Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Mengejar


__ADS_3

"Udaaah." Niki mendorong suaminya ke arah sisi ranjang. Seluruh bagian wajahnya sudah penuh dengan bekas bibir Farel. Suaminya itu seperti tidak mengijinkan ia untuk beristirahat sejenak, "Aku ngantuk." Niki memiringkan tubuhnya memunggungi Farel. Sekujur tubuhnya yang pegal dan mata yang berat karena kurang tidur, membuatnya ingin memejamkan matas sejenak.


"Sudah siang, Sayang." Farel kembali merengkuh tubuh istrinya dari belakang.


"Aku ga ada kelas, mau tidur dulu." Niki semakin erat memeluk gulingnya. Ia bertahan di posisinya ketika Farel berusaha membuatnya kembali terlentang.


"Jangan langsung tidur, badannya dibersihkan dulu yuk." Farel tetap memaksanya, malah sekarang pria itu mulai mengangkat tubuhnya dan membawanya ke kamar mandi.


"Ngantuuukk." Niki duduk berjongkok dengan mata masih tertutup di bawah shower yang mengucur. Sementara suaminya tak peduli tetap membasahi rambut dan badan Niki dengan air dan sabun.


"Ayo, Nik berdiri." Farel mengangkat lengan istrinya dan membantunya agar dapat disabuni hingga ke ujung kaki. Ketika jari Farel menyentuh area intimnya, Niki melirik tajam ke arah suaminya, "Apa? Aku cuman bersihkan aja," dalih Farel, tapi hembusan nafasnya yang semakin cepat tidak dapat ia tutupi.


"Jangan terlalu lama di situ." Niki menepis tangan suaminya saat gelenyar aneh kembali menghampirinya. Senyum nakal menghiasi bibir Farel, ia merasa senang dapat menguasai hasrat istri kecilnya.


Setelah selesai mandi, Niki kembali merangkak naik ke atas ranjang.


"Hei, hei, heii jangan tidur lagi. Cepat ganti bajumu kita sarapan lalu ikut aku pergi." Farel menarik tangan Niki sebelum istrinya itu masuk ke dalam selimut.


"Aku belum lapar, aku ngantuk mau tidur ga mau kemana-mana."Niki bersikeras dan memaksa naik ke atas ranjang.


"Ayolah Sayang, berdiri. Kalau kamu ngotot mau tidur lagi, aku tidak akan biarkan kamu tidur nyenyak siang ini." Farel menyeringai penuh arti. Ia berpura-pura akan membuka reseleting celana panjangnya.


"Mas Farel! Iiiihhh!" Dengan gemas Niki kembali berdiri dan menghentakan kakinya kesal.


Setelah dengan penuh pemaksaan, Niki mengganti dasternya dengan dress hijau muda pilihan suaminya. Keduanya turun beriringan dengan diiringi senyum merekah di bibir Farel.


"Mama ga sarapan?" sapa Farel pada Mamanya yang duduk menonton televisi ditemani oleh Marisa.


"Harusnya Mama yang tanya, kamu kenapa ga sarapan? Ini sudah jam sepuluh, sudah bukan sarapan lagi tapi makan menjelang siang."

__ADS_1


"Ow." Farel hanya menjawab singkat dengan senyum lebar di wajahnya. Hanya dengan itu, Mamanya sudah mengerti apa yang sudah terjadi di antara anak dan menantunya.


"Niki kenapa cemberut, Sayang?"


Sebelum menjawab, Niki melirik dulu ke arah suaminya. Pria itu tak ingin membantunya menjawab, senyum lebarnya juga masih belum hilang dari wajahnya.


"Ngantuk, Ma."


"Masih pagi kok ngantuk."


Senyum Farel semakin lebar mendengar tanggapan Mamanya yang menggoda istrinya. Ia mengacuhkan senyuman sinis dan decihan iri dari sang mantan istri.


"Kalian mau kemana?" tanya Mama.


"Ke kampus."


"Aku ga ada kelas hari ini, ngapain aku harus ikut ke kampus?"


"Aku bisa kerjakan di rumah."


"Tidak, baru saja kamu bilang ngantuk sudah pasti akan kembali tidur setelah aku berangkat."


"Salah siapa juga yang bikin aku kurang tidur," gerutu Niki.


"Kita sama-sama kurang tidur, kenapa hanya kamu yang ngantuk. Seharusnya aku juga ngantuk, apalagi yang banyak gerak juga aku, kamu cuman ah ih uh aja."


Keduanya terus saling mengejek dan menggoda sambil berbisik. Meski tidak dapat mendengar jelas apa yang pasangan suami istri itu perbincangkan, Mama dan Marisa yang duduk di ruang tamu sudah mengerti dari raut wajah keduanya.


Marisa melempar remote televisi ke atas meja dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Di sana, ia menumpahkan air mata penyesalan yang tak ada habisnya. Marisa memukul-mukul perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit. Rasa cemburu, iri hati melihat tatapan mesra mantan suaminya kepada wanita yang menggantikan posisinya sangat menyakiti hatinya.

__ADS_1


Suara tangis dan benda berjatuhan di dalam kamar, menarik perhatian tiga orang lainnya di lantai bawah. Ketika Farel berdiri hendak melihat apa yang sedang terjadi, Mama menahan langkah putranya.


"Pergilah kalian berdua, ini sudah bukan urusanmu lagi. Biar Mama yang atasi, kalau ada apa-apa Mama pasti akan segera menghubungi kamu."


"Mas, aku di rumah aja temani Mama."


Farel bergantian antara menatap dua wanita yang dikasihinya dan wanita yang berada di balik pintu kamar. Ia menarik nafas berat berada di antara situasi yang rumit.


"Baiklah, tapi janji jangan ikut campur dan terlalu dekat dengan dia. Kamu cukup mengawasi dari jauh, kalau butuh bantuan panggil Nur jangan kamu turun tangan sendiri." Pesan Farel. Ia semata-mata mengijinkan istrinya untuk tetap tinggal di rumah karena kondisi Mamanya yang tidak memungkinkan untuk menghadapi Marisa sendirian yang tiba-tiba bisa mengamuk.


"Iyaaa, sudah berangkat sana." Niki mendorong punggung Farel ke arah pintu keluar.


Pagi ini ia hanya mengisi mata kuliah selama dua jam berturut-turut, tadinya ia ingin mengajak Niki nonton setelah mengajar tapi rencananya berubah setelah melihat situasi Marisa tadi pagi.


Begitu kelas berakhir, Farel langsung mengarahkan kemudinya ke arah sebuah gedung bertingkat di pusat kota. Begitu penjaga keamanan mengenali wajahnya, Farel langsung ditolak sebelum kakinya menginjak lantai lobby gedung itu.


"Panggilkan Pak Galih, sebelum aku buat kekacauan di kantor ini," ancam Farel.


"Pak Galih sedang di luar negeri, Pak." Penjaga keamanan bertubuh besar menghadang langkah Farel.


"Haruskah aku berteriak minta bantuan untuk ditemukan dengan atasanmu, pada tamu yang baru datang itu?" Farel menunjuk ke arah beberapa orang diantaranya berwarga negara asing yang baru saja turun dari mobil, "Sepertinya mereka tamu penting, bayangkan jika bos besarmu mengalami kerugian karena tamu penting itu menilai performa kantor ini buruk? Dan itu semua gara-gara kamu yang tidak mau mempertemukan saya dengan Pak Galih."


Bukan tanpa alasan Farel berani bicara demikian, karena yang disebut Bos besar tadi adalah Pak Guntoro mertua Galih sebagai pemilik perusahaan satu-satunya. Sedangkan Galih menyadang jabatan sebagai Direktur hanya karena menikahi putri tunggal pemilik perusahaan.


Penjaga keamanan itu memberi kode pada kawannya untuk menghubungi seseorang. Tak berapa lama, Farel diperbolehkan masuk ke menemui sang direktur perusahaan itu.


"Aku sempat percaya kamu ada di luar negri," sindir Farel sembari duduk di depan meja Galih. Dulu sebelum ada Marisa di tengah-tengah mereka, ia dan Galih adalah teman yang sangat akrab.


"Cepatlah katakan apa yang kamu mau, aku ditunggu di ruang rapat." Pria yang dianggap sahabatnya itu tak mau menatap wajahnya.

__ADS_1


"Akui bayi yang ada di kandungan Marisa."


...❤️🤍...


__ADS_2