Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Tidak butuh rasa sayang


__ADS_3

Farel duduk di tepi ranjang, ia memandang punggung Niki yang membelakanginya. Ingin sekali ia memeluk tubuh kecil itu, tapi ia berusaha menahannya. Baginya Niki belum dewasa, belum saatnya mengenal hubungan dewasa yang intim. Ia akan sangat bersabar menunggu saatnya tiba, demi hubungan yang sehat.


Trauma berumahtangga sebelumnya, membuat Farel sangat berhati-hati dalam memperlakukan istrinya. Namun ia lupa jika Niki seorang wanita yang cukup dewasa dan punya perasaan peka. Niki bukan anak kecil, ia sudah cukup dewasa mengetahui apa yang wajar dilakukan pasangan yang sudah menikah.


"Lampunya kenapa dimatikan?" Farel mengerutkan kening ketika Niki berdiri dan menekan saklar lampu yang ada di atas mejanya.


"Pak Farel tidur aja, aku bisa pakai lampu meja ini," ujar Niki tanpa melihat ke arah suaminya, "Ga usah ditungguin, aku malah ga bisa konsentrasi kalau dilihatin. Kalau Pak Farel duduk di sana terus, lebih baik aku kerjakan tugas di ruang tamu aja," lanjut Niki. Ia masih merasakan tatapan Farel yang seakan menembus punggungnya.


"Kerjakan di sini aja, aku ga akan mengganggu kamu. Aku tidur dulu ya." Farel mengusap kepala Niki sebelum naik ke atas ranjang.


Suara ranjang yang berderit menandakan Farel tengah berbaring diatasnya. Dalam diam, Niki mengusap air matanya yang menggenang. Sakit rasanya ditolak, merasa dipermainkan dan tak diinginkan. Kepercayaan diri Niki semakin hilang, ia merasa tak diinginkan suaminya, ia merasa tak cantik dan menarik lagi.


Paginya Niki dibantu Farel membereskan barang miliknya yang akan dibawa ke rumah tempat Marisa tinggal. Mereka akan tinggal di sana sementara hingga bayi yang dikandung mantan istrinya itu lahir. Selama itu juga Farel akan terus berusaha mengejar Galih untuk bertanggungjawab, setidaknya itulah janji Farel kepadanya.


"Kamu hari ini ada jadwal kuis 'kan? Nanti biar aku yang merapikan barangnya, kamu ikut kuliah saja," ujar Farel setelah menaikan koper terakhir miliknya.

__ADS_1


"Aku ga boleh ikut ke rumah Marisa?"


"Bukan ga boleh, Niki, kamu toh nanti tinggal di sana juga kok bilang ga boleh. Maksud aku, biar kamu tidak semakin ketinggalan mata kuliahmu." Farel berkata sangat lembut, ia tahu Niki sejak semalam sangat sensitif dengan apapun yang ia ucapkan.


"Terserah." Niki masuk ke dalam mobil dan sedikit menghempas pintunya. Farel hanya bisa menarik nafas dan bersyukur Mama dan Marisa masih di dalam apartement tidak melihat perdebatan mereka.


"Sudah semua?" tanya Farel pada Mama dan Marisa yang baru keluar dari pintu apartement.


"Sudah, maaf ya tadi agak pusing," keluh Marisa.


Belum jauh meninggalkan gerbang apartement, Marisa menjawil pundak Farel, "Rel, berhenti sebentar dulu."


"Kenapa?" tanya Farel sembari melirik Marisa dari kaca spion.


"Rasa muntah," ujar Marisa tertahan seraya menutup mulutnya.

__ADS_1


Farel memperlambat laju kendaraannya lalu segera menepikan mobil saat alur jalan terlihat sepi. Tanpa aba-aba, Marisa keluar dari dalam mobil dan berjongkok di rerumputan. Farel ikut turun dan berdiri di belakang Marisa. Ketika mantan istrinya itu kesusahan mengeluarkan isi perutnya, tangannya spontan membantu memijat tengkuk Marisa.


"Sabar, Tidak selamanya yang kita lihat itu benar adanya." Mama Farel mengusap pundak Niki ketika gadis itu memalingkan wajahnya melihat kedekatan Farel dengan mantan istrinya.


"Pak Farel masih cinta sama Mba Marisa, saya mau pisah saja," cicit Niki.


"Jangan berpikir seperti itu, Mama lebih suka Niki yang jadi menantu Mama. Percaya sama Mama, Farel sayang sama Niki." Mama merengkuh Niki dari belakang, ia trenyuh sekaligus geli mendengar menantunya curhat layaknya seperti anak kecil.


Bukannya senang mendengar perkataan mertuanya, air mata Niki menetes ketika mama mengatakan perasaan yang dimiliki Farel untuknya adalah sayang. Bukan itu yang Niki inginkan, rasa sayang baginya tak lebih seperti kakak untuk adiknya. Rasa sayang yang diberikan oleh kedua orangtuanya sudah lebih dari cukup, tak perlu lagi dari Farel. Ia hanya inginkan cinta dari suaminya, dan itu belum pernah ia rasakan.


Tiba-tiba pintu mobil sebelah Niki duduk terbuka, "Niki, maaf ... boleh tukar tempat duduk dengan Marisa?"


...❤️🤍...


Lanjut malam nanti yaa, sambil tunggu kelanjutannya mampir kesini dulu yuk.

__ADS_1



__ADS_2