
Tak mau membuang waktu, malam itu juga Farel langsung melesat ke titik yang ditunjukkan peta di ponselnya. Ia tidak peduli dengan gambar yang dikirim oleh istri kecilnya, karena baginya hal itu bukanlah suatu yang baru. Perselingkuhan Marisa dan Galih bukan rahasia lagi, selama ini ia hanya berpura-pura buta dan tuli akan semuanya itu karena atas nama cinta yang bodoh.
Malam ini fokusnya hanya menemukan Niki, istri kecilnya yang menghilang tiba-tiba. Farel memacu kendaraannya hingga di perbatasan kota. Dengan menutup mata saja ia dapat menemukan lokasi di mana Niki berada, karena hotel tempat Niki menginap sekaligus bekerja, merupakan penginapan yang terkenal bebas secara negatif.
Hampir menjelang tengah malam, Farel sudah sampai dan memarkiran kendaraannya di depan hotel tempat Niki bekerja. Matanya nyalang mencari-cari tubuh mungil berambut panjang di area sekitar hotel tersebut. Ia sadar menemukan seorang gadis di sebuah hotel dengan jam yang sudah sangat larut seperti ini, kemungkinannya sangat kecil.
Farel mulai memasuki lobby lalu berjalan kesana kemari tak tentu arah. Niki yang masih dalam balutan kostum maskot berdiri tegak tak bergerak sedikitpun. Ia sangat terkejut dan tak menyangka Farel bisa dengan cepat meluncur ketempatnya.
Di dalam pikiran Niki, Farel datang untuk mencari Marisa. Namun ia tidak habis pikir, bagaimana pria itu menemukan lokasi hotel sedangkan yang ia kirimkan tadi hanyalah foto saja.
Farel berulangkali melewati Niki dengan langkah tergesa. Semakin malam hotel tersebut semakin padat oleh pengunjung yang berdatangan untuk menikmati acara di akhir minggu, membuat gerak gerik Farel tidak membuat pegawai hotel curiga.
Tampang dan penampilan pria itu sangat kusut dan kacau, ingin rasanya Niki mendekat dan memeluknya.
Bruuukk! Tanpa sengaja Farel menyenggol Niki yang berdiri di tengah lobby.
__ADS_1
"Maaf!" Farel membantu Niki berdiri dan merapikan brosur yang jatuh berterbangan di lantai. Niki tak berani bersuara, ia hanya mengucapkan terima kasih dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Niki menatap trenyuh wajah Farel lewat lubang kostum maskot. Sedekat ini tapi terasa sangat jauh mengingat statusnya sekarang bukan istri dosennya lagi. Mengingat pesan singkat yang ia terima dari ponsel Farel, membuat rasa sakit di dadanya timbul kembali. Perlahan Niki berbalik ingin menjauh sebelum ia memeluk dan menangis di pelukan Farel.
"Niki, ini minummu." Tubuh Niki seketika menegang saat mendengar namanya disebutkan dengan sangat jelas dan lantang oleh Alvin.
Ia melirik Farel yang berada tak jauh dari posisinya berdiri. Ia berharap suara musik yang berdentum di area lobby hotel, dapat meredam suara Alvin. Pria itu masih tetap berdiri tegak ditempatnya berdiri dan menatapnya dengan pandangan menyelidik.
"Minum dulu." Alvin menyodorkan sebotol air mineral ke arahnya. Niki memberikan kode dengan tangannya untuk masuk ke ruang ganti karyawan.
"Ayo minum dulu, buka dikit aja ga apa-apa," Niki menggelengkan kepala saat Alvin terus menyodorkan botol air mineral ke arah kepala maskot.
Posisi Farel semakin mendekat, ia menghadap ke arah Niki dengan kedua tangan di pinggang seolah sedang menunggu apa yang terjadi setelahnya. Dengan sangat terpaksa Niki meraih botol dari tangan Alvin, lalu membalikkan badan memunggungi Farel. Ia membuka kepala maskot sedikit lalu meneguk air minum dari botol dengan cepat.
"Niki? benar yang di dalam kostum ini namanya Niki?" tanya Farel pada Alvin. Rasanya Niki ingin berlari keluar dari lobby hotel saat Farel berjalan mendekat.
__ADS_1
"Benar, ada yang bisa kami bantu Pak?" tanya Alvin dengan sopan.
"Boleh saya lihat wajahnya, apa Niki yang di dalam sama dengan Niki yang saya cari," ujar Farel sembari menatap lurus ke arah lubang kepala maskot.
Ia sudah sangat yakin jika istri kecilnya ada di dalam kostum berbulu putih itu. Ada getaran khusus yang tidak bisa ia jelaskan jika berdekatan dengan Niki dan itu ia rasakan kembali saat tadi tidak sengaja menyenggol hingga maskot kelinci itu terjatuh.
"Kamu kenal?" tanya Alvin pada Niki ragu. Niki menggelengkan kepala tapi tetap enggan mengeluarkan suara sedikit pun, "Maaf Pak berhubung ini masih jam kerja sebaiknya dilanjutkan nanti. Kasihan bisa kena tegur nanti," ujar Alvin. Ia pun merasa jika Niki yang di dalam maskot sama dengan yang dicari oleh pria di sebelahnya itu, karena sejak kehadiran pria itu Niki sama sekali tidak mau mengeluarkan suaranya sedikitpun.
"Baiklah, berapa lama lagi jam kerja badut ini selesai?" tanya Farel masih tetap menatap lurus pada lubang kepala badut. Ia dapat dengan jelas melihat mata nakal yang mengerjap-ngerjap ketakutan di dalam sana.
Niki sedikit merasa kesal dengan julukan badut yang disematkan oleh Farel. Dalam hati ia mengumpat mengapa pria itu tidak pergi mencari istrinya yang berselingkuh malah menunggui dirinya di sini.
...❤️🤍...
Mampir ke karya temanku ya
__ADS_1