
“Kerjaannya cuman goyang-goyang di dalam kostum badut aja ‘kan?” tanya Niki ragu.
“Iya, cuman itu aja selama empat jam. Lagian gantian juga kok sama yang lain. Sudah banyak yang mau loh, buruan keputusannya ditunggu sama atasan siang ini,” ujar ibu itu.
“Boleh deh.” Niki mengangguk mantap.
“Siiip, nanti sore jam empat sudah harus siap di ruang ganti karyawan hotel ya.” Wanita setengah baya itu menepuk pundak Niki, lalu berlari kecil masuk ke dalam penginapan.
Merupakan keberuntungan bagi Niki saat sedang kebingungan karena dana terus menipis, seorang karyawan menawarkan pekerjaan sambilan menjadi maskot hotel tempat ia menginap.
Dan sore itu Niki sudah siap di dalam ruang ganti karyawan untuk persiapan acara yang di selenggarakan hotel tersebut. Bukan gaun mewah yang akan ia gunakan, tapi kostum kelinci playboy yang merupakan maskot hotel yang terkenal bebas di kota itu.
“Sedikit berat dan panas ya, tapi aku yakin kamu bisa. Lama-lama terbiasa kok,” ujar pengguna kostum yang sama. Niki akan menggantikan di malam hari, sedangkan pria itu bekerja di siang hari.
“Kak Alvin habis ini langsung masuk kerja?” tanya Niki pada pemuda berperawakan tinggi itu.
“Enggak, malam ini aku diminta temanin kamu dulu. Khawatir kamu pingsan kata Bu Ambar, jadi aku nanti awasin dari pojok ruangan,” ujar Alvin sembari membantu Niki mengenakan kostum kelinci berwarna putih itu.
“Engap betul di dalam,” keluh Niki.
“Awalnya aja, dinikmati lama-lama nanti terbiasa.”
__ADS_1
“Dulu kalau lihat badut kostum joget-joget seperti ini, bawaannya lucu banget pingin godain. Sekarang jadi sedih, ternyata di dalam ga enak banget. Mungkin mereka nahan panas, engap kayak aku gini.” Baru beberapa detik di dalam kostum maskot, Niki sudah mulai kesulitan mengatur nafasnya.
“Ga hanya itu, kadang ada yang sambil nangis di dalam walau dari luar mereka kelihatan bahagia dan menghibur. Mungkin karena belum cukup setorannya atau untuk dibawa pulang, uang yang di dapat masih sedikit,” sahut Alvin sembari membantu Niki berjalan.
“Duuhh, jadi pingin ikutan nangis kan." Niki mencebikan bibirnya ke bawah. Meski tak terlihat dari luar, nada suaranya sudah terdengar seperti merengek.
“Udaahh, kalau ga semangat kamu ga di pakai lagi loh,” bisik Alvin saat mereka mukai memasuki area lobby hotel.
“Kak Alvin tunggu di sana ‘kan? Titip ponselku ya,” ujar Niki sembari menyerahkan ponselnya.
“Beres, kerja yang bener. Nanti aku foto semua aksimu dari sana.” Alvin menggiring Niki ke sisi meja reseptionist hotel.
Niki mulai menggerakan badannya sesuai iringan musik yang mengalun dari pengeras suara hotel. Setiap pengunjung yang datang, ia berikan selembar brosur dan voucher restoran dan menginap dalam rangka menyambut ulang tahun hotel tempat ia bermalam sekaligus bekerja.
Tiba-tiba tubuhnya menegang saat dua orang berlainan jenis kelamin, melangkah masuk lobby hotel ke arah reseptionis. Niki sempat terpaku dan takut ketahuan, tapi ia baru sadar jika wajah dan tubuhnya tertutup seluruhnya.
Marisa dengan santainya menyandarkan kepala di bahu pria yang datang bersamanya. Lengan pria itu melingkar sempurna di pinggangnya yang ramping. Sesekali keduanya saling berbisik dan tersenyum mesra sembari menunggu resepsionis mencatat data mereka.
Niki melirik ke arah Alvin, pemuda itu menunggu aksinya untuk diambil gambarnya. Ia tahu jika tidak ada pengunjung yang mendekatinya, Alvin juga tidak akan mengambil gambarnya.
Niki bergoyang-goyang mencoba menarik perhatian Marisa dan temannya. Setelah beberapa saat, akhirnya ia berhasil membuat Marisa mendekatinya.
__ADS_1
"Sayang, coba lihat deh lucu banget kelinci playboy mirip kamu," ujar Marisa sembari menunjuk Niki. Jika tidak sedang bekerja, ingin rasanya menendang dan menarik rambut wanita di hadapannya itu. Rasa peduli akan Farel, membuat ikut merasakan sakitnya dikhianati.
Niki tetap bergerak sesuai irama dan memberikan brosur pada Marisa. Ia melirik ke arah Alvin dan berharap pemuda itu mengambil gambar Marisa dengan pasangan selingkuhnya.
"Foto boleh ya," pinta Marisa. Dengan senang hati, Niki meladeni permintaan wanita itu. Terlebih keduanya bergaya sangat mesra.
Setelah memastikan kedua pasangan tidak sah itu menghilang di balik pintu lift, Niki berlari ke arah Alvin.
"Tadi sempat foto aku sama dua orang yang baru aja naik lift 'kan?" tanya Niki sembari mengambil ponselnya dari tangan Alvin.
Tanpa menunggu jawaban dari Alvin, ia langsung mengirim semua foto Marisa ke nomer Farel setelah ia membuka blokiran nomer suaminya itu. Namun tanpa ia sangka, dengan ia membuka blokiran nomer dan mengirim pesan pada Farel dengan mudah suaminya itu langsung tahu keberadaan dirinya.
"Niki!" Farel terlonjak dari kursi kerjanya. Sudah dua hari ia tidur beralaskan berkas kerjanya. Begitu dering yang ia khususkan untuk pesan dari Niki berbunyi, ia langsung membuka peta untuk melacak keberadaan gadis yang sudah membuatnya tidak bisa tidur itu.
...❤️🤍...
Mampir ke karya temanku ya
__ADS_1