Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Tak seindah yang diharapkan


__ADS_3

Ctaaakk!


"Aiish." Niki mengusap-usap keningnya yang terasa nyeri. Sudah dua kali ini Farel menyentil keningnya. Dua kali pula ia menanggung malu karena terlihat seperti wanita yang haus akan belaian. Rasa sakit yang dirasakannya tidak seberapa dibandingkan dengan rasa malu. Bagaimana tidak, awalnya ia yang malu-malu kucing enggan untuk di dekati dan di sentuh, sekarang malah terlihat lebih agresif.


"Apa yang ada di sini, hmm?" Farel mengetuk-ngetuk dahinya dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelah tangannya lagi sudah melingkar di bahu Niki tanpa gadis itu sadari.


"Ga mikirin apa-apa kok," kelit Niki. Ia sengaja menundukan kepalanya dalam-dalam sehingga rambutnya yang panjang menjuntai menutupi wajahnya yang memerah menahan malu.


"Kalau ga mikir yang aneh-aneh kenapa pipimu merah, matanya ditutup, bibirnya kebuka? Pingin dicium lagi?" goda Farel. Sesungguhnya ia pun ingin sekali mengulangi adegan mesra yang sering mereka lakukan saat di apartement, tapi Farel tidak mau jika hanya ia saja yang menginginkannya.


"Iiihh, ngaco! Mana ada seperti itu." Niki mencubit pinggang Farel gemas.


"Kenapa harus malu?" Farel menangkap tangan Niki yang bersarang di pinggangnya.


"Pak Farel ini godain terus." Niki mencebikkan bibirnya kesal.


"Mas," ralat Farel.


"Ha? hahahaha ...." Niki tergelak geli mendengar sebutan yang diucapkan dosennya itu.


"Kenapa ketawa?"


"Lucu, Bapak sok muda mintanya dipanggil Mas." Niki masih tergelak geli tanpa ia sadari tubuhnya sudah menempel erat dengan tubuh suaminya.


"Ada yang salah dengan panggilan Mas? Saya memang dosenmu, kalau di kampus benar kamu harus memanggil saya dengan sebutan Pak Dosen, tapi kalau di luar kampus apalagi di dalam kamar seperti ini sebutannya harus beda," ucap Farel setengah berbisik di telinga Niki.


"Geli ah, Pak." Niki berusaha beringsut menjauh karena merasa risih dengan hembusan nafas Farel di daun telinganya.


"Coba ulangi, saya ingin dengar." Farel menahan badan Niki tetap melekat dengannya.

__ADS_1


"Mas," ucap Niki asal


Ctaakk! "Yang sopan." Farel menyentil daun telinga istri kecilnya.


"Iishh, kenapa sih sukanya nyakitin!" Niki menoleh ke arah suaminya dengan pandangan kesal.


"Saya dosen sekaligus suamimu, kewajiban saya mengajarimu tata krama, ayo ulangi," titah Farel.


"Mas!" ulang Niki semakin terdengar ketus. Ia seorang anak tunggal yang menjadi putri kesayangan ayahnya dan selalu diperlakukan bak ratu di dalam rumah, merasa tidak suka dengan aturan yang diciptakan oleh suaminya.


Tiba-tiba nafas Niki terasa sesak oleh sumbatan bibir Farel. Pria itu mengangkat dagunya lalu menciumnya tanpa jeda. Farel tidak membiarkan istri kecilnya itu melepaskan diri, walaupun di dalam dekapannya gadis itu sudah menggelepar-gelepar kehabisan udara, ia semakin memperdalam ciumannya.


"Hhh ... Hhhh ... Pak Fareeell!" Niki mendorong dan memukul dada suaminya dengan kesal. Nafasnya terasa hampir berhenti kalau ia tidak mengginggit kecil bibir suaminya itu.


"Mau lagi?" tanya Farel dengan senyuman miring, ia mengusap bibirnya yang terasa sedikit perih akibat serangan Niki.


"Ga suka! Kasar." Niki mencebikkan bibirnya kesal.


"Ga mau!" Niki melipat kedua tangannya di depan dada. Ia merasa kesal dan sangat jengkel sekali. Tidak munafik ia ingin dicium, tapi tidak seperti itu yang ia inginkan.


Farel menarik kembali pinggang Niki yang sempat menjauh darinya. Dengan gemas ia kembali mencium bibir yang sudah membuatnya candu itu. Farel mulai mel umat bibir Niki dengan lembut namun menuntut.


Niki yang mulai terbuai dengan sentuhan bibir Farel, membiarkan suaminya itu berbuat sesuka hatinya. Niki bahkan sudah tidak menolak saat bibir dosennya itu sudah turun ke lehernya.


"Kenapa tidak mau panggil, Mas?" bisik Farel di telinga istri kecilnya. Niki menggeleng seraya menggeliatkan tubuhnya.


"Ga mau panggil Mas, yang lain aja," ucap Niki setengah mende sah.


"Apa?" Bibir Farel semakin turun ke arah belahan dada Niki yang masih tertutup kaos.

__ADS_1


"Sayang," ucap Niki lalu menggigit bibir bawahnya berusaha menahan gejolak hasrat yang siap meledak.


Farel menghentikan penjelajahannya, ia menangkat kepalanya dan menatap wajah Niki. Gadis itu balas menatapnya dengan sorot mata yang sayu namun penuh tanda tanya.


"Kamu mencintaiku, Niki?" tanya Farel seraya mengusap kepala dan rambut istri kecilnya. Niki menganggukan kepala tak sabar. Ia sedang menunggu kelanjutan aksi Farel pada tubuhnya. Sudah lama ia menanti saat ini, sensasi sentuhan pertama yang ia rasakan dengan orang yang spesial di hidupnya dan dalam hubungan yang sah.


"Mengapa?" tanya Farel lagi.


"Ga tau, suka aja," sahut Niki resah. Tubuhnya terus menggeliat tak sabar.


Farel tersenyum melihat reaksi yang diperlihatkan oleh Niki. Sebagai pria normal yang sudah paham dengan hubungan intim, ia sangat tahu apa yang diinginkan oleh istri kecilnya itu. Tatapan mata yang meminta dan memohon, bibir yang setengah terbuka serta nafas yang tidak beraturan menandakan gadis yang di bawah kukungannya itu menginginkan dia menyentuhnya lebih jauh lagi.


Namun Farel tidak begitu saja langsung memanfaatkan situasi. Memang benar ia dan Niki adalah pasangan suami istri yang sah dan tidak ada salahnya mereka melakukan hal itu, tapi jika rasa cinta belum sepenuhnya tumbuh di hatinya ia tidak tega menyentuh istri kecilnya lebih intim lagi.


Maafkan aku, Niki. Beri aku waktu sedikit lagi untuk selesai dengan kisah masa laluku. Aku harap kamu mau bersabar dan mengerti.


Pikiran Farel melayang ke lantai tujuh, belum setengah hari statusnya dengan Marisa berubah menjadi mantan, tentu masih ada serpihan rasa yang tertinggal di sudut hatinya. Ia tidak mau menjadikan Niki sebagai pelampiasan atau pelarian. Ia ingin memulai hidupnya dari awal bersama istri kecilnya ini.


"Tidurlah, kamu pasti lelah kerja jadi badut kelinci." Farel mengecup seluruh wajah Niki dan merapikan kaos bagian atas yang sudah kusut akibat perbuatan tangannya.


Ia tahu Niki sedang kecewa dan berusaha menahan marah karena hasratnya tidak terpenuhi. Tak hanya Niki, ia pun berusaha meredam gejolak hasrat yang berontak di antara kedua kakinya. Namun Farel tidak ingin melakukannya saat ini karena hanya dilandasi oleh naf su dan rasa kecewa pada Marisa. Suatu saat nanti, ia akan melakukannya disertai dengan rasa cinta yang utuh pada wanita yang berada dipelukannya sekarang ini.


Tak ada pembicaraan lebih lanjut setelah ucapan Farel terakhir tadi. Pria itu langsung mematikan lampu dan merengkuhnya dalam pelukan, tapi dengan alasan gerah Niki lantas bergeser menjauh dan membelakangi suaminya lalu memeluk gulingnya dengan erat.


Niki masih merasakan usapan lembut pada rambut serta punggungnya. Air matanya kembali mengalir, ia merasa ditolak oleh suaminya sendiri. Perasaan tak berharga dan rendah diri kembali mengusiknya. Ia mulai membanding-bandingkan tubuhnya dengan milik Marisa.


Mengagumi dari jauh ternyata lebih indah daripada memilikimu. Isak Niki dalam tidurnya.


...❤️🤍...

__ADS_1


Mampir ke karya temanku yuk



__ADS_2