
"Aku ga bisa, Ma," lirih Farel sedih. Ia tak sanggup membayangkan istri kecilnya itu menangis lagi.
"Kenapa? Kamu takut dengan istrimu atau kamu sangat membenci Marisa?"
"Aku tidak membenci Marisa dan aku tidak takut dengan istriku. Tidak ada yang perlu aku takutkan tentang Niki dan tidak ada waktu aku untuk membenci Marisa. Aku bahkan sudah melepas Marisa dari hidupku seluruhnya. Aku hanya ingin menjalani hidup baru, tanpa bayang-bayang kesalahan masa lalu."
"Lalu bagaimana dengan bayi yang dikandung oleh Marisa? Dia hadir di saat kalian masih menjadi suami istri, secara tidak langsung anak itu juga menjadi tanggung jawabmu. Mama hanya tak ingin kamu jadi pria yang tidak bertanggungjawab seperti temanmu itu. Mama juga marah dan tidak peduli dengan mantan istrimu, Mama hanya khawatir, Marisa membunuh bayinya sebelum sempat dilahirkan, Farel." Mama mencengkram lengan putranya dengan emosional.
"Aku akan mengawasinya, Ma, tapi tidak jika menikahinya lagi. Aku tak ingin menyakiti Niki."
"Bagaimana kamu bisa mengawasinya kalau kamu sibuk dengan istrimu itu?" Mama merajuk kesal. Farel menghela nafas panjang, ia pun tidak tahu bagaimana caranya karena untuk bertemu Marisa saja ia sebenarnya malas.
"Mama mau ikut aku tinggal di kota? Aku ingin mama tinggal bersamaku, dengan begitu aku bisa menemani mama dan mengawasi Marisa secara bersamaan."
"Maksud kamu bagaimana, mama ga paham."
"Aku bisa tinggal serumah dengan Marisa tanpa harus menikah, tapi dengan syarat ada mama juga di rumah itu. Aku tidak ingin Niki dan orangtuanya salah paham." Mama Farel tampak berpikir keras.
"Untuk apa mama ada di rumahmu?" tanya mama masih belum mengerti.
"Aku dan Marisa tidak menikah, apa kata orang jika kami tinggal hanya bertiga? Kehadiran mama tinggal bersama kami, aku harap akan menjadi penengah dan saksi jika terjadi sesuatu antara aku dan Marisa."
"Ow, baiklah." Mama mengangguk mengerti.
"Tapi dengan satu syarat, Ma. Marisa tinggal serumah denganku hanya sampai anak itu lahir, dan selama itu juga aku akan terus mengejar Galih untuk bertanggungjawab," ujar Farel tegas.
__ADS_1
Dua hari setelah itu, Farel membawa mamanya serta Marisa kembali ke kota tempatnya mengajar. Soal rencana Farel menyatukan mereka dalam satu tempat tinggal yang sama, juga telah disampaikan kepada Marisa dengan alasan mama khawatir dia hidup sendiri selama mengandung.
Mantan istrinya itu menanggapi dengan bahagia ide dari Farel, baginya tinggal bersama istri baru Farel yang masih muda tentunya mudah diatur dan itu soal sepele untuknya.
"Kita tinggal di rumah yang aku tinggalin 'kan Farel?" tanya Marisa ketika mereka sedang dalam perjalanan dari bandara menuju ke apartement yang ditinggali Niki.
"Eh? i-iya, rencana begitu," sahut Farel tergagap. Sejak di dalam pesawat, ia bingung memikirkan cara untuk menyampaikan rencananya pada Niki.
Hari ini pun istrinya itu tidak tahu jika ia pulang. Lalu bagaimana reaksi Niki jika ia pulang bersama mama dan Marisa apalagi tahu rencananya menyatukan mereka dalam tempat tinggal yang sama. Farel sungguh tidak punya nyali untuk menelepon dan mengabarkan rencananya. Ia selalu menunda-nunda hingga hari kepulangannya tiba, dan sekarang mereka sudah tiba di depan apartement miliknya.
Farel membuka pintu apartement menggunakan kunci miliknya. Lampu ruang tamu dan tengah tampak menyala, sudah dapat dipastikan istri kecilnya itu ada di rumah siang ini.
Suara berdenting terdengar dari dalam dapur, menyusul aroma sedap menyeruak masuk ke indera penciuman mereka. Farel memberi kode pada mama serta mantan istrinya agar duduk menunggu di ruang tamu.
Farel berjalan ke arah dapur dengan sangat perlahan. Ia ingin melihat penampilan Niki saat tak ada dirinya di dalam apartement. Tubuh Farel membeku melihat Niki membelakanginya hanya dengan menggunakan tanktop dan celana pendek ketat. Niki bergoyang pelan mengikuti musik yang mengalun dari headphone yang menutupi kedua telinganya.
"Aahh! Pak Farel!" Niki berteriak histeris. Ia sempat menjatuhkan sebuah mangkok ketika berbalik dan melihat suaminya berdiri dengan tatapan mesum.
"Sssttt. Jangan teriak-teriak, Niki!" Farel menutup mulut Niki dan menghimpitnya ke arah meja dapur.
"Ada apa, Farel?" Mama disusul Marisa yang mengikuti di belakangnya, mengampiri Farel dan Niki ke dalam dapur. Keduanya terdiam melihat sepasang suami istri itu berada dalam posisi yang cukup intim.
"Oalah, kalo mau kangen-kangenan ya tunggu nanti di dalam kamar dong." Mama menggelengkan kepala geli.
"Baju kamu mencerminkan bagaimana kamu sehari-hari rupanya," ucap Marisa sinis. Ada rasa cemburu melihat pria yang selalu memujanya sekarang berada di pelukan wanita lain.
__ADS_1
Ucapan sinis Marisa menyadarkan Niki dengan pakaian yang melekat ditubuhnya. Mendadak rasa malu dan risih karena posisinya sangat dekat dengan dosennya itu. Ia dapat merasakan dua benda di dadanya, terhimpit di tubuh Farel. Niki mendorong tubuh suaminya dan langsung masuk berlari ke dalam kamar dengan tangan menyilang di depan dada. Hal itu tak luput dari pengamatan mertuanya.
"Maaf, tadi Niki kaget aku berdiri di belakangnya."
"Kamu yakin dia tidak sedang menunggu orang lain? Coba lihat dia masak cukup banyak, padahal dia tinggal sendiri 'kan? Apalagi bajunya heh, mencurigakan!" Marisa mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Apapun yang terjadi dalam rumah tanggaku, aku harap kamu tidak melewati batas. Kamu nanti di rumah, hanyalah orang asing bagi kami. Jadi aku harap kamu tahu diri," kecam Farel. Ia sempat terpengaruh dengan ucapan Marisa, pikirannya mengarah ke teman pria Niki yang terus mengejar istrinya itu.
"Sudah-sudah, kita belum saja tinggal serumah tapi sudah mulai ada pertengkaran. Mama pusing dengarnya."
"Selamat siang, maaf tidak sempat menyambut. Pak eh, Mas Farel ga bilang kalau mau pulang hari ini." Niki keluar dari kamar dengan penampilan yang lebih sopan. Ia sempat mendengar perdebatan mereka saat di dalam kamar, dan terkejut ketika mengetahui wanita tua itu adalah mertuanya.
"Tidak apa-apa, salah Farel memang tidak kasih kabar dulu. Nama kamu Niki? Farel sudah banyak cerita tentang kamu." Mama menghampiri Niki dan mengusap-usap pundaknya. Istri kecil Farel itu melirik ke arah suaminya yang masih ada di dapur untuk meminta penjelasan.
"Kamu masak, Nik?" Farel keluar dari dapur membawa sebuah mangkok berisi sop merah.
"Eh, iya tadi iseng coba resep dapat di gugel hehehe ... Eh, jangan dimakan nanti sakit perut." Niki berusaha mengambil mangkok dari tangan suaminya.
"Ga apa-apa tadi aku sudah nyobain dikit, enak kok. Makanya ini langsung ambil satu mangkok sekalian." Farel tersenyum teduh.
"Mungkin mau masak untuk someone special, jadi takut kalau habis," celetuk Marisa iri melihat perlakuan manis Farel yang bukan untuknya lagi.
...❤️🤍...
Ada karya bagus lagi nih buat teman-teman dijamin ceritanya bagus banget. Jangan lupa mampir ya
__ADS_1