Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Mari kita berpisah


__ADS_3

"Paaa ...." Niki merengek kesal.


"Selesaikan makanmu, lalu masuklah ke dalam kamar," tambah Papa Niki tegas. Niki memandang Papanya tak percaya. Mengapa sejak kehadiran Farel kedua orangtuanya berubah.


Ia bukan lagi satu-satunya yang spesial di mata Mama dan Papa. Ada orang lain yang diperhatikan oleh orangtuanya, dan sialnya orang itu adalah suaminya.


Niki masih memandang ke arah Papanya, berharap cinta pertama dalam hidupnya itu balas memandangnya dan tersenyum lalu mengatakan bahwa Papa sedang bercanda. Namun Papa tetap memasang wajah dinginnya tanpa sekalipun mau melihat ke arahnya.


Niki lalu memandang ke arah Mamanya, wanita yang selalu dapat diandalkannya. Mamanya tampak bingung, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Papanya adalah pria yang tidak banyak bicara dan penyayang, tapi jika sedang serius tak ada yang berani membantahnya.


Lalu Niki mengalihkan pandangannya pada pria yang menjadi biang masalah di dalam rumahnya. Farel tampak sedang memandangnya dengan tatapan menyesal.


"Mau tambah ayam?" tanya Farel pelan.


"Kenyang." Niki mendorong piringnya ke tengah meja lalu beranjak berdiri dari duduknya.


"Duduk Niki, tunggu suamimu menyelesaikan makannya," ucap Papa. Niki kembali duduk dan melirik kesal pada Farel.


"Aku habiskan ya, kasihan Mama sudah masak tapi gak dihabiskan." Farel menarik piring Niki yang masih separuh lebih terisi.


Dada Niki kembali berdenyut melihat dosennya itu makan dari piringnya dengan sendok yang sebelumnya ia gunakan.


"Ambilkan suamimu minum, Niki," titah Papa. Niki mematuhi perintah Papanya walau dengan wajah merengut.


"Terima kasih," ucap Farel dengan senyum lebar, meski ada air tumpah membasahi celananya karena istrinya itu memberikan gelas dengan agak kasar. Walapun begitu hatinya sangat bahagia. Baru ini ia merasakan makan satu meja dengan wanita yang ia sebut istri, diambilkan minum meski bukan inisiatif sendiri.


"Bawa istrimu ke kamar, Farel. Jangan bertengkar, jika ada masalah bicarakan dengan baik-baik." Mama membuka suara setelah cukup lama terdiam menyaksikan interaksi putri dan menantunya.


"Niki, bawa sekalian piring kotormu dan Farel ke dapur," perintah Papa saat keduanya berdiri dan akan menuju ke kamar.


"Biar aku aja," bisik Farel ketika istrinya menggeram kesal.

__ADS_1


"Biarkan Niki yang membawa piring itu ke dapur. Dia harus belajar melayani seorang suami, bukan sebaliknya," ujar Papa.


Farel mengiringi langkah istrinya masuk ke dalam kamar. Ia tidak menyangka Papa mertuanya sanggup bersikap seperti itu pada anak satu-satunya.


"Tempat tidurku sempit, Pak Farel pulang aja ke apartment," ucap Niki setengah mengusir.


"Kalau aku pulang, nanti kamu di tegur lagi sama Papa."


"Terserah, tidur aja di lantai," ucap Niki ketus lalu naik ke atas ranjang. Farel pun bersikap tak acuh, ia lantas ikut naik ke atas ranjang yang berukuran hanya untuk satu orang.


"Iiih, kok di sini, turun!" seru Niki sembari mendorong badan suaminya. Farel yang sudah menduga akan mendapatkan reaksi seperti itu, sudah siap dengan posisi bertahannya.


"Mau di mana lagi, kamarmu ini ga ada sofa. Lagian ranjangmu ini cukup kok untuk kita berdua." Ranjang single berukuran 120cm itu memang cukup untuk keduanya, asal saling berdekatan dan tidak banyak bergerak.


Farel dan Niki sama-sama terdiam memandang ke langit-langit kamar. Kecilnya ranjang membuat kedua lengan mereka saling menempel dan bergesekan.


"Enak juga ya tempat tidur kayak gini. Ukurannya pas untuk kita berdua," goda Farel. Niki tak menjawab, ia sudah kehabisan cara untuk mengusir Farel dari dalam kamarnya. Selain itu ia takut Papanya akan semakin marah padanya. Niki memutar badannya dan membelakangi suaminya.


"Kamu kenapa? Sejak pagi sudah marah-marah, apa aku ada salah?" tanya Farel lembut. Ditanya seperti itu Niki semakin sedih dan menangis. Farel berusaha memutar tubuh Niki menghadap kearahnya, tapi istri kecilnya itu terus mengeraskan tubuhnya.


"Kalau hanya marah dan nangis seperti ini tanpa cerita, mana aku ngerti, Niki." Farel mengalah ia tidak lagi berusaha memutar tubuh istrinya, tapi tangannya terus mengusap rambut serta punggung yang bergetar menahan tangisan.


"Aku minta maaf ya kalau ada salah," ucap Farel lembut. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya membujuk Niki.


Selama hidupnya, baru ini ia menghadapi seorang wanita yang merajuk. Wanita yang pertama kali ia dekati sekaligus ia nikahi tidak pernah bermanja-manja dengannya. Marisa dan dirinya adalah pasangan suami istri hanya di atas kertas. Dagu Marisa selalu terangkat angkuh jika berbicara dengannya. Sepanjang pernikahannya baru kemarin ia melihat dan mendengar Marisa menangis, bahkan berlutut di kakinya.


Mengingat Marisa, pikiran Farel kembali berkelana pada wanita yang masih menggenggam sebagian hatinya itu. Bagaimana, di mana, sedang apa dan bersama siapa Marisa sekarang. Sejak kemarin ia tidak menyalakan ponselnya.


Ada sepercik harapan Marisa kembali menghubunginya dan memohonnya untuk tidak pergi. Lantas jika wanita itu memintanya untuk kembali, apakah ia akan memenuhi permintaannya? Kemarin emosi menguasai hatinya saat ia mengucap kata perpisahan. Setelah rasa marah itu berangsur-angsur menghilang yang tertinggal hanyalah khawatir.


Larut dalam lamunannya, Farel tidak menyadari Niki telah berbalik menghadap ke arahnya. Gadis itu memandang sedih ke arah wajah suaminya yang terlihat kosong. Dari tatapannya ia menduga isi kepala Farel bukanlah dirinya.

__ADS_1


"Pak."


"Ya, Cha?" Sedetik kemudian Farel baru menyadari nama siapa yang ia sebut, "Kenapa, Niki," ralat Farel dengan suara tercekat, ia berharap Niki tidak mendengar nama yang ia panggil sebelumnya.


Namun terlambat, gadis itu sudah mendengarnya. Terasa sakit bahkan semakin perih walaupun ia sudah menduga sebelumnya.


"Kamu mau bilang apa?" tanya Farel semakin lembut. Ada rasa khawatir melihat sinar mata Niki semakin redup.


"Mari kita bercerai," ucap Niki lugas.


"Apa?"


"Kita cerai saja yuk, Pak," ucap Niki berusaha mengendalikan nada suaranya agar tidak bergetar.


"Kamu ngomong apa? Pernikahan bukan mainan, Niki. Sebentar minta nikah, sebentar lagi minta cerai. Berpikirlah dewasa, jangan seperti anak kecil."


"Selama ini saya salah menilai perasaan saya pada Bapak. Saya tidak cinta, saya cuman kagum," ujar Niki. Setengah dari wajahnya ia benamkan dalam guling yang ia peluk.


"Sudahlah, kita tidur dulu. Besok kalau pikiran sudah segar, kita bicarakan lagi." Farel membalikan tubuh Niki menghadap tembok, tapi Niki kembali berputar menghadapnya.


"Saya mencintai orang lain, Pak. Saya suka sama Tomi, bukan Bapak. Maafkan saya." Niki memberanikan menatap kedua mata Farel secara langsung.


Dosennya itu membalas tatapan matanya tak percaya. Matanya penuh luka dan kekecewaan. Farel mencari-cari keraguan di dalam mata jernih Niki, tapi ia tidak dapat menemukannya.


"Maka itu, mari kita berpisah, Pak."


...❤️🤍...


Sambil nunggu up mampir ke karya ku yang lain yuk


__ADS_1


__ADS_2