
"Kurang lebih 45menit lagi," ucap Alvin seraya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baiklah, saya tunggu di sana," ujar Farel sembari menunjuk sofa yang disediakan di lobby hotel. Bahu Niki terkulai lemas saat Farel memilih tempat duduk yang mengarah tepat di areanya bekerja.
Selama sisa waktunya bekerja, Niki merasa sangat tersiksa. Semua gerak-geriknya di bawah pengawasan Farel. Gerak dan goyangannya tidak semangat seperti di awal pertunjukannya lagi. Permintaan foto tetap ia layani, tapi dengan gerakan malas. Tidak ada seorangpun yang tahu, wajah di balik kostum lucu itu sedang ketakutan dan sudah hampir menangis.
Begitu jam kerja berakhir, Niki segera masuk ke ruang ganti karyawan. Farel tentu tidak begitu saja membiarkan Istri kecilnya lolos lagi, ia pun segera membuntuti Niki dan berdiri tepat di depan pintu ruang ganti.
"Dia menunggumu di luar," ujar Alvin sembari membantu Niki membuka kostum maskotnya. Niki menoleh kearah pintu keluar, dari kaca bundar yang menempel di pintu masuk ia dapat melihat Farel berjalan mondar mandir dengan gelisah.
"Kamu lari dari rumah?" selidik Alvin. Niki menunduk menghindari tatapan curiga dari rekan kerjanya. Ia takut jika ketahuan seperti itu, dirinya akan tidak bisa bekerja lagi.
"Dia ayahmu atau kakakmu?" tanya Alvin lagi. Niki mendongak dan menatap Alvin heran. Apakah setua itu Farel di mata Alvin.
"Bukan," sahut Niki singkat. Ia juga bingung mengartikan hubungannnya dengan Farel. Menyebutkan status sebagai mantan suami, sungguh sangat miris karena usianya yang masih sangat muda tapi sudah bercerai.
"Kalau orang itu ada niat jahat, kamu bilang aja. Aku bisa lapor sama petugas keamanan, biar dia diringkus," ucap Alvin semangat.
"Jangan!" seru Niki cepat. Mana tega membiarkan pria yang masih ia cintai ditangkap dan dipukuli, walaupun kenyataan Farel sudah menyakiti hatinya.
"Ya sudah, temui sekarang. Dia sepertinya tidak akan pergi, kalau belum melihat siapa yang ada di dalam kostum maskot ini."
Niki memandang sekelilingnya dan mendesah kesal karena tidak ada orang lain selain mereka berdua dalam ruang ganti ini. Jika ada orang lain, mungkin ia bisa minta tolong untuk berpura-pura menjadi orang dalam kostum maskot. Pintu keluarpun hanya satu dan itu langsung berhadapan dengan Farel begitu ia membuka pintunya. Andaikan bisa menghilang atau berganti wujud, ia pasti akan melakukannya.
__ADS_1
Mata Alvin yang sudah lelah dan mengantuk membuat Niki tidak tega berlama-lama lagi di dalam ruang ganti. Ia tahu cepat atau lambat ia harus bertemu dan menghadapi pria yang masih menjadi dosennya itu. Toh dia tidak melakukan kesalahan apapun, mengapa ia harus takut dan menghindar. Justru Farel lah yang harus takut dan malu sudah mengingkari janji pernikahan mereka.
Niki berulang kali menarik nafas panjang dan menegakkan bahunya. Ia melangkah tegap ke arah pintu keluar, memegang pegangan pintu dan memutarnya.
"Niki!" Senyum Farel terkembang begitu lebar begitu melihat istri kecilnya di balik pintu yang terbuka lebar.
"Kenapa Bapak di sini?" tanya Niki dengan kepala tertunduk dan suara yang sangat lirih. Semangat dan keberanian yang sudah dikumpulkannya tadi menguap entah kemana.
"Kamu kemana saja? Harusnya saya yang tanya, kenapa kamu ada di sini sampai jadi badut segala?" Farel menangkup pipi mungil dihadapannya. Ia tidak tahan untuk tidak menyentuh wajah yang sangat ia rindukan itu.
"Suka-suka saya lah, Pak!" Niki menepis tangan Farel. Keberaniannya mendadak muncul karena merasa dipermainkan. Untuk apa Farel seenaknya menyentuh wajahnya kalau status antara mereka hanyalah sebatas dosen dan mahasiswinya.
"Bapak cari Mba Marisa 'kan? istri Bapak ada di kamar 717 tadi saya sempat dengar waktu mereka pesan kamar di reseptionist," ujar Niki ketus.
"Marisa?" Kening Farel berkerut dalam. Ia sudah lupa jika tujuan Niki mengiriminya pesan untuk mengabarkan perselingkuhan istri tuanya. Namun lucunya istri kecilnya itu tak tahu, kalau kabar tentang perselingkuhan Marisa tidaklah penting baginya. Jika tidak ada Niki di hotel itu, seperti biasa dia pun membiarkan Marisa berbuat sesuka hatinya.
"Saya tidak percaya," ujar Farel. Ia ingin sedikit menggoda Niki yang sangat terlihat rasa cemburunya.
"Saya sudah kirim semua fotonya, apa kurang jelas?" Mata Niki terbelalak tak percaya.
"Sedikit buram, jadi kurang begitu jelas wajahnya," ujar Farel memberi alasan.
"Jelas kok," Niki membuka ponselnya dan mengamati foto Marisa yang tadi ia kirimkan ke ponsel Farel, "Nih, coba Bapak lihat sendiri." Niki menyodorkan layar ponselnya yang terbuka ke depan wajah Farel.
__ADS_1
"Mmm, mungkin itu temannya. Mereka kesini mungkin karena ada acara," ujar Farel santai.
"Mereka hanya berdua, Pak. Pesan kamar. Pria dan wanita pesan kamar hanya satu mau ngapain coba? Tuh apa Bapak ga lihat, mereka mesra sekali loh masak Bapak ga ada curiganya?" Niki mulai habis kesabarannya. Kalimatnya semakin panjang serta cepat dan nada suaranya semakin meninggi karena emosi.
"Saya mau percaya bagaimana, karena saya tidak lihat sendiri mereka hanya berdua di dalam kamar. Kalau hanya foto seperti ini bisa sejuta arti." Farel masih berucap dengan sangat tenang. Ia sangat menikmati kepanikan dan emosi istri kecilnya.
"Ya udah, kalau Bapak ga percaya lihat saja sendiri di kamar 717!" seru Niki sembari menunjuk ke lantai atas.
"Boleh juga usulmu, tapi kamu juga harus ikut. Saya ga mau nanti ketok kamar tahu-tahu yang keluar orang lain. Bisa saja kamu kerjain saya 'kan?" Farel memasang wajah curiga agar Niki mau mengikuti permainannya.
"Oke, Bapak kira saya mau fitnah Mba Marisa? Saya ga takut, ayo!" Niki melangkah tegas dan cepat ke arah lift yang akan membawa mereka ke lantai atas.
"Tunggu sebentar, kamu tunggu di sini. Awas jangan berani kemana-mana," titah Farel sebelum jari lentik Niki menekan tombol lift agar terbuka. Ia berjalan ke arah meja reseptionist dan berbisik sesuatu di sana. Hanya beberapa menit Farel di depan reseptionist, lalu ia kembali dengan wajah dan senyum yang sangat cerah.
"Ngapain?" tanya Niki. Ia merasa sedikit heran, wajah dosennya itu sama sekali tidak mengesankan seorang suami yang patah hati karena dikhianati.
"Ga ada, hanya memastikan apa yang kamu katakan tadi."
"Masih belum percaya? Nanti lihat aja sendiri, tapi jangan bilang saya pengadu. Saya cuman kasihan lihat Bapak dan berusaha melakukan yang menurut saya benar," ucap Niki dengan bibir cemberut. Farel semakin merasa gemas dan tak sabar untuk kembali merasakan lembut bibir istri kecilnya itu.
...❤️🤍...
Mampir ke karya temanku yaa
__ADS_1