
"Mas Farel ngomong apa sih?" Niki sudah lupa dengan posisi menggodanya. Ia menegakkan badannya dan membesarkan matanya. Sakit rasanya saat dosen sekaligus suaminya itu mengatakan ia terbiasa menggoda lelaki.
"Kamu terlihat tidak canggung menggunakan pakaian semacam ini, Niki. Tidak pernah seorang pun wanita berpakaian seperti ini di hadapanku termasuk Marisa."
"Jadi maksud Mas Farel, Marisa jauh lebih baik dan terhormat dari pada aku?" Niki berdiri dari ranjang.
Ia mendorong suaminya ke arah samping dan berjalan ke arah lemari. Hatinya merasa tertusuk dibandingkan dengan wanita macam Marisa yang sudah jelas telah melakukan perbuatan yang tidak pantas.
"Aku tidak berkata seperti itu, mungkin kamu saja yang merasa," ucap Farel masih dengan nada melecehkan.
Niki menggeretakan rahangnya. Ia dipuncak kemarahan dan rasa kecewanya. Sia-sia sudah ia berusaha selama ini, ternyata hanya dipandang sebelah mata oleh suaminya. Ia sadar, kesalahan yang pernah ia lakukan dulu mungkin tak akan pernah terhapuskan dari benak suaminya.
Niki membuka lemari pakaian lalu mengambil baju tidur yang biasa ia kenakan, "Mungkin Pak Farel benar, aku tidak lebih baik dari mantan istri tercinta yang sedang mengandung anak orang lain itu," ucap Niki dengan suara bergetar masih dengan posisi membelakangi suaminya.
"Nik---"
"Aku di mata Mas Farel mungkin seperti wanita nakal yang suka menggoda laki-laki, sama seperti dulu saat aku berbohong di kampus. Mas Farel tentu tidak akan lupa itu 'kan? Mau aku berpakaian tertutup seperti apapun, tetap sama di mata Mas Farel. Jadi aku akan bersikap seperti yang ada di pikiran Mas Farel." Niki membalikan badan dan tersenyum. Senyum lebar dengan mata yang mengguratkan rasa kecewa.
"Apa maksudmu?"
"Ya begitulah maksudku." Niki mengenakan piyamanya tanpa membuka pakaian minimnya, "Hoaaam, aku ngantuk. Besok ada janjian pagi, aku tidur duluan ya. Malam, Mas." Niki naik ke atas ranjang lalu memejamkan mata.
Farel masih berdiri mematung tak bergerak dari posisinya semula. Ia tidak kuasa bertanya lebih lanjut apa yang dimaksudkan oleh istrinya tadi. Mengapa ia merasa ada yang salah dengan pikirannya?
Farel lalu naik ke atas ranjang dan berbaring di sisi istrinya yang sudah memunggunginya. Cukup lama ia memandangi punggung Niki tanpa berkata apapun. Hilang sudah rasa angkuhnya saat menegur Niki tadi.
"Nik." Farel menyentuh punggung istrinya hanya untuk sekedar memastikan apakah Niki sudah benar tertidur. Tak ada pergerakan dari istrinya yang terdengar hanyalah deru nafas pelan yang teratur.
Merasa istrinya sudah tertidur pulas, Farel pun memejamkan matanya dan mulai terlelap. Saat sudah mulai pulas, ia merasakan sisi pembaringannya bergerak halus. Suara langkah kaki dan pintu kamar mandi yang terkunci membuatnya terbangun.
Tak ada Niki di sisinya saat ia membuka mata. Suara air mengalir dari dalam kamar mandi menandakan jika istrinya ada di sana. Ketika ia ingin kembali memejamkan mata, suara tangisan terdengar dari dalam kamar mandi saling beriringan dengan air yang mengalir.
__ADS_1
Farel menajamkan pendengarannya. Ia memastikan apa yang ia dengar tidak salah. Suara tangisan tertahan itu lamat-lamat semakin keras menandingi air yang mengucur. Tangisan itu semakin pilu, Farel bangun dan mendekati pintu kamar mandi. Tangannya sudah terangkat akan mengetuk pintu, tapi urung karena malu teringat betapa kejam mulutnya tadi.
Suara air dimatikan, Farel bergegas kembali berbaring di ranjang dan berpura-pura masih terlelap. Dari sudut matanya yang mengintip, ia dapat melihat wajah Niki yang sembab.
Farel tak berani bergerak apalagi bertanya pada Niki, mengapa istri kecilnya itu menangis. Ia hanya mampu memandangi punggung ringkih milik Niki hingga gadis itu kembali tertidur.
Pagi harinya Farel terkejut ketika menyadari jika hari sudah sangat siang. Hampir semalaman ia tidak dapat kembali tidur hanya karena mengawasi Niki. Sisi ranjang tempat istrinya sudah rapi dan dingin, menandakan Niki sudah sejak tadi terbangun.
Tanpa mandi terlebih dulu, Farel langsung turun ke lantai satu mencari istrinya. Ia sangat khawatir dengan kondisi Niki.
"Kamu ga ngajar hari ini, Farel. Kok belum mandi?" tanya Mamanya yang sedang duduk menikmati teh hangatnya.
"Nanti siang," sahut Farel singkat. Ia berjalan kesana kemari mencari sosok istri kecilnya.
"Kamu cari siapa?" tanya Mama
"Cari Niki lah, Ma. Di mana dia?"
"Di rumah ini ada dua wanita, ya siapa tahu yang kamu cari Marisa," ucap Mama tersenyum mengejek.
"Istrimu keluar ke warung depan, tiba-tiba pingin makan nasi pecel katanya. Apa jangan-jangan hamil," ucap Mamanya kembali menggoda.
"Hamil?"
Mana mungkin hamil, menyentuh saja belum. Ada-ada aja Mama ini. Batin Farel seraya menggelengkan kepala.
Dengan pakaian tidurnya ia menunggu istrinya di depan rumah. Dari kejauhan Niki tampak melenggang menikmati udara pagi dengan sebuah kantung plastik yang mengayun di tangannya. Senyumnya terkembang sepanjang perjalanan membuat Farel ikut tersenyum. Namun begitu Niki melihat suaminya berdiri memandangnya di depan pintu, sontak senyum itu menghilang.
"Dari mana, Nik?" tanya Farel lembut. Ia sempat terkejut melihat reaksi wajah Niki yang langsung berubah begitu mereka bertatapan tadi Harapan senyum mereka saling bertaut sirna sudah.
Niki tak menjawab, ia hanya mengangkat plastik di tangannya, menunjukan apa yang ia beli lalu berjalan terus melewati suaminya.
__ADS_1
"Pecel ya, kata mama kamu tiba-tiba pingin makan pecel. Nasi pecel di warung depan memang enak, aku dibelikan juga ga?" Farel mengikuti langkah Niki masuk ke dalam rumah.
"Aku beli bukan hanya untuk makan sendiri, kalau Mas Farel mau silahkan aja," ucap Niki datar seraya menyusun lauk dan sayuran di atas meja, "Ma, makan." Niki memanggil mama mertuanya dengan nada ramah.
Farel mengusap tengkuknya menutupi rasa bersalahnya. Ia menyadari cara berbicara Niki padanya dengan ke mamanya jauh berbeda.
"Aku boleh minta juga?" Marisa mengusap perutnya dengan wajah malu.
"Semua yang ada di atas meja makan, milik bersama. Siapapun boleh makan, tak ada yang melarang," ucap Niki sembari tersenyum. Farel tertegun, bahkan dengan Marisa pun istrinya dapat tersenyum ramah. Rupanya kejadian semalam sangat melukai hati Niki.
"Ada kelas?" tanya Farel berbasa-basi ketika mereka selesai sarapan dan sudah berada di dalam kamar.
"Ga ada, katanya sudah tahu semua jadwalku kenapa masih tanya," ucap Niki sembari mencari pakaian di dalam lemari.
"Aku tahu, makanya aku tanya karena kamu sepertinya lagi bersiap-siap mau pergi."
"Pergi 'kan ga harus ke kampus."
"Mau kemana?"
"Jalan."
"Sama siapa?"
"Teman."
"Teman siapa?"
"Teman yang bisa membuatku nyaman dan merasa dihargai." ucap Niki santai seraya masuk ke dalam kamar mandi dengan baju ganti ditangannya.
...❤️🤍...
__ADS_1
Bawa bacaan untuk akhir tahun kamu nih, mampir ke karya temanku ini yaa