Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Boneka kain


__ADS_3

"Hei!" Dua orang pria besar yang bertugas menjaga pintu langsung membelalakan mata melihat pintu kaca kantor yang mereka jaga hancur berderai. Seorang pria menghampiri Marisa dan menarik lengannya hingga hampir tersungkur ke depan.


"Anda bisa kami laporkan karena tindak perusakan ini!" seru pria yang memegang lengan Marisa.


"Jaga tangan anda!" Farel mendorong tubuh pria itu menjauh dari Marisa.


"Aku tidak ada urusan sama kalian! Panggil atasanmu keluar!" Marisa semakin histeris. Ia berteriak sekuat tenaga hingga mengundang perhatian beberapa orang yang ada di sekitar perkantoran itu.


"Panggil polisi!" saran pria satunya.


"Benar! Panggil semua polisi yang ada di sekitar sini, biar semua tahu kebusukan bosmu!" tantang Marisa semakin berani. Mendengar ucapan Marisa, dua pria besar itu mulai mengendur ketegangannya.


Mereka mundur selangkah, salah satu orang diantaranya mengangkat telepon yang berdering di dalam ruang jaga. Terlihat dari kaca ruang jaga, penjaga itu menganggukan kepala sembari mengawasi Farel dan Marisa.


"Bawa mereka masuk!" cetus penjaga yang baru saja mengangkat telepon tadi.


Farel membantu Marisa yang berjalan pincang, karena terluka kakinya terkena pecahan kaca. Mereka diarahkan naik keatas bukan ke ruangan Galih, melainkan ke ruangan yang jauh lebih besar.


Kesan dingin dan kaku menyambut Farel dan Marisa saat pintu besar itu dibuka. Mertua Galih tampak duduk di kursi kebesarannya sedang menatap lurus dan tajam ke arah pintu masuk. Kulit di sekitar mata semakin berkerut ketika ia memicingkan matanya.


Farel dan Marisa dibiarkan berdiri di depan meja, tanpa ada niat mempersilahkan keduanya untuk duduk.


"Saya tahu kamu." Satu kalimat datar dan dingin keluar dari mulut mertua Galih. Ucapan itu ditujukan pada Marisa yang melengos membuang mukanya ke samping, "Berapa yang kamu mau?" lanjutnya lagi. Farel masih terdiam, ia masih mengamati percakapan keduanya.


"Sepuluh milyar," sahut Marisa. Farel menoleh cepat ke arah mantan istrinya. Ia tak menyangka Marisa akan meladeni permintaan pria tua itu.

__ADS_1


"Apa-apaan kamu? Aku kira kita kemari untuk meminta pertanggungjawaban Galih," bisik Farel geram. Marisa tak menanggapi kemarahan Farel, malah ia semakin maju mendekati meja pimpinan tertinggi perusahaan itu.


"Wanita sepertimu tak pantas di hargai semahal itu." Mertua Galih terkekeh sinis.


"Ada anak menantu kesayangan anda di sini." Marisa menunjuk perutnya.


"Aku tak percaya, berita tentangmu yang mengejar suami dari anakku sudah lama ku dengar, jadi sebutkan angka yang masuk akal agar kau tidak mengganggu keluarga anakku lagi." Pria tua itu mengangkat telepon dan berbicara dengan sekretarisnya yang berada di luar ruangan.


"Aku ingin bertemu Galih," ucap Marisa dengan suara bergetar.


"Dia sedang tidak ada di Indonesia."


"Aku tak percaya. Apa aku harus bertemu dengan putrimu dan mengatakan tentang anak dalam kandunganku?"


"Ciuuh! Anak dalam perutmu itu hasil dari banyak pria. Kalaupun menantuku pernah tidur denganmu bukan berarti itu juga anaknya! Pria itu tentu juga pernah merasakan tubuhmu bukan!" Mertua Galih menunjuk ke arah Farel.


"Jangan berani-berani kau usik putriku." Pria tua itu menggeram marah.


"Panggil Galih kemari, sampai kapan anda menyembunyikan menantu brengsek macam dia." Marisa bersikeras.


Mertua Galih memberi kode pada sekretarisnya yang berdiri di dekat pintu, perempuan itu langsung mengerti lalu keluar dari ruangan. Pak tua itu memandang penuh amarah pada Marisa dan Farel yang masih tetap berdiri di hadapannya.


Tak butuh waktu lama, lelaki yang ditunggu Marisa masuk ke dalam ruangan. Pria jangkung itu tak ubahnya seperti boneka yang terbuat dari kain jika di depan mertuanya. Tubuh yang tinggi tiba-tiba terlihat lebih pendek karena membungkuk. Kepala yang selalu tegak sekarang menunduk hingga hampir tak terlihat wajahnya. Senyum angkuh yang selalu tersemat di wajahnya kini sudah tak nampak lagi.


"Benar dia perempuan itu?" tanya Papa Delilah yang lebih terdengar seperti menghardik dari pada bertanya. Galih mengangguk samar, pria itu duduk di depan mertuanya dengan kepala tertunduk. Sejak masuk ke dalam ruangan, kepalanya sama sekali tidak terangkat apalagi menoleh ke arah Farel dan Marisa.

__ADS_1


"Kalau bukan karena Delilah, kau sudah jadi bangkai di tengah lautan! Sejauh mana kamu berhubungan dengan dia?"


"Tak lebih dari wanita lain yang hanya jadi penghibur di kala jenuh," cicit Galih.


"Bajin gan!" Marisa menjambak rambut ikal Galih dan menariknya dengan sekuat tenaga.


"Echaa, hentikan! Ingat bayimu." Farel menarik tangan Marisa. Bukan ia kasihan melihat Galih yang merintih kesakitan, tapi ia khawatir akan kandungan Marisa yang masih rentan. Mertua Galih pun sepertinya tak peduli akan keadaan menantunya, pria itu hanya menyaksikan menantunya bergulat melawan Marisa.


"Puas? Kalau saja dengan menghajarnya bisa mengurangi uang yang harus saya berikan untukmu, silahkan kamu menghabisinya asal jangan ganggu putriku" ucap Mertua Galih sinis sembari memanggil sekretarisnya dengan gerakan jari.


Mertua Galih membisikan sesuatu pada sekretarisnya, lalu kembali fokus pada ketiga orang dihadapannya.


"Dia meminta sejumlah uang sebagai jaminan tidak akan mengganggumu lagi," ujar Pak tua itu.


Galih mengangkat kepalanya sedikit lalu melirik ke arah Marisa yang masih terengah. Sudah lebih dari dua bulan ia tidak bertemu dengan wanita itu. Wanita yang tak pernah menolak apapun yang ia minta. Mulai dari harta sampai urusan di atas ranjang, hingga rela menjadi simpanannya. Sebesar itulah cinta Marisa untuknya. Sebenarnya tak ada kurangnya Marisa di matanya, tapi Marisa tidak dapat memberikan jaminan finasial tanpa batas melebihi mertuanya.


Mata Galih turun ke perut Marisa yang sedikit terlihat mulai membuncit. Ia meyakini jika janin yang ada di dalam perut Marisa adalah anaknya. Jika anak itu lahir, ia akan menjadi ayah dari tiga orang anak.


Tiba-tiba ia teringat oleh anaknya yang masih berusia dua tahun dan yang baru saja lahir seminggu yang lalu. Galih mendesah pelan. Jika pada Marisa ia masih tega untuk tak menganggapnya, tapi ada secuil perasaan bersalah pada calon anaknya.


"Tanda tangani ini." Mertua Galih menyodorkan selembar kertas yang dibawa sekretarisnya pada Marisa.


Marisa mengambil kertas itu lalu membacanya, "Jika bayi yang akan kulahirkan terbukti anak Galih, maka aku akan mendapatkan sejumlah uang yang kutentukan dengan syarat harus menggugurkan kandunganku dan pergi jauh dari kota ini. Tapi jika tidak, aku tidak akan mendapatkan serupiahpun dan akan dituntut atas pencemaran nama baik." Marisa membaca point utama dengan sangat keras.


"Paa." Galih menggeleng tak setuju.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2