Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Rencana


__ADS_3

Pelukan mereka berdua otomatis terlepas ketika pintu kamar diketuk, "Rel, ini Mama."


"Masuk aja, Ma," ujar Farel sembari membuka pintu kamar untuk Mamanya, sedangkan Niki duduk di tepi ranjang berusaha bersikap wajar setelah dilambungkan tinggi oleh suaminya.


"Maaf Mama mengganggu." Wajah Mama tampak letih dan kuyu. Beliau langsung masuk dan duduk bersandar di kursi rias setelah dibukakan pintu oleh putranya.


"Tentang Marisa?" tebak Farel.


"Dia baru saja tidur," ucap Mama singkat sembari terpekur menatap lantai.


"Tadi aku mendatangi kantor Galih, tapi belum dapat hasil yang memuaskan." Farel menghela nafas, begitu juga Mamanya. Niki hanya memandangi mereka berdua secara bergantian, "Ia malah mengatakan kalau aku yang harus bertanggungjawab karena Marisa saat mengandung masih tercatat resmi sebagai istriku."


Farel memegang tangan Niki saat melihat gadis itu tak nyaman dengan apa yang ia katakan. Tanpa mengeluarkan kata-kata dengan isyarat mata, ia mengatakan pada istrinya jangan khawatir, semua akan baik-baik saja.


"Ma, berapa usia kandungan Marisa?" tanya Farel masih dengan menggenggam tangan Niki.


"Mama mana tahu, selama tinggal di sini belum pernah Mama lihat dia periksa."


"Kalau begitu, besok kita bawa dia periksa. Kamu ikut ya," pinta Farel pada Niki lembut.


Ia tidak ingin kemesraan semalam rusak gara-gara salah paham yang tidak perlu. Ia menegaskan dalam pikirannya, permasalahan Marisa bukan sebagian dari kehidupannya. Melainkan rasa pedulinya sebagai sesama manusia, maka ia wajib menolongnya.


Besok paginya mereka bertiga sudah siap menemani Marisa memeriksakan kandungannya. Mantan istri Farel itu duduk menghadap meja makan dengan tatapan kosong. Di sampingnya, Mama dengan sendok di tangan tampak membujuknya untuk membuka mulut.


"Kenapa, Ma?" tanya Farel dengan sedikit berbisik.


"Dari semalam ga mau makan."


Farel menatap Marisa sedih, mantan istrinya itu terlihat semakin kurus dan tak terawat. Di satu sisi ia merasa kasihan dengan Marisa yang seperti mayat hidup, tapi di sisi lainnya ia tidak mau istri kecilnya berpikiran buruk jika ia terlampau peduli dengan Marisa.


Seolah tahu dengan apa yang ada di kepala Farel, Niki mendekati mertuanya dan mengambil alih sendok serta piring dari tangan Mama Farel, "Aku coba ya, Ma."


Sebelum ia menyodorkan sendok berisi nasi, Niki mengusap tangan Marisa lembut. Merasakan ada sosok lain di dekatnya, Marisa mengerjapkan mata dan menoleh ke arah Niki.


"Kenapa ga mau makan? Kalau lemas gini, nanti aku ga punya lawan untuk di jutekin."

__ADS_1


Marisa mengangkat sebelah bibirnya sedikit. Ia tidak punya tenaga untuk menjawab apalagi berdebat dengan Niki. Pikirannya dipenuhi oleh Galih. Marisa menarik tangan Niki lalu menaruhnya di atas perutnya.


"Bantu aku," ucap Marisa lirih.


"Bagaimana aku mau bantu kalau Mba Marisa tidak mau makan?" Niki memasang wajah garang lalu mengarahkan sendok ke mulut Marisa. Begitu Marisa membuka mulut dan menerima suapan dari Niki, Mama dan Farel dapat tersenyum lega.


Sepanjang perjalanan ke dokter kandungan, walaupun suasana dibuat seceria mungkin Marisa sama sekali tidak terpengaruh. Ia hanya menatap kaca di samping dan sesekali melirik layar ponselnya.


Sampai di dokter kandungan, tak menunggu lama Marisa sudah boleh masuk dengan di dampingi oleh semua orang yang mengantarnya.


"Dengan Ibu Marisa Pratiwi ya, maaf ini siapanya ya?" Dokter kandungan itu menatap ke arah Farel dan Niki yang berdiri di belakang Marisa.


"Saya kakaknya dan ini istri saya, maaf kami ikut masuk karena adik saya kondisinya sedikit kurang baik, khawatir orangtua saya bingung dengan apa yang disampaikan dokter karena sudah lansia," ujar Farel memberi alasan. Kepala Marisa tertunduk semakin dalam saat Farel memperkenalkannya sebagai adik.


Dokter kandungan itu menatap ke arah Marisa yang sejak masuk hanya diam dan menunduk. Penampilannya yang tidak seperti ibu hamil pada umumnya, akhirnya Dokter memperbolehkan untuk Farel dan Niki tetap berada di dalam ruangan.


"Baik, saya periksa dulu ya." Dokter mengarahkan Marisa ke arah ranjang pasien dibantu oleh Mama Farel.


"Janin sehat ya, usia kurang lebih 20minggu," jelas Dokter sembari menggerak-gerakan alat USG di perut Marisa.


"Syukurlah sehat," ujar Mama sembari membantu mantan menantunya turun dari ranjang.


"Saya beri vitamin untuk ibu dan bayinya ya. Ibu harus makan banyak dan bergizi, karena berat badan bayi masih sangat kurang."


"Maaf, Dok 20minggu itu artinya sekitar lima bulan ya?" sela Farel.


"Benar."


"Kalau untuk tes DNA janin apa sudah bisa?" tanya Farel hati-hati. Dokter itu tampak tercenung sebentar lalu menatap Marisa kembali. Di dalam kepalanya melintas banyak dugaan tentang kondisi dari wanita di hadapannya itu.


"Usia janin yang aman untuk diambil sample DNA adalah 12minggu itu berarti ibu Marisa bisa menjalani proses cek DNA janin bayi."


"Aman 'kan, Dok?"


"Semua tindakan medis tentu ada resikonya, Pak. Ibu bisa mengalami keguguran," ucap Dokter itu dengan sangat hati-hati.

__ADS_1


"Syaratnya apa dan kapan saya bisa melakukan tes itu?" Bukan Farel yang bertanya melainkan Marisa. Ia yang sejak tadi terkesan tak peduli dengan hasil pemeriksaan, tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menatap Dokter dengan tegang.


"Syaratnya tentu kondisi ibu harus dalam keadaan sehat, melengkapi proses administratif dan bersedia mengikuti seluruh rangkaian prosedur pengambilan sampel yang di lakukan oleh Dokter atau rumah sakit yang dituju. Dan yang terpenting siap sampel fisik berupa helai rambut atau potongan kuku dari orangtua calon bayi," papar Dokter itu.


"Saya siap." Marisa mengangguk mengerti.


"Kamu yakin?" tanya Mama setelah mereka berada di dalam mobil.


"Setidaknya aku harus mencoba."


"Tapi dari mana kita dapat rambut atau potongan kuku Galih?"


"Aku akan memintanya," ucap Marisa tegas.


"Bagaimana kamu bisa minta itu? Dia pasti tidak akan memberikannya padamu, bertemu saja dia sudah tidak mengijinkannya," sahut Farel dari bangku depan.


"Aku dengar kamu sempat menemui Galih di kantornya? Aku dengar saat kalian ngobrol di kamar." Marisa memandang tiga orang lainnya yang saling bertatapan.


"Iya," sahut Farel singkat.


"Temani aku kesana."


"Tidak akan berhasil, aku sudah coba."


"Kita coba sekali lagi." Marisa bersikeras. Farel melirik Niki yang duduk disisinya. Begitu istrinya menganggukan kepala, ia pun menyanggupi permintaan Marisa.


Sesuai permintaan Marisa, Farel mencari tahu kapan mertua Galih datang ke kantor. Begitu ia mendapatkan informasi, Farel segera membawa Marisa ke kantor Galih. Ia sengaja melarang istri kecilnya untuk ikut, karena tak mau Niki terlalu masuk dalam persoalan Marisa yang rumit.


"Maaf, Pak anda tidak diterima di sini, silahkan pulang." Petugas keamaan kantor langsung menghadangnya dan Marisa sebelum mereka menginjakan kaki di lobby kantor.


Farel mengedarkan pandangannya mencoba mencari bantuan sepetri awal ia datang kemari, tapi sayangnya pagi itu suasana halaman gedung perkantoran Galih sangat sepi sekali.


"Galiiiihhh! Keluar kamu pengecut!" Farel tersentak ketika Marisa melepas sepatunya lalu melemparkannya ke pintu yang terbuat dari kaca.


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2