sarapan atau mandi dulu?" tanya Marisa.
"Aku mau mandi."
"Aku siapkan ya." Marisa meletakan sapu lalu mendahului Farel masuk ke dalam kamar.
"Biar aku sendiri, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu," ucap Farel datar. Ia menutup pintu kamar tepat di depan wajah Marisa.
Farel mengusap wajahnya dan menarik nafas lalu menghembuskannya dengan keras. Ia tahu situasinya kedepan akan semakin sulit. Ia harus menghadapi mamanya dan juga beban moral atas bayi yang dikandung Marisa. Ia sekarang sama sekali tidak peduli dengan mantan istrinya itu, yang ada dipikirannya sekarang adalah bagaimana agar bayi yang dikandung Marisa dapat lahir dengan selamat. Ia sangat tahu kondisi mental mantan istrinya itu, Marisa dapat dengan tega membuang bahkan membunuh janin yang ada di perutnya.
Farel mengambil ponselnya, ia memeriksa pesan yang masuk. Sebersit rasa kecewa dan geram muncul karena tak satu pun pesan dari istri kecilnya yang masuk. Farel menekan nomer Niki dan menghubungi gadis itu dengan video.
"Halo," sahut Niki dari seberang sana. Farel hanya bisa melihat langit-langit kamar dan beberapa helai rambutnya saja.
"Kamu ga kuliah, Niki?" tanya Farel lembut. Mendengar suara manja dan sedikir ketus istrinya itu sudah lebih dari cukup untuk mengobati kegundahan hatinya.
"Katanya sudah pegang semua jadwal kuliahku, kok masih tanya."
"Iya, belum sempat lihat. Mana wajahnya, apa aku harus ngobrol sama atap kamar kamu?" Farel tersenyum geli.
"Males, belum mandi."
"Ga apa-apa, kalau belum mandi baunya gak kecium sampai sini. Ayo, saya pingin lihat wajahmu aja, gak enak ngobrol lihat atap." Farel menahan tawanya saat kamera ponsel diarahkan ke wajah Niki tapi hanya separuh saja, "Pelit amat."
__ADS_1
"Bapak telpon mau apa sih?"
"Nanya kabar aja, boleh 'kan?"
"Kabarku baik, sudah?"
Tanpa sengaja kamera ponsel Niki terarah ke seluruh wajahnya. Farel melihat ada sesuatu yang berbeda dari wajah istri kecilnya itu.
"Matamu bengkak, kenapa?"
"Gak apa-apa." Niki mengarahkan kameranya lagi ke arah atap kamar dengan panik.
"Niki, kamu kenapa? Kamu habis nangis?" desak Farel.
"Aku gak apa-apa. Bapak mau tanya apa lagi?"
Suara Niki sudah mulai serak menahan tangis. Semalaman ia tidak bisa tidur karena prasangka buruk mengganggunya, tentang suami dan mantan istrinya sedang menghabiskan malam berdua. Begitu mendengar panggilan video masuk tadi, tangisnya kembali ingin meledak karena rasa rindu yang membuncah tapi tak bisa diungkapkan.
"Niki," panggil Farel lembut tapi tegas.
"Kamu nangis kenapa?"
"Aku gak nangis, ini bengkak karena baru bangun tidur."
Farel menarik nafas pelan, ia tahu Niki sedang menangis di seberang sana tapi ia tidak tahu mengapa istri kecilnya itu menangis. Ingin rasanya ada di dekat gadis itu, bertanya dan memeluknya.
"Ya sudah, kuliah nanti jam berapa?"
"Jam sepuluh," sahut Niki dengan suara yang benar-benar serak, "Bapak pulang kapan?" tanya Niki ragu, tapi ia benar-benar ingin tahu karena sangat rindu padahal baru semalam ia ditinggalkan. Apakah karena ada Marisa di dekat suaminya, sehingga rasa cemburunya begitu kuat?
"Secepatnya, Niki. Kamu di sana baik-baik ya, ingat pesan saya sebelum berangkat. Pulang sendiri, tidak perlu diantar siapapun apalagi Tomi."
"Iya."
__ADS_1
"Sebelum ditutup, coba kasih lihat wajahnya lagi," pinta Farel sedikit merayu. Farel tersenyum lebar ketika seluruh wajah Niki tampil di layar ponselnya. Mata dan hidung yang memerah menambah cantik alami istri kecilnya.
Keduanya tiba-tiba terkejut ketika wajah Marisa muncul di belakang Farel.
"Hai," sapa Marisa pada Niki, "Kamu belum mandi, Yang? Ini pakaian dalammu aku sudah siapkan," Marisa mengalihkan pandangannya ke arah Farel dan dengan sengaja menunjukkan pakaian dalam Farel ke arah ponsel yang masih tersambung.
"Apa-apaan sih kamu!" seru Farel geram. Ia semakin kesal begitu melihat layar ponselnya sudah gelap. Niki sudah memutuskan panggilan teleponmya secara sepihak.
"Kenapa? Aku cuman bantu menyiapkan pakaianmu. Apa aku salah?"
"Salah! Kamu bukan siapa-siapaku lagi, Echa. Jadi kamu tidak perlu menyiapkan kebutuhanku dan satu lagi biasakan ketuk pintu dulu sebelum masuk kamar jika ada aku di dalam."
"Kenapa? Kamu takut, mahasiswi penggodamu itu marah? Harusnya aku yang marah, karena dia sudah berani menggoda suami orang!"
"Berkacalah sebelum kamu mengatakan itu, Echa. Sekarang keluar!" Farel menunjuk ke arah pintu kamar.
"Kamu akan menyesal memperlakukan aku seperti ini, Farel. Aku bisa berubah, aku masih menginginkanmu." Marisa berjalan mendekati Farel.
"Jangan mendekat, keluar kataku!" usir Farel geram. Ia sangat khawatir dengan keadaan Niki sekarang.
Marisa mengalah, ia keluar dari kamar dan membanting pintu dengan kasar. Ia tak lagi mempedulikan keberadaan mantan mertuanya yang sedang mengamatinya.
Farel mencoba menghubungi istrinya kembali, tapi berkali-kali hanya suara operator yang menjawab. Dengan perasaan kesal, Farel masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur sekujur tubuhnya dengan air dingin.
"Fareeel ... Fareeeel!"
Di tengah kegiatan mandinya, gedoran di pintu kamar mandi dan suara teriakan mamanya membuat ia segera menyelesaikan mandinya.
"Ada apa?"
"Marisa di dapur ... dia berdarah!" Wajah Mamanya yang pucat dan suara yang bergetar seakan memberitahukannya bahwa keadaan mantan istrinya itu tidak baik-baik saja.
...❤️🤍...
__ADS_1
Haiii reader, mampir ke karya temanku yang ini yuk. Sudah pasti bagus nih yang aku rekomendasikan, masukan ke rak buku kalian ya 😘