Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
NAPD BAB 34


__ADS_3

Niki spontan menarik tangannya dari genggaman Tomi. Walaupun hati dalam keadaan marah, sebagai seorang istri ia tetap merasa tidak pantas berpegangan tangan dengan lawan jenis tanpa suatu maksud apapun.


"Kami sedang membahas tugas," ucap Tomi ketika melihat Niki tidak berniat menjawab pertanyaan dosen mereka.


Farel tidak menghiraukan jawaban yang diberikan oleh Tomi. Matanya hanya lurus tertuju pada istri kecilnya yang tertunduk tak mempedulikan keberadaannya.


Tomi bergantian memandang antara Niki dan dosennya, bukannya ia tak tahu hubungan keduanya yang tersiar di area fakultas mereka. Namun sejatinya ia tidak mau tahu karena baginya, berita itu hanyalah kabar burung yang belum terbukti kebenarannya.


"Bapak lagi cari bahan di perpustakaan?" tanya Tomi memecah keheningan.


"Kurang lebih seperti itu," jawab Farel sekenanya. Ia masih bertahan berdiri di sisi Niki, menanti gadis itu merespon keberadaannya. Ingin rasanya ia menarik lengan ringkih Niki dan memaksanya untuk pulang, tapi hal itu tidak mungkin ia lakukan di area kampus.


"Tomi, sudah sampai mana tugas Bu Hemilda?" tanya Niki tiba-tiba.


"Eh? Oh, masih kurang sedikit." Tomi dengan cepat menimpali drama Niki.


"Sama, aku juga kurang sedikit. Tugas itu soalnya butuh survei." Keduanya saling bercakap tidak menghiraukan keberadaan Farel yang berdiri tegak di sisi meja mereka.


"Benar, kita harus buat kuisioner yang disebar. Kamu sudah buat?"


"Belum. Boleh bantuin buat gak?" pinta Niki penuh harap.


"Untuk kamu apapun selalu boleh. Mau sekarang?" Tomi paham, permintaan Niki itu adalah kode agar membawanya pergi menjauh dari situasi terjepitnya.


"Yaa, sekarang yuk." Niki bergegas berdiri tak sabar.


"Permisi, Pak kami mau melanjutkan tugas." Niki menganggukan kepala sopan pada suaminya yang berdiri menghalangi jalannya.


"Niki ...." panggil Farel ketika istri kecilnya itu sudah beberapa langkah menjauh darinya, " ... Hati-hati." Hanya itu yang bisa meluncur keluar dari bibirnya.


Sepeninggal Niki dan Tomi keluar dari perpustakaan, Farel langsung mengirim pesan pada istri kecilnya.

__ADS_1


'Jaga diri, tolong jangan pergi hanya berduaan. Pulang cepat, aku tunggu di apartement. Harus ada yang kita selesaikan.'


'Benar, ada yang harus kita selesaikan,'


Balasan pesan dari Niki membuat jantungnya berdenyut tak nyaman. Ia tidak yakin apa yang ia maksud diselesaikan sama dengan yang istrinya maksudkan juga.


Sampai di area parkir, Niki menghentikan langkahnya. Percakapannya dengan Tomi di perpusatakaan sama sekali tidak serius. Ia hanya membutuhkan cara agar dapat menghindari suaminya sementara waktu.


"Makasih ya, Tom. Sampai sini aja, aku balik dulu."


"Ya, aku tadi paham kok. Aku antar ya."


"Jangan, aku bisa sendiri. Bye." Tanpa menunggu respon balik, Niki segera berlari kecil keluar dari kampus. Tomi bersandar di mobilnya memandangi gadis incarannya selama tujuh semester tanpa dapat berbuat apa-apa.


Niki tidak langsung pulang, ia memilih menyepi di sebuah sudut kedai kopi dekat kampusnya. Galau hati ingin tetap bertahan, tapi merasa tidak dimiliki membuat hati tidak bisa berbohong jika terasa nyeri.


Saat nama mantan istri terucap dari bibir suaminya, runtuh sudah kepercayaan diri Niki. Ponselnya kembali berdering untuk kesekian kalinya seolah memaksanya untuk segera menjawab.


"Di mana? Apa perlu aku jemput?"


"Dua jam lagi, kami belum selesai berdiskusi."


"Kamu berdiskusi dengan siapa? Tomi ada di kampus bersama teman-temannya. Pulanglah ke apartement, Niki, mari kita bicara," ucap Farel memohon.


Saat Niki masuk ke dalam apartement mereka yang sudah ia tinggalkan selama hampir seminggu, suaminya sudah duduk di kursi meja makan dengan hidangan yang tersusun rapi dihadapannya.


"Ayam geprek, sambalnya aku minta pisah karena belum tahu kamu suka pedas atau tidak." Farel tersenyum lebar menunjukan isi meja makan begitu Niki berdiri di hadapannya.


"Aku sudah makan."


Kkkrrrrr ....

__ADS_1


"Mau mandi dulu atau langsung makan?" Farel tersenyum tipis ketika pernyataan dan suara yang keluar dari dalam perut istrinya terdengar.


"Biar aku sendiri," ucap Niki saat Farel akan menyendokkan nasi untuknya. Kebiasaan melayani Marisa dalam hal apapun, menjadikan Farel tidak canggung melakukan pekerjaan rumah tangga.


"Baiklah." Farel kembali duduk di kursinya. Namun ia termangu saat Niki mengambilkan nasi dan lauk serta mengambilkan minum untuknya. Walaupun seorang putri tunggal yang dimanja, keseharian Mama melayani Papanya tiap hari selalu menjadi pemandangan yang lekat diingatannya.


"Terima kasih," ucap Farel dengan senyum terkembang lebar. Perasaannya yang semula memburuk dalam sekejap berubah cerah.


Perlakuan Niki saat di rumah orangtuanya sangat berbanding terbalik kali ini. Jika di rumah orangtuanya ia harus ditegur dulu agar memperhatikan suaminya, sekarang tanpa di minta istri kecilnya itu melayaninya di meja makan. Walaupun raut wajahnya suram tanpa senyum sedikitpun, hal itu cukup bagi Farel yang belum pernah merasakan bagaimana menjadi seorang suami yang dilayani kebutuhannya selama menikah dengan Marisa.


"Enak?" tanya Farel melihat istrinya makan dengan lahap. Niki yang semula bersemangat menggiggit ayam gepreknya, memperlambat gerakannya. Ia hanya mengangguk kecil bersikap seolah tak peduli, padahal perutnya yang perih karena sejak pagi hanya diisi teh hangat saat di rumah dan sebuah roti kecil saat di kedai kopi, menunggu suapan selanjutnya.


"Kamu suka pedas?" tanya Farel lagi ketika Niki mendesah kepedasan.


"Hmm," sahut Niki singkat.


Farel tidak peduli dengan sikap dingin Niki, hatinya sedang bahagia sekarang. Duduk berdua dengan pasangan menikmati makan malam yang masih terlalu sore, sudah cukup menghangatkan hatinya.


Pikirannya sibuk mencari bahan pembicaraan yang akan ia bahas setelah makan nanti. Sebenarnya ia tidak tahu apa yang akan dibicarakan dengan Niki. Ia tidak tahu kenapa istri kecilnya itu tiba-tiba marah dan berubah sikap dalam sekejap.


Farel mencoba merunut kejadian sejak di hotel hingga sore ini. Ia mencoba mencari letak kesalahannya di mana. Ia merasa sudah melakukan yang benar, mengambil keputusan menceraikan Marisa bahkan tepat di depan Niki. Lalu apa yang kurang?


Ingatannya tertuju pada pembicaraan mereka semalam di rumah orangtua Niki. Istri kecilnya itu mengatakan bahwa salah menilai perasaannya. Niki hanya mengagguminya dan mencintai Tomi bukan dirinya. Lalu terbayang di benaknya saat pemuda itu menaruh tangannya di kening Niki dan dengan beraninya menggenggam tangan istrinya dengan erat. Rahang Farel mengeras mengingat semuanya itu.


"Sudah selesai?" Farel tersadar dari lamunannya. Ia mengangkat kepalanya dan memandang istrinya yang berdiri di sampingnya siap mengambil piring kosongnya.


"Sudah."


Farel menegak segelas air untuk mendinginkan hati dan pikirannya. Dipandanginya Niki yang sedang mencuci peralatan makan mereka di dapur. Melihat wanita miliknya melakukan pekerjaan rumah tangga yang tidak pernah ia alami di pernikahan sebelumnya, membangkitkan rasa ego kepemilikannya.


"Niki ... Kamu mencintaiku?" bisik Farel dari belakang tubuh istrinya.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2