
Tanpa menghiraukan protes dari Galih, Marisa mengambil pena dari atas meja lalu membubuhi lembaran itu dengan tandatangannya.
"Marisa!" Galih menyambar kertas perjanjian itu dan hendak merobeknya, tapi suara meja yang dipukul oleh mertuanya mengurungkan niatnya.
"Kemarikan." Papa Delilah mengulurkan tangan meminta surat perjanjian dari tangan Galih.
"Pa, biarkan dia pergi tapi jangan minta untuk menggugurkan kandungannya." Galih mencoba bernegosiasi. Ia tidak tega jika calon anaknya harus dilenyapkan sebelum dapat melihat dunia.
"Jadi kamu mengakui jika anak yang ada di dalam perut perempuan ini adalah anakmu?!" hardik mertuanya. Galih tergagap tak sanggup menjawab ataupun menyangkal, "Pilih mana dia atau istrimu."
Galih mengatupkan bibirnya rapat. Sungguh pilihan yang mudah sebenarnya, jelas ia memilih Delilah secara wanita itu berstatus sah sebagai istrinya dan juga cantik. Ada dua anak dari hasil pernikahannya dengan Delilah, selain itu seluruh kebutuhan keluarga kecilnya ditanggung oleh perusahaan mertuanya.
Pria jangkung itu menunduk tak kuasa melawan tatapan mata mertuanya. Melihat itu, hati Marisa semakin nyeri. Dengan dagu terangkat, ia menantang mertua Galih, "Kapan saya bisa menjalani tes DNA anak dia?," ucap Marisa sengit.
"Besok," sahut mertua Galih datar.
Marisa mundur dan berjalan keluar dari ruangan diikuti Farel di belakangnya. Galih memandang punggung Marisa yang menjauh dengan perasaan bercampur aduk.
"Kamu kira saya bodoh? Kalau saya mengijinkan anak itu lahir, kamu akan tetap bermain gila dengannya." Ucapan Papa Delilah mengalihkan perhatian Galih dari pintu yang tertutup setelah Marisa keluar.
"Saya janji tidak akan menemui dia lagi, Pa. Biarkan dia pergi jauh dan biarkan anak itu lahir." Galih hampir berlutut di depan Papa Delilah.
"Anak kamu maksudnya?" Papa Delilah tertawa sinis, "Aku sudah memberikanmu pilihan, terserah kamu mau yang mana. Kalau kamu mau pergi dari kehidupan anakku dan memilih wanita itu dengan bayinya, pergilah jauh jangan setengah-setengah. Aku tak akan menahanmu, tapi kalau kamu memilih putriku jangan berani mengubah keputusanku!" seru Papa Delilah.
"Tapi bayi itu tidak bersalah, Pa. Hukum saja aku."
"Aku tidak mau menyesal, jika suatu saat aku meninggal kamu bisa saja membawa anak itu masuk ke dalam rumahku dan dia bisa menghancurkan putri dan cucu-cucuku. Sekarang keluar dari ruanganku, aku sudah selesai bicara denganmu." Papa Delilah tak memberikannya kesempatan lagi untuk mengatakan apapun.
"Aku tak mengerti jalan pikiranmu." Farel melirik ke arah Marisa di sampingnya. Ia masih merasa kesal dan menyesal mengantar mantan istrinya itu ke kantor Galih. Dalam bayanyannya tadi, Marisa akan meminta pertanggungjawaban Galih atas status calon bayinya bukan meminta sejumlah uang.
"Sampai kapanpun kamu tak akan mengerti."
__ADS_1
"Berapapun jumlah uang yang kamu terima nanti, itu tak akan mengangkat derajatmu. Yang ada malah kamu dipandang hina oleh mereka."
"Tanpa meminta juga aku sudah hina di maya siapapun yang tahu."
"Lalu kenapa kamu menandatangani surat itu? Dari segi manapun kamu dirugikan. Jika kamu yakin itu anak Galih, itu berarti kamu bersedia melenyapkan dia!"
"Aku tak sanggup jika harus hidup seorang diri mengurus anak, tanpa di dampingi oleh suami." Marisa menoleh sekilas ke arah Farel yang menyetir lalu melengos dan memejamkan mata.
"Gila kamu, Echa!" umpat Farel.
"Aku memang gila." Marisa tertawa kecil masih dengan mata terpejam.
Sampai di rumah, Marisa langsung masuk ke dalam kamar tanpa ada niatan berkumpul atau menyapa orang dalam rumah. Mama Farel dan Niki yang sejak tadi menunggu kepulangan mereka beserta ceritanya, hanya dapat saling berpandangan.
"Gimana, Nak?" tanya Mama pada Farel yang baru masuk ke dalam rumah."
"Mana Marisa?" tanya Farel.
"Dia langsung masuk dalam kamar," timpal Niki.
Begitu istri kecilnya duduk disampingnya, Farel langsung merengkuhnya dengan erat. Ia menghirup aroma tubuh Niki dalam-dalam. Aroma yang mampu dapat menenangkan hati serta pikirannya. Mama tersenyum senang melihat pemandangan langka itu.
"Kami tadi bertemu Galih dan juga mertuanya." Farel mulai membuka ceritanya dengan masih menahan Niki dalam pelukannya.
"Marisa menyetujui menggugurkan kandungannya?" Mata Mama Farel membesar, "Apa jangan-jangan dia tahu jika itu bukan anak Galih?"
"Tidak juga, semua pilihan sebenarnya memberatkannya. Jika anak itu terbukti bukan milik Galih, ia bersedia di tuntut atas pencemaran nama baik."
"Kenapa Marisa bisa setega itu sih!" Mama menggelengkan kepala tak percaya.
"Marisa hanya mengatakan tak sanggup merawat anaknya seorang diri. Aku merasa seperti tertuduh juga telah membuat dia seperti ini."
__ADS_1
"Aaah, itu hanya perasaanmu saja. Kamu tidak salah, Farel apa yang kamu lakukan ini sudah benar. Justru Mama bangga sama kalian berdua, masih punya hati yang besar mau mempedulikan Marisa meski dia sering berlaku yang tidak baik pada kalian. Sayangnya dia terlalu pendek cara berpikirnya, tidak takut akan dosa. Menggugurkan itu sama juga membunuh." Mama menopang kepalanya yang tiba-tiba terasa berat dengan satu tangan.
"Kalau Mba Marisa merasa tidak mampu merawat anaknya seorang diri, kenapa bukan kita saja yang merawatnya, Mas?"
"Apa maksudnya, Sayang?"
"Kalau Mba Marisa tidak mau bayinya, aku mau kok."
Farel dan Mamanya saling berpandangan antara heran dan tak percaya, dengan apa yang diucapkan oleh wanita usia awal dua puluhan itu.
"Kamu mau bayi yang ada di perut Marisa?" tanya Farel menegaskan kembali apa yang ada dalam pikirannya.
"Iya, katanya Mba Marisa ga mau, ya udah buat aku saja."
"Niki, itu ga semudah yang kamu pikirkan. Merawat anak yang bukan darah daging kita itu tanggungjawabnya besar sekali."
"Lalu apa yang lebih baik? Digugurkan saja?" Farel dan Mamanya saling berpandangan.
"Niki yang dimaksud oleh suamimu itu, dia khawatir kalian tidak bisa menjaga amanah karena belum pernah bagaimana merasakan jadi orangtua."
"Ya, kalau belum pernah mungkin ini saatnya. Aku hanya memberi solusi, kalau Mas Farel tidak setuju aku tidak memaksa."
"Syarat yang diajukan oleh mertua Galih, uang berapapun yang diminta Marisa akan dipenuhi dengan syarat menggugurkan kandungannya dan Marisa sudah memilih uang yang ditawarkan mertua Galih." Farel memandang Niki lembut. Ia tidak menyangka istri kecilnya itu mempunyai hati yang luas.
"Nanti aku coba bicara sama Mba Marisa."
Sejak kecil menjalani hidup sebagai anak tunggal, membuatnya selalu kesepian. Ia ingin melihat dan memiliki bayi yang ada di perut Marisa. Malamnya Niki memberanikan diri mengetuk pintu kamar mantan istri suaminya itu.
"Mba Marisa, ini aku Niki."
Ketukan pintu ketigakalinya barulah terdengar kunci pintu terbuka.
__ADS_1
"Apa?" Marisa masih mengenakan pakaian yang dipakainya tadi siang. Bekas air mata yang mengering di dua belah pipinya semakin menambah kusut wajah serta penampilannya.
...❤️🤍...