Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Pertengkaran pertama


__ADS_3

Farel mengetuk pintu kamar Niki dari pelan hingga lebih keras, tapi istri kecilnya itu tidak kunjung membukakan pintu untuknya.


"Niik, Nikiii!" Farel mengetuk semakin keras ditambah menggerak-gerakan pegangan pintu kamar. Ia bukannya sedang bertindak kasar, tapi khawatir Niki melakukan hal konyol karena usianya yang masih labil.


Pintu terbuka sedikit, wajah Niki mengintip dari celah pintu kamar. Sebagian wajahnya tertutup oleh masker dan kepalanya memakai hoodie sehingga hanya matanya yang sembab terlihat sayu.


"Kenapa lama?" Farel mendorong pintu kamar agar lebih terbuka.


"Lagi tidur." Niki menahan pintu dengan sebelah kakinya agar tidak semakin terbuka.


"Tidur pakai baju seperti itu? Kenapa pakai masker juga?" Farel berusaha menarik turun masker yang menutup sebagian wajah dari Niki. Namun istri kecilnya itu lebih cepat berkelit sehingga tangan Farel hanya menyentuh angin.


"Dingin."


"Mamamu panggil untuk makan, keluar dulu." Farel menarik tangan Niki keluar dari kamar.


"Aku kenyang, mau tidur." Niki menepis tangan suaminya lalu mendorong pintu agar terutup kembali.


"Niki!" Tangan Farel menahan pintu agar tidak tertutup sedangkan kakinya ia selipkan di celah pintu. Walaupun sedikit nyeri karena kakinya terjepit, Farel berusaha menahan rasa sakitnya dari pada istrinya itu menghilang lagi di balik pintu kamar.


"Kamu kenapa sih?!" Farel lebih keras mendorong pintu kamar Niki dan segera masuk begitu pintu terbuka lebar.


"Pak Farel yang kenapa, main terobos aja masuk ke dalam kamar. Apa Bapak ga pernah belajar etika, masuk ke dalam kamar perempuan tanpa permisi dan memaksa," seru Niki dengan suara serak.


"Saya suamimu Niki, masuk ke dalam kamarmu bahkan tidur di ranjangmu pun tidak ada yang salah. Kamu kenapa sih? Jangan kekanakan. Kalau ada yang salah, bicara jangan seperti ini!" Farel ikut emosi dan berseru dengan suara tertahan karena takut kedua orangtua Niki di luar ikut mendengar pertengkaran mereka. Tubuhnya yang lelah ditambah beban pikiran tentang Marisa dan perut yang kosong melengkapi penderitaannya siang ini.


"Aku hanya mau tidur! Kenapa harus dipermasalahkan?!" seru Niki. Air matanya mulai menetes lagi.


"Jangan berbohong, sejak pagi kamu melihatku seperti musuh, katakan ada apa?" Farel berjalan mendekati Niki dan menarik tangannya.


"Keluar! Aku mau tidur, hanya mau tidur! Jangan ganggu aku!" Niki menghempaskan tangan suaminya lalu mendorong tubuhnya dengan keras. Ia merasa sangat muak dan benci melihat wajah suaminya. Rasa kagum dan cinta yang pernah ia rasakan dulu tiba-tiba menguap entah kemana.


"Jangan kesana, Pa. Kita tunggu di sini saja." Mama Niki menahan tangan suaminya yang sudah akan mengarah ke kamar putrinya.


"Niki sedang ada masalah, Ma." Papa Niki bersikeras tetap ingin menemui putrinya di dalam kamar.


"Dia sudah punya suami, Pa. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri."

__ADS_1


Papa Niki mengalah, ia kembali duduk tapi tubuhnya masih menegang dan matanya terus mengarah ke pintu kamar putrinya yang berada di lantai dua.


Sementara itu di dalam kamar, kedua sejoli masih terus beristegang tanpa ada yang mau mengalah.


"Aku capek, Niki! Kalau kamu begini terus, tidak mau bicara bagaimana aku bisa tahu isi yang ada di dalam kepalamu?"


"Aku mau sendiri, keluar." Suara Niki sudah mulai terdengar melemah. Ia menutup kedua telinga serta matanya tak mau menatap suaminya.


Suara hardikan Farel semakin menambah lebar luka di dalam hatinya. Mengapa Farel bisa bicara lembut dengan Marisa sedangkan dengannya harus ketus dan tidak sabar?


"Tolong jangan begini Niki, apa kata mama dan Papamu lihat kamu seperti ini. Mereka akan menyalahkanku karena sikapmu." Farel kembali berusaha menggapai Niki yang terus menghindarinya.


"Aku cuman mau sendiri."


"Setidaknya keluar dan makan, tunjukkan pada Papa dan Mamamu kalau keadaanmu baik-baik saja seperti yang kamu katakan." Farel terus memaksa karena ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun.


"Tidak bisakah aku punya keinginan sendiri? Aku cuman mau tidur dan sendiri," pinta Niki dengan nada memohon. Ia juga lelah tubuh dan batinnya. Raganya yang lelah setelah semalaman harus berjoget di dalam tubuh badut kelinci, tapi saat malam ia kesulitan memejamkan mata karena rasa sakit hatinya.


"Jangan seperti anak kecil, Niki!" Suara Farel semakin lantang terdengar.


"Aku tidak sedang membandingkan kamu dengan Marisa, ada apa denganmu?" Farel semakin frustasi, ia mengusap rambut dan wajahnya kasar, "Kita pulang," putus Farel. Ia khawatir kedua mertuanya mendengar lalu salah paham dengannya.


"Aku sudah pulang," ujar Niki.


"Pulang ke tempat kita, Niki."


"Ini tempatku, ini rumahku!"


"Niki!"


Sejenak keduanya saling menatap penuh emosi. Nafas Niki tersengal-sengal begitu juga tangan Farel mengepal menahan amarah yang bergejolak.


Tok ... Tok ... Tok


"Niki." Suara Papa Niki yang memanggil dari balik pintu kamar membuat ketegangan keduanya mengendur.


Farel membuka pintu kamar, sebelumnya berulangkali mengatur nafasnya agar emosinya sedikit mereda lalu melirik ke arah Niki dan memberikan kode melalui isyarat matanya agar istrinya itu ikut juga menahan emosi.

__ADS_1


"Kalian ga makan?" Mata Papa Niki menelisik keduanya setelah pintu terbuka.


"Kami memang mau turun, Om. Maaf lama, Niki tadi masih di toilet," ujar Farel sembari melirik istrinya. Papa Niki menganggukan kepala, lalu turun meninggalkan putri dan anak mantunya.


"Nanti kita bicarakan lagi, sekarang turun dulu kasihan Mama sama Papa menunggu kamu makan." Farel mengulurkan tangan ingin menggenggam tangan Niki, namun istrinya itu mengabaikannya dan berjalan terus melewatinya. Farel mendesah lelah lalu mengikuti langkah Niki dari arah belakang.


Keempatnya makan dalam diam. Sesekali mama dan Papa Niki melirik ke arah putrinya. Mereka mencari tanda kekerasan pada tubuh Niki. Kekhawatiran orangtua adalah buah hati mereka tersakiti secara fisik dan hatinya.


Setelah keduanya yakin Farel tidak menyakiti tubuh putri satu-satunya, papa dan mama Niki saling memandang dan mengangguk bersamaan.


"Setelah ini apa rencana kalian?" tanya Papa Niki.


"Pulang ke apartement, Om."


"Aku mau tinggal di sini aja," ucap Niki.


"Nikiii ...." Farel menatap istrinya sedih.


"Kenapa?" potong Papa Niki.


"Aku cuman pingin tinggal sama Papa dan Mama."


"Boleh, nanti kita ganti tempat tidurmu dengan yang lebih besar supaya muat untuk kalian berdua. Sementara ini kalian harus puas berbagi dengan tempat tidur yang kecil," ujar Mama Niki.


"Aku ga mau berbagi kamar apalagi tempat tidur dengan orang lain, Ma," protes Niki.


"Orang lain siapa, Niki? Farel suamimu, dia bukan orang lain."


"Aku ga mau!" ucap Niki ketus.


"Mau tidak mau kamu harus menerimanya. Selama Farel masih menjadi suamimu, dia punya hak sebagian dari milikmu dan kamu harus menghormatinya," jelas Papa Niki.


"Paa! Niki ...."


"Farel, bawa istrimu ke dalam kamar. Sepertinya dia sudah lelah, kalau dia masih bersikap yang sama silahkan kamu bawa dia ke apartementmu," ucap Papa tegas.


...❤️🤍...

__ADS_1


__ADS_2