
"Main layang-layang malam-malam mana bisa?" celetuk Niki menggoda.
"Iih, ni anak di kasih tahu juga." Maura menyentil telinga Niki gemas. Sembari mendandani Niki, Maura memberikan pesan dan tips ala dirinya bagaimana membuat seorang pria penasaran dan semakin jatuh cinta.
"Yakin berhasil?"
"Kata majalah yang aku baca kemarin sih seperti itu."
"Yeee, kirain dah pernah coba."
"Udah, jalankan aja dulu." Maura mendorong Niki keluar dari dalam kamar.
"Tuh mereka sudah keluar. Ayooo bidadari-bidadariiii sudah ketemu belum selendangnyaaaa, buruan turun belum boleh mulai makan nih nungguin kalian." William kakak Maura berseru dari bawah anak tangga.
Kepala Farel ikut mendongak, ia belum pernah melihat Niki berdandan seperti ini. Istri kecilnya itu sehari-hari hanya memakai lipgloss dan bedak jika berangkat kuliah atau akan jalan bersama dengan temannya. Namun malam ini ada sedikit warna di pipi dan kelopak matanya, membuat Farel semakin merasa gemas.
"Ayo sudah kita makan dulu." Mama Maura mendahului yang lain ke meja makan. Dengan cekatan, wanita tiga anak itu membantu pekerja rumah tangganya mengatur piring dan menghidangkan menu di atas meja.
"Kamu ke salon?" bisik Farel sembari memegang ujung rambutnya yang melingkar.
"Ga, ini di blow sama Kak Maura," sahut Niki sembari menarik rambutnya dari tangan Farel. Tak ada lagi yang dikatakan Farel, tapi matanya sulit beralih dari wajah Niki.
Maura yang duduk di hadapan sepasang suami istri muda itu, dapat melihat keseluruhannya. Ia menggoda Niki dengan kerlingan matanya.
"Farel, kamu bilang tadi sudah menikah dengan Niki selama kurang lebih enam bulan, benar begitu?" tanya Papa Maura.
"Benar, Om," sahut Farel. Pria bertubuh besar itu memang terlihat santai dan tak peduli, tapi matanya seolah menusuk. Saat berbincang tadi, Papa Maura seolah tidak menyimak tapi pertanyaan dan celetukannya selalu membuat Farel mati kutu untuk menjawab.
"Belum ada tanda-tanda hamil, Niki?" Pertanyaan Papa Maura beralih ke arah istrinya.
"Belumlah, Om."
"Loh kenapa, wajar 'kan wanita menikah hamil dan punya anak."
"Kami memutuskan belum ingin punya anak dulu, tunggu Niki selesai kuliah. Lagipula kami belum mengadakan resepsi, khawatir kalau Niki tiba-tiba perutnya ada isi jadi bahan gosip dan tidak konsentrasi kuliah," papar Farel. Niki melirik kesal, sejak kapan ia diminta pendapat oleh suaminya?
__ADS_1
"Jadi kalian menunda punya anak? Pakai apa? Kontrasepsi? begini ya, Farel, Niki jika sudah menikah lebih baik jangan menunda kehamilan. Banyak cerita pasangan muda seperti kalian menunda punya anak karena ingin pacaran dulu katanya, tapi begitu mereka serius ingin punya anak dan melepas semua alat kontrasepsi, anak yang ditunggu malah tidak ada. Itulah sebaiknya jangan menunda rejeki. Kalau ga mau punya anak sekarang, untuk apa menikah cepat. Kalau soal resepsi, ya segera adakan dong. Berapa sih, Om yang biayain semua," tukas Papa Maura gemas.
"Bukan begitu, Om." Farel mulai gelisah di bawah tatapan banyak pasang mata yang sedang menunggu jawabannya.
"Aku mau punya anak kok, Om. Kami ga pernah menunda, ya 'kan Mas."
"Loh itu tadi suamimu yang bilang sendiri."
"Maksud Mas Farel itu, kalau aku hamil semoga melahirkannya setelah wisuda biar kebayanya muat." Niki menengahi, walaupun jawabannya terdengar tidak sinkron dengan pertanyaan Papa Maura.
"Ah, masa tadi bila----"
"Udah, Niki benar, Abang habiskan makannya dulu." Mama Maura memotong sembari menaruh banyak lauk di piring suaminya. Mama Maura tahu, jika suaminya merasa ada yang ganjil pasti akan dikejar sampai mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Bener juga kata, Om kamu. Punya anak jangan ditunda-tunda, itu sama dengan menunda rejeki." Mama Maura mempertegas.
"Ga kok, kita ga pernah menunda apalagi pakai kontrasepsi, yang ada malah kerja keras tiap malam, benar 'kan Mas." Niki mengerling manja ke arah Farel yang memerah wajahnya.
"Duuh, pengertian dong, Nik sama kita-kita yang jomlo. Lihat tuh, Kak Willi rambutnya sudah ada yang putih calon belum kelihatan," timpal Maura.
"Udah move on, weeek!"
"Hei, kalian ga malu sudah besar masih bertengkar terus, ada tamu loh di sini." Papa Maura memandang dua anaknya dengan tajam.
Niki memperhatikan cara Mamanya dan Mama Maura berbincang, tak ada sedikitpun rasa benci atau kecewa yang diperlihatkan oleh Mama Maura. Begitu juga saat berbicara dengan Papanya, mereka dulu yang awalnya sepasang suami istri sudah tidak ada kecanggungan lagi. Mereka bersikap seperti kakak adik, sama seperti yang ia tahu selama ini sebelum mengerti cerita sesungguhnya.
Apakah ia dan Marisa nanti akan akrab seperti Mamanya dan Mama Maura?
Masa makan malam yang menegangkan bagi Farel akhirnya berakhir. Mereka langsung berpamitan hendak pulang, karena sudah larut dan terlalu karna berbincang saat di meja makan.
"Niki, ayo masuk." Papa membuka pintu mobil dan memanggil putrinya yang masih bercanda dengan Maura.
"Aku pulang sama, Mas Farel aja."
"Loh, tadi kamu bilang mau nginep di rumah malam ini."
__ADS_1
"Ga jadi, Pa, aku sama Mas Farel." Niki berjalan mendekati suaminya yang sudah berada di atas motor.
"Tapi aku naik motor Nik, ga bawa helm lebih."
"Aku ada," timpal Maura cepat. Ia segera berlari masuk ke dalam rumah dan membawa helm serta jaket untuk Niki.
"Ya udah, hati-hati di jalan. Jangan ngebut ya." Papa Niki memandang putrinya dengan berat hati.
Niki segera mengenakan helm serta jaket yang diberikan Maura dan langsung duduk di belakang Farel. Jok motor sport milik dosennya itu, membuat tubuh Niki mau tidak mau menempel di punggung suaminya.
"Aku boleh pegangan ga?" tanya Niki.
"Ya pegang aja kalau takut jatuh," ucap Farel dengan dada berdegub. Tangan Niki belum melingkar saja, ia sudah bisa merasakan sesuatu yang kenyal di punggungnya.
Harapannya Niki memeluk erat pinggangnya ternyata terlalu tinggi, istri kecilnya itu hanya memegang ujung jaketnya saja. Angin malam yang dingin menyelinap masuk di sela-sela jaket Farel yang tidak dikancingkan.
"Dingin?" tanya Farel, ia berharap Niki menjawab iya seperti pasangan kekasih pada umumnya. Lalu ia akan mengatakan duduk lebih merapat lagi agar lebih hangat.
"Biasa aja," sahut Niki datar. Jawaban yang sudah ia persiapkan ternyata sia-sia.
Farel menambah kecepatan motornya. Terkadang ia menyalip beberapa kendaraan, sehingga motornya kadang miring ke kanan dan kekiri. Wanita di belakangnya tetap diam tak bereaksi. Ia membayangkan Niki akan mencubit pinggangnya atau memukul manja punggungnya, tapi lagi-lagi itu hanyalah harapan kosong. Istri kecilnya hanya semakin erat mencengrkam ujung jaketnya.
"Masih lapar?" Farel kembali bertanya saat melintasi deretan pedagang kaki lima.
"Kenyang."
Farel mendesah kesal, ia tidak ingin cepat sampai di rumah. Moment naik motor berdua ini belum tentu terjadi lagi. Ia merasa kembali muda, apalagi ada gadis usia mahasiswi di goncengannya.
"Aku yang lapar, kita makan dulu di sini." Tanpa persetujuan, Farel menghentikan motornya di dekat gerobak penjual sate.
...❤️🤍...
Haaii, selamat tahun baru 2023 🎉🎉 (masih belum telat kan 😁)
Semoga tahun ini kita selalu sehat, semua harapan dan perencanaan kita terwujud di tahun ini 🙏🥰
__ADS_1