Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Aku memang pelakor


__ADS_3

Farel menghentikan motornya dan memasang standart samping, otomatis motor besar itu dalam keadaan miring seketika.


"Eehhh." Tangan Niki menggapai-gapai mencari sesuatu agar tidak jatuh. Kakinya yang pendek tidak sampai untuk memijak tanah.


Pluk


Tubuh Niki terdorong ke depan dan bersandar sempurna di punggung Farel yang masih berada di atas motor. Sesuatu yang kenyal itu semakin terasa hingga menembus jaket yang dikenakan oleh Farel.


"Hati-hati dong." Niki langsung menegakkan tubuhnya sembari memukul punggung suaminya.


"Kamu yang ga hati-hati, makanya siapa suruh dari tadi ga mau pegangan." Farel melampiaskan rasa kesalnya, karena hanya sebentar saja merasakan benda hangat tadi.


"Aku mau turun."


"Ya turun aja," ucap Farel cuek. Ia berjalan ke arah gerobak sate dengan ujung mata mengamati Niki yang sedang berusaha turun dari motornya yang tinggi.


"Bantuin." Tangan Niki terulur mengharap suaminya membantunya turun dari atas motor.


"Ow, masih butuh?" Farel tersenyum penuh kemenangan. Ia tidak menyambut tangan Niki, tapi kedua tangannya melingkar di pinggang lalu menggendong istri kecilnya, "Makanya olahraga, biar tinggi." Farel mengacak-acak rambutnya gemas.


"Aku memang pendek, ga seperti Mba Marisa yang tinggi semampai." Tanpa ucapan terima kasih, Niki terus berjalan dan duduk di bangku panjang.


Farel enggan meladeni pembicaraan berbahaya itu. Ia tahu, Niki masih menyimpan cemburu terhadap mantan istrinya. Niki tidak salah, karena ia tahu betul istri kecilnya itu sangat mencintainya jadi wajar ada rasa cemburu. Farel tersenyum tipis mengingat bagaimana Niki mengejarnya dulu, hatinya mendadak berbunga.


"Pakai lontong atau nasi?" tanya Farel.


"Yang mau makan 'kan Mas Farel, aku ga lapar." Niki dengan cuek membuka ponsel dan menggulirkan layarnya tanpa menatap suaminya.


"Sate 20 tusuk, ga usah pakai lontong," ucap Farel pada tukang sate, "Mau minum apa?"


"Ga haus."


"Jeruk hangat satu," tambah Farel.


Keduanya duduk dalam diam, Niki sibuk membuka ponsel sembari sesekali tertawa dan tersenyum. Sedangkan Farel hanya bisa diam berharap istri kecilnya itu cerewet seperti biasa.


"Sudah sampai mana nyusun tugas akhirnya?"


"Mm, 60% lah," sahut Niki cepat lalu kembali fokus dengan layar ponselnya.


"Ada kesulitan? Mau aku bantu?"


"Terima kasih, ga perlu."

__ADS_1


Farel mendengus kesal. Sebagai dosen dan suami ia merasa sama sekali tidak dihargai.


"Makan dulu, ini sate aja ga pakai nasi sama lontong." Farel menggeser piring dengan sate yang masih mengeluarkan asap.


"Ga laper." Niki menggeleng.


Sedikit merasa kesal karena diacuhkan, Farel mengambil satu tusuk sate lalu mengusapkan daging sate yang berlumuran bumbu dan kecap di bibir Niki.


"Iih, aku sudah bilang ga mau!"


"Aaa! Makan biar ga pendek terus," paksa Farel dengan terus menyodorkan sate di depan mulut Niki.


Terpaksa Niki mengambil tiap tusuk sate dari tangan Farel, karena keributan mereka sudah memancing perhatian beberapa orang di sekitar.


"Huuhaa, pedes. Kok pesen minum cuman satu?" Niki mengipas-ngipas bibirnya yang terasa panas.


"Kamu tadi ga mau, minum ini aja." Farel menyodorkan gelasnya yang tinggal separuh.


"Ga mau, Pak es teh satu," seru Niki pada penjual sate, tapi permintaannya itu diabaikan karena ramainya pengunjung.


"Udah, minum ini dulu aja." Farel tersenyum ketika Niki menuruti perkataannya, ia membayangkan bekas bibirnya di gelas itu beradu dengan bibir Niki.


Jika diingat-ingat, ia dan Niki sudah cukup lama tidak bermesraan seperti ketika masih di apartement. Meski Farel menolak berhubungan intim karena tidak ingin Niki mengandung sebelum wisuda, tapi tidak untuk bercumbu ia merasa itu adalah haknya sebagai seorang suami. Lamunannya luruh, saat Niki mengambil selembar tissu dan mengusap pinggiran gelas berulang kali baru meminumnya.


"Apa?"


"Kenapa gelasnya di lap? Kotor?" tanya Farel dengan nada tersinggung.


"Iya kotor," sahut Niki cuek, "Pulang yuk, ngantuk." Tanpa rasa bersalah, Niki berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah motor yang diparkir.


Farel berusaha menahan rasa marahnya. Padahal dengan Marisa berulang kali ia dilecehkan bahkan lebih dari ini. Entah mengapa bersama Niki, kesabarannya selalu diuji. Apa karena Niki adalah mahasiswinya, jadi ia merasa harus dihormati?


"Kok malam sekali pulangnya, Sayang?" Mama Niki menyambut menantunya dengan pelukan hangat.


"Dari rumah saudara, Ma."


"Iya, tadi Farel buru-buru berangkat habis ditelepon Mama kamu. Sampai keluarin motornya dari garasi, padahal sudah lama ga dipakai. Takut telat katanya."


"Motor kenangan kita 'kan, Mas," timpal Marisa dengan tangan menopang dagu di atas meja makan.


"Ow, pantes." Niki menanggapi dengan sinis.


"Kenapa?

__ADS_1


"Butut, sama seperti kenangannya. Maaa, ini sate buat Mama." Dengan cuek, Niki menyusul mertuanya di dalam dapur.


"Dia sudah semakin berani ya? Baru ini pelakor belagak nyonya." Marisa berkata pada Farel dengan suara yang sengaja dikeraskan.


"Cha, sudahlah. Ini sudah malam dan aku capek, bisa ga kamu ga usah ikut campur di tengah kami."


"Sulit, bagaimana bisa aku melupakan semua kebaikanmu selama ini?" ucap Marisa sendu.


"Masih belum selesai mengenang masa lalu?" Niki keluar dari dalam dapur dan ikut bergabung dengan keduanya, "Oh ya, aku dengar tadi Benar sekali, aku sekarang memang Nyonyanya Mas Farel dan aku memang pelakor, lalu mau apa?" tantang Niki.


"Nikiii." Farel menarik tubuh istrinya menjauh dari Marisa. Ia tak mau terjadi sesuatu malam ini.


"Hehehe, Mas Farel kenapa sih takut sekali. Santai aja lagi, aku cuma membenarkan apa yang Mba Marisa bilang tadi. Ga salah kok, aku memang pelakor. Benar 'kan?" Tak ada yang menjawab, semuanya tercengang mendengar ucapan Niki, "Dan aku bangga, karena bisa berhasil merebut laki-laki dari perempuan toxic seperti Mba Marisa," lanjut Niki dengan tajam.


"Kamuuu!" Marisa berdiri dengan tangan mengepal.


"Hooaaam, ngantuk. Aku tidur dulu ya, sudah kenyang soalnya. Daaa ..." Tak peduli dengan kemarahan Marisa ia pergi dan masuk ke dalam kamar.


Mulai hari ini, ia akan bersahabat dengan kata pelakor. Kata yang menjadi momok bagi banyak wanita. Baik bagi wanita yang direbut bahkan wanita yang merebut. Tak ada yang mau namanya disematkan dengan kata pelakor, begitu juga dengannya. Tapi setelah ia berbagi dengan Maura, mau tidak mau ia harus hidup berdampingan dengan label itu seumur hidup sama seperti dengan nasib Mamanya.


"Niki."


Farel berjalan mendekatinya yang sejak tadi berdiri memandang lemari yang terbuka, tanpa berniat mengambil sesuatu di dalamnya.


"Yaa." Niki menoleh dan memberikan senyum tipis. Wajah sendunya saat memandang kosong ke arah lemari langsung berubah.


"Kamu baik-baik saja?"


"Lebih dari baik, Mas Farel itu yang sepertinya tidak baik-baik saja. Dari warung sate tadi mukanya ditekuk terus, kenapa?"


"Kamu masih tanya kenapa?"


"Iya, kenapa aku 'kan memang ga tahu."


...❤️🤍...


Sudah baca novel ku yang judulnya "Luna milik Tuan Muda Barra" ? kalau belum yuk melucur sudah tamat juga.


Bagaimana jika kamu terjebak menjadi seorang tokoh antagonis dalam sebuah novel, dan kamu harus membuktikan jika sang antagonis jauh lebih baik dari sang protagonis?


Jihan terjebak dalam sebuah novel dan mendapat peran antagonis yang berakhir menyedihkan, karena sebelumnya ia menertawakan sang pembuat cerita novel yang menurutnya telah menulis cerita pasaran yang sangat mudah ditebak alurnya.


__ADS_1


__ADS_2