
"Kamu tahu ga tadi waktu kita makan sate, aku malu sama pengunjung yang lain waktu kamu bersihkan pinggiran gelas sebelum minum." Farel berkacak pinggang menghadap Niki. Jiwa otoriter dosennya muncul.
"Ow itu."
"Iya, lalu apa tanggapanmu?"
"Tanggapanku? Gelas itu ada kotorannya, jadi aku bersihkan dulu sebelum meminumnya," ucap Niki santai.
"Gelas itu tadi bersih, Niki. Apa yang kamu maksud kotor itu karena ada bekas bibirku?"
"Enggak." Niki menggeleng dan berjalan menjauh. Intonasi suara Farel semakin meninggi membuatnya tak nyaman.
"Kamu bohong. Kamu jijik denganku, hmm?" Farel maju menantangnya.
"Enggak." Gelengan Niki semakin kuat.
"Buktikan."
"Buktikan gimana?" Niki mulai waspada. Wajah garang dosennya terlihat menakutkan.
"Cium aku kalau tidak jijik seperti yang kamu bilang tadi."
"Ada-ada aja." Niki tertawa tapi canggung. Sungguh ia tidak menyangka permintaan suaminya.
'Ingat Niki, buatlah suamimu itu mengejarmu dan menginginkanmu bukan sebaliknya. Tapi ingat jangan pernah menolak, karena ia adalah suamimu dan ia berhak atas kamu. Kamu hanya cukup membuatnya melihat bahwa kamu pantas untuk dimiliki dan diperjuangkan.'
Kata-kata Maura terngiang kembali di telinganya.
"Kenapa? Kalau jijik tak apa, bilang aja biar aku sadar diri." Farel mengeratkan rahangnya. Harga diri sebagai suami dan dosen jatuh seketika.
"Aku ga jijik, aku cuman takut kalau aku cium duluan Mas Farel menganggap aku wanita murahan seperti kemarin." Niki menyunggingkan senyum sinisnya.
"Aku tidak pernah mengatakan kamu wanita murahan. Itu hanya pikiranmu saja."
"Aku juga tidak pernah mengatakan jijik, itu hanya pikiran Mas Farel aja," balas Niki puas.
"Oke, aku tidak pernah menganggap kamu murahan. Kamu salah sangka, kalau perkataanku kemarin sudah menyakiti hatimu aku minta maaf," ucap Farel sepenuh hati.
__ADS_1
"Oke, aku maafkan," sahut Niki pelan.
"Lalu?"
"Lalu?" Niki melirik bingung.
"Apa buktimu kalau tidak jijik sama aku?"
"Masih perlu pembuktian?"
"Tentu."
"Bilang aja minta dicium," ujar Niki sewot. Suaminya itu masih tegap berdiri di hadapannya dengan wajah serius.
"Gelas itu bekas bibirku, pembuktian apa yang kiranya bisa menunjukkan kalau kamu tidak jijik bersentuhan bibir dengan suamimu?" Farel kembali menantang istri kecilnya.
"Oke, siapa takut." Niki berdiri lalu berjalan mendekat dengan angkuh. Mungkin jika ia sedang tidak menjalani taktik tarik ulur layangan, ia akan melompat-lompat kegirangan.
Perlahan Niki mendekat, jaraknya dengan Farel hamya sejengkal saja. Tubuh dosennya yang jauh lebih tinggi membuatnya terpaksa harus mendongakkan kepala. Sialnya, Farel juga menjalankan aksi jual mahal. Pria itu tidak memudahkan tugas Niki, ia tidak berusaha mendekatkan bibirnya. Kepalanya tegak lurus menghadap ke depan, hanya matanya melirik ke arah bawah. Sejenak mereka bertatapan, saling canggung dan menantang.
"See, aku ga jijik 'kan." Niki mundur dua langkah seraya tersenyum penuh kemenangan.
"Heh, alasan. Mana bisa seperti itu bisa membuktikan." Farel tertawa meremehkan.
"Lalu mintanya yang seperti apa?" Niki melirik curiga. Ia tahu kemana arah permintaan dosennya.
"Menurutmu seperti apa?" Farel balik bertanya.
Cih, dasar dosen mesum. Rupanya sama aja, tapi ingat kamu pernah menolakku tidak segampang itu aku luluh lagi. Lihat saja, Niki akan buat Farel Pratama dosen yang sok dingin ini menginginkan lebih dari sekedar ciuman.
Niki meneguhkan hatinya. Ia tidak boleh lemah dengan pesona Farel, karena tidak ingin kecewa lagi sebelum yakin kalau suaminya benar-benar menginginkannya.
Niki berjalan maju lagi, kali ini disertai dengan tatapan sensual tapi masih tetap angkuh. Gerakannya diperhalus dan lembut. Saat keduanya berhadapan seperti tadi, Niki menghembuskan nafasnya sangat pelan.
Tangannya terangkat ke wajah Farel dan dengan jemarinya, ia menutup mata suaminya dengan sangat lembut. Bagai terhipnotis, Farel tidak menolak perlakuan Niki. Ia menutup matanya dengan dada berdebar menanti apa yang akan di lakukan istri kecilnya yang nakal.
Niki tersenyum melihat jakun Farel naik turun tak beraturan. Dengan gerakan lembut dan samar, jarinya semakin turun melewati rahang dan jakun lalu berakhir di tengkuk suaminya.
__ADS_1
Niki menarik lembut tengkuk Farel dan bergantung di sana. Ia berjinjit dan mulai menempelkan bibirnya. Niki berusaha mengendalikan degub jantungnya, ia tidak mau Farel tahu kalau ia pun gugup dan menginginkan hal ini. Niki tak langsung melu mat bibir Farel, ia hanya menempelkan bibirnya dengan sedikit terbuka.
Bibir Farel berkedut, ia tidak sabar dengan perlakuan Niki yang menggantungnya. Ingin sekali ia mengambil alih, tapi egonya mengatakan harus menunggu sedikit lagi.
Mulai dari gerakan perlahan, Niki mencium suaminya dengan sangat lembut. Ini bukanlah ciuman pertama mereka, jadi bukan hal yang aneh ataupun memalukan seharusnya. Namun karena masing-masing memasang tembok yang tinggi, ciuman sederhana terasa begitu menegangkan.
Niki mulai menggerakan bibirnya, ia memagut bibir Farel dengan sangat lembut. Suaminya itu tetap diam bergeming tak juga menggerakan bibirnya. Niki berusaha mengendalikan pikiran serta perasaannya, jangan sampai ia ikut hanyut dalam permainannya sendiri.
Bibir Niki yang lembut mempermainkan bibirnya membuat pertahanan Farel runtuh sedikit demi sedikit. Dosen muda itu membalas sesapan lembut bibir istrinya, kedua tangannya yang semula hanya menggantung di sisi tubuhnya, perlahan naik dan melingkar di pinggang Niki.
Niki tersenyum di sela ciumannya, ia senang Farel mulai merespon tindakannya. Andaikan saja hubungan mereka normal seperti layaknya pasangan suami istri pada umumnya, tentu ia akan lebih bersemangat lagi menyenangkan suaminya.
Terdengar dengusan nafas Farel yang semakin cepat, pelukan tangannya semakin menghimpit tubuh Niki. Pagutan bibirnya semakin memanas. Kini Farel mulai mengambil alih dominasi kegiatan mereka.
Dengan gerakan cepat Niki melepas tautan bibir mereka dan melangkah mundur.
"Tuh, benar 'kan aku ga jijik," ucapnya santai. Tanpa merasa bersalah, gadis itu tersenyum lebar.
Farel masih dalam poisisnya, dengan tangan masih terbuka setengah melingkar seakan masih memeluk seseorang. Mulut setengah terbuka dengan nafas masih menderu. Ia masih terjebak di ambang kenikmatan yang belum tercapai sepenuhnya.
Butuh waktu beberapa saat untuk dapat menguasai keadaan. Farel berusaha menetralkan ritme jantungnya yang tadi sempat naik saat berciuman. Sesuatu di bawah sana terasa masih berdenyut siap menunjukan kemampuannya.
Sungguh sangat menyiksanya lahir dan batin, tapi lihatlah istri kecilnya itu dengan senyum lebar seakan tidak tahu bagaimana sulitnya seorang pria yang sudah naik hawa nafsunya harus terputus di tengah jalan.
...❤️🤍...
Hai mampir yuk ke novel tamatku yang lain. Judulnya : CEO dingin kau Milikku
“I Love You Alexander!” teriak Hanum pada pria tampan yang sedang menggiring bola basket saat pertandingan persahabatan di sekolahnya. Kejadian itu membuatnya jadi bahan tertawaan semua siswa di sekolah, karena ia yang kuno dan berpenampilan norak serta tidak menarik, berani menyatakan cinta pada Alexander, seorang pria tampan pewaris perusahaan property terbesar di daerahnya.
“Apa kelebihanmu selain produksi minyak di wajahmu dan tumpukan lemak yang berlebihan?”
“Alexander, aku pastikan semua bayi yang aku lahirkan nanti akan memanggilmu Papa,” tekad Hanum.
Bukan Hanum namanya, jika tidak bisa membuat Alexander Putra, CEO yang dingin bertekuk lutut di hadapannya.
__ADS_1