
"Hei, hei ada apa Lea?" Papa Niki melepas kacamatanya dan menaruh perhatian pada ocehan wanita di seberang sana.
"Niki datang ke rumah dengan mata merah dan sembab. Kelihatan sekali dia habis nangis lama. Ada masalah apaaa?" Intonasi suara Mama Maura semakin meninggi.
"Tenang dulu, Niki sekarang ada di rumahmu?"
"Iya, dia kemari sama Maura. Sekarang mereka berdua ada di atas. Jangan terlalu keras sama anak, mana Ghea dihubungi susah sekali." Mama Maura menggerutu layaknya ibu memarahi anaknya.
"Tapi Niki 'kan lagi sama su ... Eh, nanti aku tanya Ghea ada masalah apa. Aku lagi di bandara tunggu penerbangan pulang. Tolong bantu awasi Niki ya, Lea nanti kami datang ke rumah kalian jemput Niki," ujar Papa Niki lalu memutus pembicaraan sebelum mantan istrinya itu semakin mengomel tak ada habisnya.
Papa Niki mencoba menghubungi istrinya, dering kedua langsung dijawab.
"Halo, Mas sudah sampai?"
"Masih tunggu pesawat ada delay sebentar. Sayang, tadi Lea telepon katanya Niki ada di rumahnya. Dia bilang Niki sepertinya habis menangis, matanya sembab dan bengkak. Coba kamu cari tahu ada apa dengan Niki, kalau saja dosennya itu menyakiti Niki aku akan buat perhitungan dengannya."
"Iya tadi Lea juga telepon tapi aku masih di kamar mandi, aku coba hubungi balik tapi dia sedang ada panggilan rupanya tak sabar langsung hubungi kamu. Sabar ya, jangan gegabah nanti aku cari tahu dulu. Padahal tadi pagi aku dan Niki ngobrol di telepon sepertinya tidak ada masalah dengannya."
"Nanti malam kita jemput Niki di rumah Raymond. Sakit kepala aku kalau dua orang itu tahu Niki sudah menikah tanpa memberi tahu mereka." Papa Niki memijat pelipisnya. Istrinya di seberang sana hanya bisa menyengir masam.
Niki bagi keluarga itu sudah seperti anak sendiri, Mama dan Papa Maura lebih cerewet soal pengasuhan anak. Jika papa dan mamanya memarahinya, Niki akan lari ke rumah Maura dan meminta perlindungan dari orangtua Maura. Jika Maura yang berbicara membela Niki, Papa Niki pasti akan menurutinya. Niki hanya tahu kedua orangtua mereka berteman baik, sebatas itulah yang ia tahu.
Setelah memutus sambungan telepon Mama Niki segera menghubungi menantunya, tapi panggilannya tak satupun diangkat.
"Kemana dia," ucap Mama Niki kesal. Berganti ia mencoba menghubungi ponsel putrinya.
"Halo, Niki kamu di rumah Maura?"
"Iya, Ma."
"Kamu sama Farel ada masalah?"
Niki terdiam sejenak sebelum menjawab, "Ga ada, Ma. Kami baik-baik aja."
Walaupun terlahir sebagai anak tunggal, Niki terbiasa menyelesaikan persoalannya sendiri. Ia sudah melakukan hal yang membuat kedua orangtuanya malu, tentu ia tidak ingin mama dan papanya tahu jika pilihan hidupnya menyedihkan seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Kamu yakin? Kata tante Lea kamu habis menangis. Biasa kamu kalau ada masalah selalu pulang ke rumah Maura, kenapa kamu tidak datang ke mama?"
"Aku baik-baik aja, Ma. Niki hanya kangen sama Kak Maura aja."
"Benar kamu dan Farel baik-baik saja? Mama tadi coba telepon tapi tidak dijawab."
"Mungkin masih ngajar, Ma."
"Ya mungkin juga. Niki, untuk sementara jangan beri tahu Maura dan orangtuanya kalau kamu sudah menikah ya. Nanti malam mama sama papa akan ke sana jemput kamu."
"Ya, Ma." Hanya itu yang sanggup ia katakan. Mendengar lebih lama suara mamanya, membuat dirinya semakin sedih dan menyesal.
Belum lama ia menutup ponselnya, nama Farel muncul di layar ponsel.
"Halo," sapa Niki dengan suara berbisik.
"Kamu kenapa? Kok pakai bisik-bisik? lagi di mana sekarang?"
"Di rumah saudara." Niki memelankan suaranya. Maura yang melihat gelagat Niki berjalan medekat demgan senyum menggoda.
"Mas Farel aja yang belum kenal saudaraku," ucap Niki dengan bibir mengkerucut. Sementara itu Maura menggodanya dengan mengucapkan kata 'Mas Farel'
"Bagaimana mau kenal, kamu tidak pernah mengenalkan aku sama keluarga besarmu."
"Ga kebalik?"
"Jangan bertengkar lagi, Nik. Kirim alamatnya nanti aku jemput ya."
"Ga usah, nanti mama sama papa yang mau kesini. Aku juga pingin nginap semalam di sini."
"Nikiiii." Farel meremas rambutnya. Mendengar orangtua Niki yang datang menemui istrinya, ia merasa tak bisa menjadi suami yang dapat diandalkan. Belum lagi jika mertuanya tahu permasalahan yang mereka hadapi. Orangtua mana yang rela putrinya tinggal seatap dengan mantan istri suaminya, "Baiklah, segera kabari ya kalau ada apa-apa."
"Aku akan aman dan bahagia di sini," ucap Niki sebelum memutus pembicaraannya.
Farel menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Ucapan Niki yang terakhir seakan mengatakan kalau istrinya itu tidak bahagia jika bersamanya.
__ADS_1
"Jadi namanya, Farel?" goda Maura. Niki mengangguk malu, "Sudah lama?"
"Baru aja, eh apanya nih?"
"Pacarannya dong."
"Hehehe, baru aja," sahut Niki salah tingkah, "Wah, penghargaannya makin banyak aja, Kak." Ia mengalihkan perhatian Maura pada piala dan piagam yang berjajar rapi.
"Biasa aja."
Niki mengusap nama yang tertera di piagam dan piala milik Maura, "Kak dari dulu aku penasaran, kenapa ya nama kita mirip ada Anersa nya. Nama kakak Bintang Maura Anersa, kalau aku Annikin Anersa Nastiti. Kata mama Anersa di namaku artinya anak erik saputra, itu nama Papa. Kalau kakak arti Anersanya apa?" kepala Niki berpaling ke arah Maura yang terdiam.
"Kak," panggil Niki menyadarkan Maura yang mematung.
"Ehm, mungkin kebetulan aja. Aku juga ga pernah tanya sih," timpal Maura canggung, "Aku ambil makanan kecil sama minum dulu di bawah ya." Maura segera keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban dari Niki.
Niki hanya bisa diam, walaupun tak puas dengan jawaban yang diberikan. Ia bukanlah gadis kecil lagi yang mudah diberikan jawaban menghibur.
Terdengar suara riuh di lantai bawah, Niki keluar dari kamar ingin mencari tahu. Dari lantai dua ia bisa melihat Mama Maura menyambut kedatangan mama dan papanya. Mama Maura dan mamanya saling berpelukan dan menempelkan pipi keduanya. Tampak akrab dan hangat sekali.
Dengan rasa rindu ia pun ingin berjalan menuju ke arah tangga untuk turun dan bergabung bersama mereka.
"Haii, Papaaa." Itu bukan suaranya, tapi suara Kak Maura yang menyambut keluar dari dapur mendahuluinya.
Sebenarnya panggilan papa dari Maura untuk papanya itu sudah sejak kecil ia dengar. Jika dulu ia merasa biasa saja, tapi sekarang mengapa terasa ganjil untuknya?
...❤️🤍...
Cerita tentang orangtua Niki dan Maura hanya sekilas aja, karena akan ada benang merahnya dengan kisah Niki.
...❤️🤍...
Aku rekomendasikan novel bagus banget nih, kalian wajib baca
__ADS_1