Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Berbalik arah


__ADS_3

Farel mendengus kasar, ia memutar tubuh mungil Niki kembali menghadap ke arah dinding.


"Aku ngantuk, capek. Pembicaraanmu terlalu berat untuk malam ini." Farel menahan bahu istri kecilnya itu saat Niki berusaha kembali menghadapnya.


"Bapak seorang dosen, masak topik seperti ini berat."


"Tidurlah, Niki!" Tangan Farel yang semula di pundak pindah dan memaksa menutup mata istrinya.


Farel memejamkan matanya sangat rapat. Ia mencoba mengusir perasaan tidak nyaman akibat ungkapan Niki yang katanya telah salah menilai perasaannya. Mengapa rasanya lebih sakit daripada saat Marisa meminta pisah. Padahal istri pertamanya itu, sudah mengkhianatinya dan secara terang-terangan selingkuh selama bertahun-tahun.


Niki diam tak bergerak. Ia merasakan dengusan nafas Farel yang tidak beraturan di tengkuknya. Gemeletuk gigi suaminya pun terdengar di telinganya. Dada suaminya merapat pada punggungnya membuat ia semakin lama merasa nyaman dan terlelap.


Esok paginya, keduanya terbangun dengan perasaan dan tubuh yang remuk. Niki yang semalam tetap bertahan dengan tubuh miring hingga pagi, merasa pegal sekujur badan. Farel yang sulit memejamkan mata karena takut akan esok hari membuat emosinya kurang baik.


"Kamu mau kemana?" tanya Farel menelisik penampilan istri kecilnya yang terlihat cantik namun santai di hari yang masih sangat pagi.


"Kampus."


"Ada kelas? Jam berapa? Nanti saja aku jemput sehabis ambil pakaian di rumah." Farel tanpa menunggu jawaban Niki langsung memutuskan sepihak.


Ia rencananya pulang ke rumah tempat tinggalnya bersama Marisa, untuk berganti pakaian dan mengambil semua barang miliknya yang masih ada di sana.


"Ada kuis jam sembilan," ucap Niki sembari merapikan rambutnya di depan kaca.


"Ini belum ada jam enam, Niki. Untuk apa kamu sepagi ini ke kampus?"'


"Aku sudah ketinggalan beberapa mata kuliah gara-gara ga masuk kemarin. Jadi mau ketemu sama Fera dan Tomi, mereka mau bantu kerjain tugas," ujar Niki sembari berjalan ke arah pintu kamar.


"Ketemu siapa? To ... Siapa?" Farel tersentak mendengar nama yang membuatnya tak bisa tidur semalam kembali disebut. Mengapa sepagi ini ia harus kembali mendengar nama itu? Nama itu akan membuat hari-harinya bakal semakin berantakan. Farel mengejar Niki yang sudah keluar dari kamar dan tidak berniat menjawab pertanyaannya.


"Ya udah, ayo." Farel mendengus mengalah.

__ADS_1


"Kemana?" Niki yang sedang menyesap teh hangatnya melirik bingung.


"Ke kampus 'kan?"


"Ga mau ah, malu. Aku berangkat sendiri." Niki menyesap teh hangatnya terburu-buru lalu melesat cepat ke arah pintu depan tanpa berpamitan pada suaminya.


"Jalan dulu, Ma." Tergesa Niki mencium tangan dan mengecup pipi Mamanya.


Farel tak sanggup mengejar Niki, ia duduk di kursi meja makan dengan tatapan kosong. Ia mulai merasakan penolakan dari istri kecilnya.


"Niki kok naik ojek?" tanya Mama Niki yang baru saja kembali masuk ke dalam rumah.


"Lagi ada perlu cepat di kampus," sahut Farel pelan, "Saya juga permisi jalan dulu." Farel berdiri dari duduknya lalu mengangguk sekilas pada orangtua Niki. Farel segera mengarahkan kendaraannya ke rumah di mana ia tinggal bersama dengan Marisa.


Sampai di rumahnya yang megah tanpa pagar, Farel langsung melangkah ke atas teras dan menekan bel pintu depan.


"Tuan." Pegawai rumah tangganya membuka pintu dengan raut wajah khawatir.


"Tadi pagi saya datang sudah seperti ini, maaf saya baru mau mulai membersihkan." Bu Siti yang hanya datang pagi dan pulang sore hari untuk membersihkan rumah Farel dan Marisa, juga tampak kalut melihat kondisi rumah yang tak seperti biasanya.


"Ibu di mana?"


"Sepertinya di kamar, tadi saya dengar suaranya." Bu Siti menunjuk ke arah lantai atas.


Farel bergegas naik ke kamarnya yang terletak di lantai dua. Sejak keduanya menikah, Marisa meminta agar mereka tidak tinggal satu kamar. Awalnya Farel menolak, tapi Marisa membujuknya dengan alasan butuh waktu untuk mencintainya. Namun waktu itu tidak kunjung tiba hingga usia pernikahan mereka menginjak tahun kedua, yang ada Marisa malah membatasi hubungannya dengan Farel dan memperdalam kisah asmaranya dengan Galih.


Farel mengetuk pintu kamarnya. Sebenarnya ia enggan bertemu dengan Marisa, tapi wanita itu sedang berada di kamarnya dan ia butuh barang-barangnya yang masih tertinggal di sana.


"Icha ...." Beberapa saat menunggu Marisa membukakan pintu untuknya, Farel mencoba untuk membuka sendiri.


Ruangan yang gelap dengan aroma alkhol yang menyengat, membuat Farel menutup hidungnya dengan tangan. Dari cahaya celah gorden yang tertutup, ia bisa melihat Marisa sedang duduk di tepi ranjang dengan tatapan nanar.

__ADS_1


Farel berjalan ke arah jendela dan membuka gorden serta jendela yang masih tertutup rapat.


"Farel ...." Marisa baru tersadar kehadiran orang lain di dalam kamar setelah ada seberkas cahaya yang masuk. Ia berdiri dengan sedikit sempoyongan. Rambut dan wajahnya kusut dengan bekas tumpahan minuman di gaunnya.


"Kamu kenapa? Ada apa kamu di sini?" Farel berusaha tidak melihat ke arah Marisa agar tidak ada lagi timbul rasa iba dan sayang.


"Kamu tanya ada apa? Aku di sini semalaman menunggu kamu pulang." Suara Marisa terdengar bergetar dan serak.


"Untuk apa kamu menungguku di sini? Bukankah kamu tidak akan mau menginjak lantai kamar ini?" ucap Farel dengan terus menghadap ke arah jendela yang terbuka.


"Farel ... Aku merindukanmu," ucap Marisa lirih.


"Keluarlah Marisa, pindah ke kamarmu. Aku mau segera meringkas barangku."


"Mulai malam ini aku akan pindah di sini," ucap Marisa mengabaikan perintah Farel.


"Silahkan, aku sudah tidak menggunakan kamar ini lagi. Rumah dan seisinya aku berikan untukmu."


"Maksudnya aku pindah ke kamar ini bersamamu, Farel. Kita akan hidup seperti layaknya suami istri. Marilah kita mulai dari awal lagi, aku mulai menyadari perasaanku padamu. Aku mencintaimu, Farel." Marisa memeluk tubuh Farel dari belakang.


"Jangan berharap terlalu jauh. Aku sudah cukup menunggumu selama dua tahun, dan semua sudah berakhir semalam." Farel berusaha melepaskan tangan Marisa yang melingkar di perutnya. Ia juga berusaha menahan dirinya agar tidak berbalik dan balas memeluk tubuh wanita yang masih ia cintai itu.


"Fareeeell, tolong jangan seperti ini. Aku yakin kamu masih mencintai aku. Aku bisa merasakan itu, Farel. Aku sanggup mencintaimu lebih dari Galiiihhh, beri aku waktu sekali lagiiiii. Aku akan lakukan apapun untuk kamuuuu ...." Marisa semakin mengeratkan pelukannya. Dadanya melekat erat dengan punggung Farel. Air matanya juga sudah membasahi kemeja putih yang dikenakan oleh Farel.


"Jangan seperti ini, Cha kita sudah bukan lagi suami istri."


"Gaak ... Gaakk! kamu suamiku dan tetap akan jadi suamiku. Kita bisa menikah lagi kalau itu yang kamu butuhkan." Marisa semakin mengeratkan pelukannya. "Aku mencintaimu Farel, kamu mencintaiku juga bukan?" bisik Marisa.


...❤️🤍...


Maafkaaaannn lama up nya 🙏🙏. Bulan ini padat banget, ada kegiatan yang harus total terlibat. Aku berusaha up tiap hari, apa daya kadang baru sedikit ngetik tugas memanggil. Lah, jadi curhat 🙈 🙏🙏

__ADS_1


Jangan kapok menunggu ya bestie 🙏🥰


__ADS_2