
Farel menahan tengkuk Niki, agar gadis itu tak bisa menghindar dari ciumannya. Ia ingin memberi pelajaran kecil yang menyenangkan untuk istri kecilnya ini. Niki sudah mulai menggelepar kehabisan nafas. Tangannya mendorong serta memukul dada suaminya, tapi Farel malah semakin memperdalam ciumannya.
"Mpphhuuaaah ... hhh ... hhhh." Niki akhirnya berhasil melepaskan diri. Ia berdiri dari pangkuan Farel, lalu segera menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.
"Masih harus banyak belajar ternyata, tapi mau belagak pintar. Sini aku ajarkan, bagaimana berciuman yang seharusnya." Farel kembali menarik tangan istrinya dan menghimpitnya bersandar dengan tembok. Sekali lagi ia menyumpal mulut Niki dengan bibirnya. Kali ini ia melakukannya penuh dengan has rat, tapi tetap lembut.
"Seperti ini yang kamu inginkan, Nik?" bisik Farel di sela-sela pagutannya. Niki tak sempat menjawab, suaminya itu kembali membungkam mulutnya dengan ******* panjang.
Nafas Farel semakin menderu, ia semakin larut dengan permainannya sendiri. Suara des ahan dan rintihan manja Niki, membuatnya semakin hilang akal. Bibirnya merambat ke arah telinga lalu turun ke leher Niki, membuat gadis itu bergantung pasrah pada suaminya. Farel menggiring Niki ke arah ranjang, sembari terus mengecup lehernya.
Niki bertahan dengan bergantung di leher Farel ketika pria itu akan menjatuhkannya di atas ranjang.
"Mm-Mas Farel mau apa?"
"Memberikan apa yang kamu inginkan," bisik Farel. Ia melepaskan tangan Niki yang bergelayut di lehernya, hingga istri kecilnya itu terjatuh di atas ranjang.
Farel kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Niki. Suara de sah dan rintihan dari bibir Niki semakin keras dan tak beraturan. Ia berusaha menahan tangan Farel yang berusaha membuka pakaian atasnya.
"Kenapa? Kamu menginginkan ini bukan? Sekarang aku yang menginginkanmu, Niki. Jangan mencoba untuk menolak dengan alasan apapun." Untuk kesekian kalinya, ia tidak memberikan kesempatan Niki untuk menyela atau menimpali perkataannya. Ia terus mendera istrinya itu dengan ciuman, kecupan serta gigitan-gigitan lembut yang semakin turun dari leher hingga mengarah ke bawah.
Pasrah dan bahagia itulah perasaan dan keadaan Niki sekarang. Ia bahagia karena merasa dimiliki sepenuhnya. Dosen sekaligus suaminya ini, memperlakukannya dengan sangat manis, lembut tapi juga bergairah dalam satu waktu yang bersamaan.
Ketika tubuh mereka mulai menyatu dengan sempurna, mata Farel tak lepas memandangi wajah istrinya. Wajah Niki semakin cantik di matanya saat istrinya itu mengerang antara menahan rasa sakit dan ga irah.
"Nikiii ... Sayaaang," desis Farel penuh perasaan. Jarinya mengusap peluh di kening Niki dan air mata yang menetes membasahi anak rambutnya, "I love you, sayang." Farel mengecup lembut kening dan rambut Niki.
Sepasang manusia beda usia itu saling memberi dan menerima, mereka berpacu oleh deru nafas dan detak jantung yang tak beraturan.
__ADS_1
Rintih kesakitan Niki, berubah menjadi eran gan dan de sahan yang membuat Farel semakin bersemangat. Tubuh Niki yang menggelinjang menahan gelombang asing yang terus menerus datang, membuat Farel merasa gila. Ia semakin mempercepat geraknya dengan ritme yang tak beraturan. Niki mempererat pelukannya saat merasakan adanya gelombang asing datang untuk yang kesekian kalinya. Ia menjerit kecil dan menyembuyikan wajahnya di dada suaminya.
Rasa cinta dan sayang Farel bertambah berlipat-lipat sesaat setelah ia menuntaskan hasratnya.
"Nikiii, i love you. Aku sayang kamu, Niki ... I love you, aku cinta kamu, sayang." Seperti tak habisnya Farel mengatakan hal yang sama berulang kali. Seluruh wajah Niki habis tak tersisa dikecupnya.
Pria itu tak mau beralih dari atas tubuh istrinya, "Engaapp." Niki mendorong tubuh Farel ke samping. Ia merasa pengap tak bisa bernafas lega karena dadanya tertekan oleh tubuh Farel.
Farel berbaring di sisi istrinya, tapi tetap tak mau jauh. Tubuhnya miring menghadap Niki dan merapat serta memeluknya.
"Tadi kamu nangis. Sakit sekali ya?"
"Perih."
"Sebentar aja 'kan, soalnya habis itu kamu cuman ah, ah ,ah aja." Farel mulai menggoda Niki. Menahan malu, dengan wajah memerah istri kecilnya itu menarik selimut menutupi wajahnya hingga ke atas kepala.
"Nik, kamu tahu apa resikonya setelah kamu dan aku melakukan hubungan suami istri seperti ini?"
"Itu juga, tapi ada juga yang lainnya."
"Apa?"
"Kamu tidak akan bebas seperi dulu. Aku tidak akan mengijinkan kamu bebas bergaul, punya teman atau dekat dengan pria manapun. Apalagi si Tomi."
"Bukannya dari dulu Mas Farel memang cerewet kalau masalah tentang Tomi?"
"Iya, dan kali ini aku bakalan lebih ketat masalah itu. Kamu miliku, Niki. Selamanya tetap milikku." Farel menatap mata Niki tajam seolah memberi label baru pada istrinya.
__ADS_1
"Jangan nakutin gitu lihatnya." Niki mendorong dada Farel, tapi suaminya itu malah semakin menghimpitnya dalam pelukan.
"Ini juga salah satu resikonya, Niki. Kamu tidak boleh menghindar ataupun jauh dari aku. Kamu sudah membuat aku ketagihan, kamu harus tanggung jawab." Farel berbisik sesekali menggigit daun telinga Niki. Tangan Farel di dalam selimut juga tidak mau diam, di dalam sana tangan itu berkelana ke dalam tempat-tempat yang gelap.
"Makanya jangan sembarangan menggoda laki-laki. Sekali pria tergoda, kamu tidak akan bisa lepas. Makanya jangan nakal!" ucap Farel ketika istrinya memohon agar ia menghentikan aksinya yang semakin brutal.
"Laki-laki yang aku goda cuman Mas Farel kok. Itu juga karena salah Mas Farel sendiri, sok jual mahal." Bibir Niki mencebik manja.
"Berarti sekarang kita nikmati kesalahan yang kita buat bersama." Farel menarik selimut dan menutupi tubuhnya dan tubuh Niki hingga ke ujung kepala. Selanjutnya yang terdengar hanyalah desah dan erangan dari keduanya.
Pagi harinya Niki baru merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Sendi, tulang hingga pangkal kakinya terasa perih dan pegal. Dilihatnya pria yang semalam menggagahinya. Pria yang murah senyum tapi sulit didekati saat berstatus dosen di kampus, ternyata sangat perkasa di atas ranjang.
Sekarang ia merasa lengkap sebagai istri, walupun pagi ini sekujur badannya remuk redam, karena ia tak menghitung berapa kali suaminya itu menjadikannya seperti boneka semalaman.
"Aaahhh!" Niki terkejut saat tangan Farel menariknya hingga ia jatuh di dalam pelukan. Padahal tadi ia merasa suaminya itu masih terlelap.
"Lihat apa, hhmm?" tanya Farel dengan suara serak. Matanya masih menutup lekat.
"Ga ada." Niki meronta sambil tertawa, ketika suaminya itu akan melakukannya lagi.
"Ssstt, apa aku sudah bilang kalau kamar ini tidak ada peredam suara."
"Terus kenapa?"
"Kira-kira suaramu semalam terdengar sampai keluar apa tidak ya."
"Ah, masa suaraku sekeras itu sih." Niki menggeleng tak percaya.
__ADS_1
"Kalau ga percaya, yuk kita buktikan." Tanpa aba-aba Farel kembali naik mengukung tubuh istrinya.
...❤️🤍...