Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Terluka


__ADS_3

Niki terus memasang wajah masam sejak semalam, hingga pagi mereka keluar dari hotel dan kembali pulang ke kota asal mereka.


"Ke rumahmu dulu ya, tadi malam Papa sama Mama kamu minta pulangnya mampir dulu di rumah. Mereka khawatir sekali dengan keadaanmu," ujar Farel dengan wajah sumringahnya. Niki melirik malas lalu kembali membuang wajahnya ke arah jendela.


"Mau makan apa?" tanya Farel, Niki tidak menjawab, ia terus menoleh ke arah jendela dengan tangan terlipat di dada.


"Makan ayam bakar yuk." Farel mengambil inisiatif lebih dulu karena jam memang sudah menunjukan waktu makan siang. Begitu mendekati restoran ayam bakar yang ternama, Farel memperlambat laju kendaraannya dan berusaha mencari tempat untuk memarkir mobilnya.


"Kok berhenti di sini?" protes Niki setelah Farel mematikan mesin mobil.


"Kita 'kan mau makan siang dan ini sudah siang, jarak ke rumah juga masih jauh," jelas Farel bingung.


"Iya, tapi kenapa makan di sini?"


"Kamu maunya makan apa?" Farel menarik nafas panjang mencoba untuk bersabar.


"Bakso," ucap Niki setelah berpikir sejenak.


"Hmm, baiklah kamu benar, cuacanya mendung seperti ini memang enak makan bakso." Farel menarik nafasnya sekali lagi sebelum menjawab.


"Kamu tahu bakso enak di sekitar sini ga?" tanya Farel sembari memutar kemudinya keluar dari area parkir restoran. Niki mengangkat kedua bahunya tak acuh. Farel melirik sekilas lalu menghela nafas panjang.


Sepanjang perjalanan Farel mengendarai mobilnya dengan sangat pelan. Sesekali kepalanya menoleh ke kanan dan kiri mencari kedai bakso yang sekiranya mereka lewati.


"Naah, akhirnya ketemu juga." Farel langsung menepikan mobilnya, begitu menemukan kedai di pinggir jalan yang menjual bakso.


Perut yang sudah menjerit minta diisi ditambah wajah suram wanita yang duduk di sebelahnya, membuat Farel tidak mempedulikan jenis makanan apa yang akan masuk ke dalam perutnya asal ia kenyang dan istri kecilnya kembali ceria.


"Pakai lontong ya." Farel menyodorkan selonjor lontong berukuran kecil ke arah Niki. Gadis itu tidak mengatakan apapun, ia hanya mendorong kembali lontong yang suaminya berikan.


"Kamu tadi pagi ga sarapan, kalau cuman makan bakso ga kenyang." Farel bersikeras. Ia memotong lontong dan langsung memasukannya ke dalam mangkok Niki.

__ADS_1


Begitu beberapa potong lontong masuk ke dalam mangkoknya, Niki langsung mengehentikan makannya. Ia menaruh alat makannya lalu menatap suaminya dengan pandangan datar.


"Kenapa ga dihabiskan?"


"Kenyang."


"Niki ka----"


"Aku sudah kenyang," sahut Niki cepat. Ia bukannya sengaja ingin membuat Farel kesal ataupun bersikap kekanakan, tapi penolakan semalam melukai harga dirinya sebagai seorang wanita yang mengharapkan perlakuan wajar dari suaminya.


Bagaimana tidak seorang pria dan wanita yang dengan status halal, berada dalam sebuah kamar hanya berdua pertama kalinya tapi tidak melakukan apa-apa. Jika sejak awal Farel tidak menyentuhnya, mungkin Niki akan lebih dapat menerimanya. Namun semalam Farel sudah cukup jauh menyentuhnya, tapi tiba-tiba berhenti tanpa penjelasan sedikitpun.


Farel menghela nafasnya lelah. Ia nampaknya belum menyadari kesalahan yang telah diperbuat. Dalam pandangannya, Niki adalah anak kecil yang selalu bertingkah dan mencari masalah. Selera makannya pun ikut hilang, ia mendorong mangkok yang masih terisi ke tengah meja.


"Kamu mau apa?"


"Pulang."


Sepanjang perjalanan menuju rumah Niki, keduanya tidak mengucapkan sepatah katapun. Niki yang masih memendam rasa kecewa dan kesal, sedangkan Farel berusaha menahan amarahnya.


Begitu sampai di rumah Niki, gadis itu langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa menunggu suaminya terlebih dulu.


"Niki, syukurlah kamu sehat. Kamu dari mana saja, Nak?" Mamanya langsung berlari menjemput dan memeluknya begitu Niki masuk ke ruang tamu. Sedangkan Papanya hanya berdiri tegak dengan kedua tangan di belakang tubuhnya.


"Niki cuman pingin sendiri aja, Ma," ucap Niki sembari membalas pelukan Mamanya. Rasa bersalah tapi kecewa pada Mamanya karena pernah menjadi bagian sebagai wanita perebut pria lain, masih bercokol di hatinya.


"Pa, Niki minta maaf." Niki berdiri dengan kepala tertunduk di depan Papanya.


Sejak cerita Mama tentang masa lalunya yang pahit, Niki baru ini bertemu dengan Papanya. Ia tak kuasa memandang wajah pria yang ia sebut sebagai Papa. Banyak dugaan dan pertanyaan di kepalanya, bagaimanakah keadaan wanita yang ditinggalkan oleh Papanya?, apakah menangis meraung sama seperti Marisa?


"Masuklah dan bersihkan badanmu dulu, nanti kita bicara lagi," ucap Papanya tanpa berniat memeluknya.

__ADS_1


Niki masuk ke dalam kamar dengan hati yang patah. Menerima penolakan dari dua pria yang dipujanya dalam waktu yang hampir bersamaan, membuatnya merasa tak diinginkan.


"Selamat siang, Om, Tante maaf kami sedikit terlambat." Farel berdiri di ambang pintu ruang tamu setelah Niki masuk ke dalam kamar.


"Duduklah, ceritakan pada kami apa yang terjadi," titah Papa Niki.


Farel menceritakan bagaimana awal ia dapat menemukan Niki, hingga mereka memergoki istrinya bersama pria lain. Tak ada sedikitpun yang ia sembunyikan dari kedua orang tua Niki, karena baginya inilah awal dari keseriusannya menjalin hubungan dengan putri mereka.


"Astaga, Marisa." Mama Niki menutup mulutnya tak percaya.


"Kamu yakin dengan keputusanmu? Apa kamu sudah benar mencintai putri saya? Secara kalian menikah hanya karena didasari oleh cinta yang bertepuk sebelah tangan. Saya tidak mau kamu menjadikan anak saya sebagai pelarianmu dan jalan untuk membalas rasa sakit hati pada mantan istrimu itu," tegas Papa Niki.


"Saya mohon, beri saya waktu. Kami memang menikah bukan karena dasar saling mencintai, tapi saya mulai menyayangi Niki dan tidak ingin berpisah dengannya. Bukan karena alasan lain apalagi menjadikan Niki sebagai pelampiasan," ucap Farel yakin. Ia sudah membuktikan saat semalam berhasil menahan ego dan nafsunya untuk menyentuh Niki lebih jauh lagi.


"Dengar Farel, saya memandang kamu sebagai suami anak saya bukan dosennya. Jadi jika putri saya kau sakiti, kemanapun akan saya cari meski kamu sedang mengajar di dalam kelas sekalipun," ancam Papa Niki.


"Iya, Om saya berjanji akan menjaga dan tidak menyakiti Niki," ucap Farel dengan suara bergetar. Sejujurnya ia masih merasa tidak terlalu yakin, karena belum terlalu mengenal karakter istri kecilnya itu.


"Mana anakmu, Ma dari tadi belum keluar dari kamar."


Mama Niki berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arah kamar putrinya. Saat akan mengetuk pintu kamar, Mama Niki menurunkan kembali tangannya yang sudah terangkat saat mendengar isakan dari dalam kamar.


"Farel, tolong bantu panggilkan Niki saya mau siapkan makan siang," pinta Mama Niki.


"Ma, kok suruh dia ke kamar Niki?" Papa Niki protes setengah berbisik.


"Farel suaminya Niki, ga ada salahnya 'kan?"


"Permisi, Om, Tante saya ijin ke kamar Niki." Mama Niki memberi kode dengan anggukan kepala meski suaminya masih terlihat tidak ikhlas Farel mendekati kamar putrinya.


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2