
"Kamu sendiri bagaimana?" Mata Farel menatap penuh cinta pada istri kecilnya.
Tak henti-hentinya ia mengucapkan syukur dalam hati atas kehadiran Niki dalam hidupnya. Walaupun dengan cara yang salah, tapi mungkin harus seperti itulah Tuhan membuka mata hatinya yang sudah tertutup cinta buta pada Marisa. Niki ibarat kunci yang membuka kota pandora, di mana ia terjebak di dalamnya.
"Aku baik-baik saja," sahut Niko dengan suara tercekat. Ada sesuatu yang belum berani ia ungkapkan pada suaminya ini. Mungkin nanti bukan di saat ini.
"Terima kasih." Farel menatapnya sendu.
"Untuk apa?"
"Untuk keberanianmu minta aku nikahi dulu."
"Ngeledek terus." Farel terkekeh geli saat cubitan Niki mendarat di pinggangnya.
"Bapak Farel?" Seorang petugas kesehatan memutus kemesraan mereka.
"Ya, benar."
"Ditunggu di ruang administrasi ya, Pak jenasah siap diberangkatkan."
Farel dan Niki saling berpandangan lalu menghela nafas bersamaan, "Terima kasih, kami kesana sekarang."
Baru dua langkah, ponsel Niki berdering, "Mama telepon, aku terima dulu ya."
"Iya, kamu tunggu di sini aja biar aku yang selesaikan di sana." Niki mengangguk kecil.
Setelah Farel meninggalkannya di bangku taman, Niki menggeser gambar hijau yang bergerak di ponselnya.
"Halo, Ma."
"Halo, Niki bagaimana kabarmu. Kamu di mana sekarang, Sayang?" Hanya mendengar suara khawatir Mamanya, tangis Niki kembali pecah.
"Maaa ...."
"Sabar, Niki. Di mana suamimu?"
"Mas Farel lagi urus administrasi, kami sebentar lagi pulang," ucap Niki sambil terisak.
"Mama sama Papa juga lagi bersiap, sebentar lagi menuju rumah kalian. Kamu baik-baik saja, Nik? Semalam tadi Mama Farel telepon, Mama kaget sekali langsung tidak bisa tidur tapi Mama tidak berani meneleponmu karena tahu kamu pasti sedang repot dan kacau."
__ADS_1
Niki terus menangis tanpa menghiraukan penjelasan Mamanya.
"Kamu baik-baik saja, Nik? Mama tahu kamu sedih, tapi jangan sampai berlarut-larut."
"Maaaa, Niki takut."
"Kamu takut kenapa?"
"Nik ... Nanti kita ketemu di rumah aja ya, Ma. Mas Farel sudah selesai." Niki memutus sambungan telepon lalu segera menyusut air matanya, begitu suaminya terlihat di ujung lorong sedang berjalan kearahnya.
"Mama kenapa?" tanya Farel begitu sudah berada di sampingnya.
"Hanya tanya kabar dan bilang sedang bersiap ke rumah."
"Kamu kenapa? seperti habis nangis?" Farel memegang dagu Niki lalu mengangkatnya agar terlihat lebih jelas.
"Nangis dikit, kangen Mama. Sudah selesai, kita pulang sekarang?" Niki mencoba mengalihkan perhatian suaminya.
Dalam perjalanan pulang di waktu yang masih sangat pagi, suara sirene dua ambulan meraung-raung memecah keheningan kota. Hati Niki dan Farel terasa berdenyut pilu saat iring-iringan ambulan ada di belakang mobil mereka. Keduanya hanya diam tak sanggup berkata-kata selama dalam perjalanan.
Kedatangan tiga jenasah di dalam rumah Farel, cukup membuat heboh warga sekitar. Mereka saling berkasak-kusuk ingin mencari tahu, siapakah jenasah lain selain Marisa dan bayinya.
Namun Farel dan keluarga mengacuhkan itu semua. Sudah cukup berat bagi mereka dengan situasi berat yang beruntun ini. Farel terpaksa membawa jenasah Galih, karena orangtua kawannya itu sudah tiada sejak ia kecil jadi tak ada lagi sanak saudara yang bisa mengurusnya.
Ketiga jenasah itu dibawa ke pemakaman terdekat, Niki yang ingin ikut tidak diperbolehkan oleh Farel karena wajahnya yang terlihat pucat.
"Aku masih kuat kok."
"Aku sedang tidak memintamu, tapi aku memohon kamu untuk mendengarkanku kali ini, Sayang. Di luar panas sekali dan kamu tidak tidur semalaman." Farel menghadangnya saat ia nekat ingin ikut dalam rombongan.
"Turuti permintaan suamimu, Niki." Mama yang sebelum ia sampai rumah sudah datang, ikut menahan tangannya.
Niki akhirnya mengalah dari pada ia menghalangi pemakaman Marisa dan Galih.
Sampai di pemakaman, Farel sempat melihat seorang wanita cantik turun dari mobil mewah. Wanita itu mengenakan dress dan berkacamata hitam serta kerudung yang menutupi kepalanya. Tampak wanita itu berdiri diantara banyaknya orang yang mengantar ke pemakaman.
Marisa dan bayinya dimakamkan dalam satu liang lahat, begitu jenasah Galih diturunkan tangis wanita itu pecah tapi ia menutupinya dengan kerudung agar tak memancing kecurigaan yang lain.
Farel menghembuskan nafasnya. Ia tahu siapa wanita itu. Kepedihan seorang istri yang ditinggal pergi oleh suaminya untuk selamanya, tapi dalam keadaan yang buruk.
__ADS_1
'Galih, apa kau lihat air mata yang menetes di pipi istrimu? Air mata itu tak akan pernah kering. Selamanya akan mengalir saat ia mengingatmu, tapi bukan tangisan bahagia karena mengenang kebaikanmu. Tiap isakannya penuh kekecewaan dan rasa marah tapi juga cinta.'
Farel merasa kasihan dengan istri Galih, setidaknya ia jauh lebih beruntung dari pada wanita itu. Ia sudah menemukan pelabuhan hati yang baru sebelum kejadian ini terjadi. Namun, Delilah dan putrinya yang masih bayi harus menerima kenyataan kalau suaminya sudah mengkhianatinya sebegitu dalam.
"Niki, apa yang ingin kamu bicarakan sama Mama tadi pagi?"
Sementara Farel di pemakaman, Mama Niki mengambil kesempatan mendekati putrinya.
"Ma, Niki ... ga mau punya anak." Niki menggenggam tangan Mamanya erat.
"Maksudnya bagaimana, Nik? Kamu belum ingin hamil? Ya ga apa-apa memang kesepakatannya, kamu selesaikan skripsi lalu wisuda baru memikirkan punya anak."
"Bukan itu. Niki ga mau hamil dan punya anak," ulang Niki kali ini lebih tegas.
Mama mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti mengapa tiba-tiba putrinya mempunyai pikiran seperti itu.
"Kenapa?"
"Ga mau." Niki menggeleng tegas dengan wajah mengernyit ketakutan.
"Kamu sudah bicarakan hal ini dengan suamimu?" tanya Mama pelan. Ada rasa kecewa mendengar keputusan anaknya.
"Belum."
"Hal seperti ini harus dibicarakan berdua, Niki. Apalagi kamu dan Farel adalah anak tunggal, tentu harapan ada penerus keluarga dari kalian."
Niki menunduk dalam, ia sangat mengerti itu makanya ia takut mengatakan hal ini pada suaminya.
"Mba Marisa meninggal karena melahirkan ... darahnya banyak." Niki menggigil ketakutan.
Mama menarik nafas panjang, akhirnya ia tahu mengapa putrinya sampai punya pikiran sejauh itu.
"Niki, melahirkan itu kodrat wanita. Tiap wanita sudah diberikan tempat yang nyaman untuk seorang bayi tumbuh di dalam perutnya. Jika kita dalam keadaan sehat dan mampu, tanpa alasan jelas menolak anugerah itu betapa sedihnya Sang Pencipta. Ia ingin menitipkan jiwa baru untuk lahir ke dunia melalui seorang Ibu." Mama menyelipkan anak rambut Niki di sela telinganya. Putrinya itu tampak melamun mendengarkan penjelasannya.
"Dan Mama yang dititipi Tuhan putri cantik ini sangat senang sekali," lanjutnya.
"Apa waktu Niki lahir ... Mama juga kesakitan?"
"Sakit, tapi lewat rasa sakit itu mengantarkan kebahagiaan besar. Mama rela merasakan rasa sakit itu berulang kali, asal anak yang Mama lahirkan merasakan kebahagian berulang juga."
__ADS_1
"Bicarakan baik-baik dengan suamimu. Jangan mengambil keputusan sepihak dan pikirkan hal ini matang-matang." Mama menghentikan penjelasannya karena sudah terdengar rombongan dari pemakaman sudah kembali.
...❤️🤍...