Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
NAPD 38


__ADS_3

"Memang Pak Farel harus tahu segalanya ya?"


"Jelas, seharusnya memang seperti itu 'kan. Seorang suami harus tahu segalanya tentang istrinya."


"Berarti Pak Farel juga tahu segalanya juga tentang Mba Marisa?"


"Cepatlah, saya sudah hampir terlambat." Farel menggiring Niki masuk ke dalam mobil. Ia tidak ingin suasana hatinya rusak pagi ini dengan membicarakan sesuatu yang tidak penting.


Sesampainya mereka di kampus, Niki heran saat dosennya itu memutar kemudi mobil dan terus masuk ke dalam area parkir kampus.


"Saya turun di sini aja, Pak."


"Saya juga ada perlu di dalam, mau kasih materi sama Pak Agung yang menggantikan selama saya ke luar kota."


"Bapak masuk ke dalam kampus pakaian seperti ini?"


"Saya 'kan bukan mau mengajar, tapi hanya titip materi dan tugas untuk mahasiswa. Saya juga nanti lewat jalan samping, bukan tengah lobby kampus jadi ga bakal ada yang lihat," ujar Farel santai dan tetap menghentikan kendaraannya di antara deretan mobil dosen lainnya, "Ayo turun."


"Bapak duluan aja, saya nyusul nanti."


"Kenapa? Kamu malu jalan sama saya? Lagipula arah kita beda."


Niki menggeleng, ia bukannya malu tapi takut. Rumor ia menikah dengan Farel dan menghancurkan rumah tangga dosennya itu sudah tersiar hingga luar fakultasnya. Hal itu membuat wajahnya ditandai oleh para mahasiswi lainnya, terlebih Farel adalah dosen muda yang tampan dan belum lama mengajar di kampusnya. Ia belum siap menghadapi pandangan sinis dan merendahkan dari para mahasiswa, ditambah batinnya masih tertekan dengan hubungannya dengan Farel yang belum menemukan arah yang jelas.


"Ya udah, saya turun dulu." Farel menatap kecewa pada istri kecilnya. Di saat akan membuka lembaran baru, ia merasa Niki tidak ada usaha untuk mengimbanginya. Apalagi keberadaan Tomi masih mengancam dan membayanginya.


Dari dalam mobil, Niki dapat melihat bagaimana para gadis kampus berusaha menarik perhatian suaminya. Penampilan Farel yang tidak biasanya hari ini, menambah daya pikat bagi para wanita. Beberapa kali ia dicegat dan diajak berfoto bersama dengan pose yang cukup intim. Niki mendengus kesal melihat pemandangan di depannya.


"Mereka bilang aku pelakor, ja lang, cewek gatel. Lalu apa namanya mereka? Nempel-nempel sama laki orang, sok kegenitan! Pak Farel juga, dosen tapi sok muda. Belagak nolak tapi wajahnya seneng juga dikerumunin cewek-cewek cantik!"

__ADS_1


'Blaaamm!' Niki keluar dari mobil lalu membanting pintu mobil dengan keras.


Farel dan mahasiswi yang mengelilinginya sontak menoleh terkejut. Niki terus berjalan tanpa menoleh ke arah mereka. Begitu melewati suaminya dan para gadis kampus, ia menyibakan rambut panjangnya di depan mereka. Farel menahan senyumnya, ia tahu Niki sedang cemburu.


"Maaf saya buru-buru." Farel melanjutkan langkahnya meninggalkan para mahasiswi yang masih ingin menahannya lebih lama lagi. Langkah Farel yang lebar tetap tidak dapat menyusul Niki, gadis itu sudah menghilang menuju gedung fakultasnya sendiri.


Setelah menitipkan materi dan tugas pada dosen penggantinya, Farel langsung menuju ke bandara setelah sebelumnya ia mengirimkan pesan pada Niki agar pulang kuliah sendiri tidak perlu diantar oleh siapapun apalagi Tomi.


Niki mencebikkan bibirnya melihat pesan yang masuk di ponselnya. Transferan dengan nominal dua kali lipat dari yang papanya rutin berikan tiap bulan muncul di layar ponselnya. Ada rasa bahagia dan tersanjung, bukan karena dari jumlah nominalnya yang fantastis tapi ia merasa diakui sebagai seorang istri.


'Begini rasanya dinafkahi sama suami''


"Senyam senyum aja, dah selesai belum kuisionermu?" Fera mencubit pipi Niki gemas, "Tambah endut aja aku lihat, lagi isi ya?"


"Isi apaan?"


"Mana bisa hamil, diisi aja belum," tukas Niki spontan.


"Kalian belum .... ?"


"Sstttt." Hati Niki yang semula bahagia, mendadak kembali suram ketika mengingat suaminya belum memberikan nafkah batin padanya. Tanpa ia sadari Tomi yang kebetulan lewat di bangku yang mereka tempati, mendengar percakapan singkat itu.


Setelah menempuh penerbangan selama satu jam setengah dan perjalanan darat selama satu jam, Farel sudah berdiri di depan pintu rumah keluarganya.


Ia berulangkali menarik nafas panjang sebelum mengetuk pintu rumahnya yang sebagian besar terbuat dari kaca. Dari luar ia dapat melihat Marisa berjalan anggun dengan senyum lebar di bibirnya.


"Hai, aku dan mama sudah menunggumu dari pagi." Marisa merentangan tangan ingin memeluknya.


"Maaf tadi aku harus ke kampus dulu." Sebelum lengan mantan istrinya itu melingkar di bahunya, Farel menyambut tangan Marisa dan menyalaminya.

__ADS_1


"Kamu tidak ingin memelukku? Biasanya kamu selalu mendekat dan ingin memelukku, sekarang tanganku terbuka dan kamu bebas memeluku selama yang kamu mau." Marisa merentangkan kedua tangannya. Ia masih punya keyakinan bahwa cinta Farel untuknya tak akan pernah luntur.


"Itu dulu, simpanlah pelukanmu untuk suamimu nanti."


"Come on, Farel, jangan bawa permasalahan itu ke rumah mama, itu masa lalu. Aku harap di sini kita bisa mulai dari awal lagi."


"Masa lalu?" Farel menggeleng bingung.


"Farel, kenapa terus berdiri di sana yang rindu bukan hanya istrimu, mama juga rindu." Mama Farel muncul dari ruang tengah. Tubuhnya yang kecil semakin terlihat ringkih dan sedikit bungkuk.


"Mamamu mengalami pengapuran, sudah tidak kuat untuk berdiri terlalu lama. Selain itu mamamu sempat terkena serangan jantung ringan," bisik Marisa sebelum Farel berjalan mendekati mamanya.


"Jantung?"


...❤️🤍...


Jadi ga enak minta maaf terus karena lama update 🙏🥺


Sebagai gantinya aku usahakan hari ini up 2x ya


Mampir dulu yuk ke karya keren teman aku, sambil nungguin up sore nanti.


Blurb :


Zara Adelia, gadis cantik dan juga seorang Nona muda yang masih duduk di kelas 12 SMA, terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan seorang pria yang lebih dewasa darinya. Ia dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria dari kalangan sederhana, kedua orang tua Zara sangat yakin jika pria tersebut bisa membuat Zara bahagia. Pria tersebut tak lain adalah guru olahraga sekaligus guru BP nya di sekolah. Sedari dulu Zara sangat tidak menyukai guru olahraga nya itu.


Akankah Zara bisa hidup bahagia bersama pria yang bukan pilihannya? Nyatanya sehari-hari Zara harus berhadapan dengan suami sekaligus guru olahraga nya di sekolah. Mungkinkah cinta mulai bersemi di antara mereka?


__ADS_1


__ADS_2