
"Kok kamu duduk di situ, Nik? Turun dong, ada mama sama papamu datang nih." Mama Maura memanggilnya dari lantai bawah. Sejak tadi ia hanya duduk mengamati interaksi mereka sembari duduk di anak tangga.
Niki menuruni anak tangga dan menghampiri kedua orangtuanya, "Maaa, Niki kangen."
"Sama Papa ga kangen?" Papa Niki membuka tangannya lebar-lebar.
"Kangen juga dong, Pa." Pelukan Niki beralih ke Papanya.
"Kok kangen-kangenan kayak sudah lama ga ketemu aja sih?" Mama Maura mengernyit curiga.
Mama dan Papa Niki saling berpandangan bingung untuk menjawab.
"Waah, ada angin apa ini lama ga ada kabarnya tiba-tiba muncul."
Mama dan Papa Niki menghela nafas lega, mereka tak harus menjawab pertanyaan Mama Maura sekarang, karena suami dan putra sulungnya baru saja pulang dari tempat kerja mereka.
"Hei, apa kabar. Baru pulang?" Papa Niki dan Papa Maura saling bersalaman, "Waah, kamu sudah mirip sama Papamu, Wil." Papa Niki menepuk lengan kakak laki-laki Maura yang tubuhnya sudah sama besarnya dengan Papanya.
"Iya, dia lagi belajar pegang perusahaan, biar aku cepat menikmati masa tuaku dan bisa berduaan lagi." Papa Maura menggamit pinggang ramping istrinya, "Ayo silahkan duduk, ada berita apa ini tumben main kemari?"
"Kami mau menjemput Niki, sekalian mampir," ucap Mama Niki.
"Biar saja Niki di sini dulu, dia sudah lama tidak kemari," timpal Papa Maura.
"Niki manja banget kayak lama ga ketemu sama Mama," ujar Mama Maura menggoda Niki yang bergelayut di lengan Mamanya.
"Memang sudah lumayan lama, Tante."
"Kamu dari luar kota?"
"Gak, Niki sekarang tinggal sama suami," ucap Niki santai.
"Suami?!" Sontak penghuni rumah yang ada di ruang tamu itu terbelalak dan melongo bersamaan.
"Ah, bercanda kamu, Nik," ucap William kakak Maura yang lebih dulu tersadar.
"Benar, aku sudah menikah." Niki tetap melanjutkan penjelasannya meski Mamanya mencubit lengannya dan Papa memberi kode dengan matanya.
"Farel, yang tadi telepon kamu itu ... suamimu?" tanya Maura tak percaya. Niki menganggukan kepala.
"Kenapa, Ma. Memang kenyataannya aku sudah menikah, kenapa harus ditutupi?" Niki beralih pada Mamanya yang sejak tadi menyenggolnya.
"Ka-kamu ga ...." Mama Maura tak tega mengatakannya. Ia hanya memberi kode lengkungan di perutnya dengan tangannya.
"Ow, ga Tante. Aku menikah dengan Mas Farel, dia itu dosenku di kampus," jelas Niki dengan rasa bangga. Ia sudah lupa dengan kekecewaan yang ditorehkan suaminya kemarin.
__ADS_1
Keluarga besar itu masih ternganga tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh gadis muda di depan mereka.
"Benarkah itu, Kak?" Mama Maura bertanya pada Papa Niki. Pria itu menjawab dengan anggukan kepala pasrah.
"Kenapa harus ditutupi kalau tidak terjadi apa-apa?"
"Tidak ada yang ditutupi, hanya ... Semuanya serba mendadak."
"Maaf, Om, Tante, Kakak, benar apa yang Papa bilang tidak terjadi apa-apa. Aku kemarin hanya ingin menikah cepat sebelum wisuda, jadi hanya akad saja belum ada resepsi," jelas Niki meskipun sedikit berbohong. Ia merasa kasihan pada kedua orangtuanya yang seakan menjadi terdakwa di depan keluara besar Maura.
"Kalau begitu, secepatnya dong kenalkan dengan suamimu, Nik," timpal Maura, "Kapan nih resepsinya diadakan, Pa?"
Panggilan Papa dari Maura untuk Papanya, membuat Niki teringat kembali apa yang mengganggu pikirannya tadi.
"Mungkin tunggu Niki wisuda. Kamu sendiri gimana, jangan terlalu sibuk kerja. Pria itu takut dengan wanita yang terlalu cerdas dan punya jabatan tinggi," ucap Papa Niki.
Niki memperhatikan interaksi antara Papanya dan Kak Maura. Terlihat perbedaannya dengan jelas, saat Papanya berbicara dengan Maura dan William. Keduanya kakak beradik, tapi tatapan sayang mata Papanya terpancar jelas untuk Maura.
"Kak, ke kamar yuk," ajak Niki.
"Nanti kalau Mama panggil turun untuk makan yaaa," seru Mama Maura sebelum keduanya naik ke lantai dua.
"Kak, apa kita ini saudara?" tanya Niki saat mereka sudah bersantai di atas ranjang.
"Bukan, maksudnya, aku sama Kak Maura itu saudara ada hubungan darah gitu." Niki memutar tubuhnya menghadap Maura.
"Ga ada."
"Aku sempat berpikir, kalau Kak Maura sebenarnya Kakak kandung aku."
"Kok bisa, apa kita terlalu dekat ya?" Maura masih terkekeh.
"Kenapa Kak Maura panggil Papaku berbeda dengan Kak William. Kak Maura panggil Papaku, Papa tapi Kak William panggil Om. Namaku dan nama Kakak sama-sama ada Anersanya. Kok bisa?"
Maura memandang Niki, gadis yang dulu masih sangat kecil dan polos itu sudah beranjak dewasa. Apakah sudah saatnya ia mengatakan yang sebenarnya? Apa yang terjadi pada masa silam, dulu sempat mengguncang batinnya ketika Mamanya menceritakan yang sebenarnya.
Niki lahir ketika semua keadaan sudah baik-baik saja membuat gadis kecil itu tidak tahu menahu apa yang terjadi pada kisah orangtua mereka. Namun, sepertinya tidak masalah jika Niki tahu agar tidak ada lagi rasa penasaran dan salah paham. Toh, tidak semuanya kisah masa lalu yang harus Niki ketahui.
"Kak," tegur Niki saat melihat Maura termenung masih menimbang-nimbang.
"Niki, karena kamu sudah dewasa Kakak akan kasih tahu kamu sesuatu. Kenapa nama kita ada unsur yang sama dan kenapa aku panggil Papa kamu dengan sebutan yang sama." Maura duduk di tepi ranjang dan siap bercerita.
Ini situasinya sama seperti saat malam ia menangis dan marah karena di bully oleh teman-temannya karena punya Papa lebih dari satu.
"Niki, sebelum Kakak cerita kamu harus berpikiran terbuka ya." Maura menarik nafas panjang sebelum memulai penjelasannya.
__ADS_1
"Dulu Papamu dan Mamaku adalah suami istri." Maura mengawali penjelasanya.
"Jadi benar Papaku itu Papa kakak juga?" potong Niki.
"Tidak juga, Papamu bukan papa kandungku." Maura enggan menceritakan secara detail.
"Singkat cerita, mereka berpisah. Papamu menikah dengan Mamamu dan Mamaku bertemu dengan Papaku."
Niki mengerutkan keningnya, ia merasa dejavu dengan penjelasan Maura.
"Kenapa Papaku dan Mama Kak Maura berpisah?"
"Mmm, itu urusan orang dewasa katanya," ucap Maura mengakhiri ceritanya.
"Mamaku hadir diantara mereka?Mamaku yang membuat Papaku dan Mama kakak berpisah?" tanya Niki lirih.
"Bukan seperti itu ceritanya, Nik." Maura menenangkan Niki yang mulai terlihat emosional.
"Aku tahu, Kak. Mama pernah cerita kalau dia menjalin hubungan dengan pria yang masih memliki istri dan membuatnya berpisah, tapi aku baru tahu sekarang kalau keluarga yang dihancurkan Mama adalah keluarga Kakak." Niki mulai tersedu.
"Nikiii, itu semua sudah berlalu. Lihatlah kita semua bahagia." Maura menghampiri Niki dan memeluknya. Ia merasa bersalah telah lancang menceritakan semuanya pada Niki.
"Mungkin karma Mama jatuh padaku. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya itu benar terjadi padaku." Tangisan Niki semakin pilu.
"Maksud kamu apa, Nik?"
...❤️🤍...
Haaii, sambil nunggu update bab baru mampir yuk ke karya pertama aku. Ini sudah tamat dan kisah orangtua Niki dan Maura. Siapa yang sudah baca sampai habis? Yang belum mampir yaa 🥰
...❤️🤍...
Judul : Cinta Jangan Datang Terlambat
Tidak ada seorangpun wanita mau mengalami pelecehan seksual dalam hidupnya.
Bintang Amalea atau yang biasa dipanggil Lea mengalami hal mengerikan itu saat baru saja mulai bekerja. Pria yang tega melakukan hal itu adalah orang yang sangat ia hormati, dan kejadian itu meninggalkan trauma mendalam dalam hidupnya.
Erik kakak kelas saat ia SMU yang masih menyimpan hati padanya, mau menerima Lea dalam keadaan mengandung.
Akankah Erik tetap setia berada di samping Lea, di saat ia masih berjuang menghadapi trauma paska pemerkosaan di masa lalunya?
atau akan ada orang lain yang akan hadir di masa tersulitnya?
__ADS_1