Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
NAPD 35


__ADS_3

Tangan Niki berhenti menggosok piring mendengar pertanyaan suami sekaligus dosennya itu. Tak ada kelanjutan kalimat dari Farel, Niki kembali menekuni pekerjaannya tanpa menoleh ke arah belakang.


"Niki, aku bertanya padamu."


Niki menarik nafas panjang, ia membasuh tangannya lalu berbalik dan bersandar pada meja cuci piring. Ia menatap lelah pada suaminya yang berdiri menanti reaksinya.


"Pak Farel tanya apa?"


"Apakah kamu mencintaiku?" tanya Farel lirih setelah sebelumnya kesulitan menelan salivanya sendiri. Mengapa tadi pertanyaan itu begitu lancar keluar dari bibirnya. Tapi saat akan mengulanginya kembali, rasanya begitu memalukan bertanya seperti itu pada gadis muda dihadapannya itu.


"Pak Farel sendiri ... Apa sudah bisa mencintaiku?" Niki balik bertanya. Ia menatap suaminya dengan pasrah dan menerima apapun jawabannya.


Farel terdiam, ia tidak menyangka Niki akan membalikan pertanyaan itu padanya. Apakah ia mencintai istrinya sekarang? Ia pun tidak tahu. Ia belum memperdalam perasaannya pada Niki. Hari-hari belakangan ini hidup dan pikirannya tersita oleh masalah dan bayang-bayang Marisa.


"Apa yang kamu tanyakan, Niki?" Farel menutupi kegugupannya dengan tawa yang kering, "Aku menyayangimu."


Niki menganggukan kepala pelan. Ungkapan rasa sayang yang baru diutarakan suaminya terdengar seperti ungkapan sayang orangtua pada anaknya.


"Terima kasih. Untuk pertanyaan Bapak tadi, apa perlu saya jawab?"


"Kalau kamu tidak keberatan."


"Sepertinya Bapak lupa dengan apa yang saya katakan semalam?"


"Te-tentang apa?" Dalam hati Farel berharap apa yang dimaksud Niki bukanlah yang ia khawatirkan.


"Saya mengagumi Bapak."


Raut wajah Farel meredup. Ia menyesali pertanyaannya yang memancing ke arah pembicaraan ini.


"Jadi saya salah? Jadi pernikahan ini salah?"


"Maaf." Niki tertunduk takut. Dihadapannya ini adalah suaminya, tapi auranya mendadak berubah menjadi seorang dosen yang killer.


"Kamu mempermainkan saya, Niki?"


"Maaf."

__ADS_1


"Kamu tahu, gara-gara kamu pernikahan saya dengan Marisa berantakan!" Farel meluapkan kekesalan dan emosi yang beberapa hari ini ia coba pendam sendiri.


"Seharusnya saya tidak menuruti permainan konyol bocah seperti kamu!"


"Anak yang belum dewasa seperti kamu, tidak tahu arti sakralnya sebuah pernikahan."


"Kalau saja saya tidak terjebak oleh permainanmu, mungkin hubungan kami masih baik-baik saja."


Farel terus mencercanya tanpa ampun. Apa yang keluar dari mulutnya, tak lagi ia pikirkan dan saring. Dadanya sesak oleh rasa cemburu yang dia sendiri tak menyadarinya.


Niki mengangkat kepalanya saat suaminya itu mengatakan andaikata ia tidak terjebak oleh permainannya, pernikahan Farel dan Marisa akan baik-baik saja.


"Bapak yakin mengatakan itu? Pak Farel melihat sendiri, Mba Marisa berada dalam kamar hanya berduaan dengan seorang pria. Saya tidak pernah meminta Bapak menceraikan Mba Marisa, Pak Farel sendiri yang mengucapkannya. Apakah Bapak sadar saat itu?" tantang Niki masih dengan nada yang pelan. Ia berusaha menahan sakit dan emosi yang semakin menghimpit dadanya.


"Di-dia marah karena aku mengkhianatinya. Wanita mana yang tidak marah jika mengetahui suaminya menikah lagi. Dan itu semua gara-gara kamu!" Farel tanpa sadar sudah membelokkan cerita yang sesungguhnya. Egonya sebagai seorang tenaga pendidik tidak mau terlihat lemah di depan mahasiswinya.


"Jadi ... Semua karena saya? Saya yang sudah menghancurkan pernikahan Bapak?" Suara Niki mulai bergetar. Apa yang keluar dari mulutnya seiring dengan rasa bersalah dalam hatinya.


Ia tahu dan sangat paham kalau apa yang sudah ia lakukan beberapa bulan yang lalu adalah perbuatan yang salah dan tidak dapat dibenarkan dalam segi apapun. Harusnya dulu ia bisa menahan diri untuk tidak bertindak gegabah. Sekarang rupanya ia sedang menuai buah atas tindakannya.


Ingin ia mengatakan bahwa pernikahannya dengan Marisa, memang sudah hancur sejak ia mengucapkan janji di depan penghulu. Namun yang keluar dari bibirnya, tetap menjadikan Niki sebagai kambing hitam.


"Bapak bisa kembali padanya, aku yakin Mba Marisa dapat menerima dengan tangan terbuka."


"Kamu kira semudah itu? Pernikahan bukan mainan, Niki!"


"Lalu apa yang Bapak inginkan dari saya?!" Niki balas berteriak. Air matanya sudah jatuh tak tertahankan lagi. Farel terdiam, ia tak sanggup menjawab lagi, karena sejak awal perdebatan semua yang ia katakan adalah bohong.


"Saya tidak akan menahan Pak Farel untuk kembali pada Mba Marisa, kalau perlu saya akan menemani Bapak menemui dan menjelaskan semua kesalahpahaman ini. Bapak bisa menceraikan saya sekarang atau nanti di depan Mba Marisa," ujar Niki lantang sembari menghapus air matanya.


"Tunggu saya selesai mencuci piring ini, setelah itu kita ke rumah Mba Marisa," ujar Niki seraya berbalik kembali. Ia membiarkan air matanya terus berjatuhan selama mencuci piring.


Farel tak sanggup berkata-kata lagi. Ia hanya terdiam memandangi punggung Niki dari arah belakang. Nasi sudah menjadi bubur, kalimat tuduhan yang menyakiti telah ia ucapkan. Entah bagaimana hancurnya perasaan Niki sekarang ia tidak bisa membayangkan.


Farel menggelengkan kepalanya keras. Ia mencoba bertahan dengan pendirian sebelumnya. Semua memang salah Niki, andaikan tidak terjadi kesalahpahaman mungkin ia masih menjadi pria bodoh dalam rumah tangganya.


'Tapi bukankah itu yang kamu inginkan, Farel? Kamu terlihat menikmati peranmu sebagai pria bodoh yang hanya dijadikan tempat persinggahan bagi Marisa.'

__ADS_1


'Marisa bukanlah istrimu, Farel. Wanita di depanmu sekarang yang menjadi istrimu. Dia masa depanmu, Marisa tidak bisa kau harapkan lagi. Selamanya kamu akan menjadi yang kedua setelah Galih!'


Perang batin berkecamuk dalam kepala Farel. Saling menyalahkan dan membenarkan sesuatu yang ia sendiri sebenarnya sudah tahu kebenarannya.


"Saya sudah siap." Farel mengangkat wajahnya. Niki sedang menatapnya dengan tatapan datar.


'Dia tidak mencintaimu, tapi Tomi!'


"Masuk."


"Heh? Masuk kemana?"


"Masuk ke kamar." Farel berdiri dan menunjuk pintu kamar mereka berdua.


"Bukannya kita mau ke rumah Mba Marisa?"


"Saya bilang masuk ke kamar sekarang, Niki!" hardik Farel tak sabar.


"Saya ga mau. Saya kemari karena katanya kita akan membahas sesuatu, bukannya untuk tinggal di sini!" Niki bersikeras mempertahankan posisinya saat Farel menarik lengannya.


"Kenapa kamu keras kepala sekali!" Farel menggeram kesal.


"Kalau tidak ada yang Bapak ingin katakan, saya mau pulang." Niki berjalan ke arah pintu apartment.


"Niki! Ini rumahmu tempat kamu pulang. Saya tidak akan mengulang, cepat masuk ke kamar sekarang!"


"Bapak memerintah saya sebagai apa? Dosen? ini bukan kampus, Pak. Apa sebagai suami? Tapi saya tidak pernah merasa sebagai istri."


"Saya memerintahmu sebagai suami, Niki. Jangan membantah!"


Keduanya saling bertatapan tajam. Kali ini Niki tidak mau mengalah, perkataan suaminya tadi terlalu menyakitkan baginya.


"Kemarikan!" Ponsel Niki berdering, begitu ia akan mengangkat Farel sudah lebih dulu menyambar dan membaca nama orang yang menghubungi istrinya.


Saat membaca nama Tomi di sana, hati Farel kembali meradang.


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2