
Niki semakin mempercepat larinya ketika suami sekaligus dosennya itu mencengkram krah baju Tomi. Jangan sampai dosennya itu dipecat gara-gara memukul siswa hanya karena masalah pribadi.
"Kenapa, Pak Farel? Mau pukul? silahkan saja." Tomi malah menyodorkan pipinya."
"Anak sialan kamu," desis Farel geram. Kepalan tangannya sudah teracung siap menghajar wajah mahasiswanya.
"Pak Farel!" Niki menarik lengan Farel yang sudah tearah ke wajah Tomi.
"Kamu dari mana saja, Niki?" Farel berbalik menghadap istri kecilnya, pertanyaan yang lebih terdengar teguran itu membuat Niki semakin kesal.
"Dari mana aja gimana sih maksudnya. Pak Farel sendiri yang antar aku ke kampus tadi, kenapa masih nanya?"
"Ya aku tahu, tapi kamu tidak ada di kelas. Aku tanya sama Bu Firda kamu absen pagi tadi. Aku hubungi ponselmu, tidak kamu jawab sama sekali. Kamu kemana aja?" Farel masih bertanya dengan nada tinggi yang emosi.
Beberapa mahasiswa yang berada di sana sudah mulai bergerak mendekat. Dalam pandangan mereka, seorang mahasiswi sedang ditegur karena ketahuan melakukan kesalahan.
"Ini kampus, Pak. Saya di sini mahasiswi Bapak, bukan istri," ucap Niki tajam setengah berbisik, "Maaf ya, Tomi ini salah paham." Niki berbalik menghadap Tomi dan berkata dengan lembut, tangannya menyentuh lengan pemuda itu sekilas hanya sekedar bahasa tubuh permintaan maaf.
"Ya ga apa-apa, Nik. Tidak ada masalah, aku juga sempat khawatir tadi kamu ga ada di mana-mana katanya. Untunglah kamu baik-baik saja." Tomi membalas dengan senyuman dan tatapan mata yang teduh. Di mata Farel sentuhan ringan Niki dan senyuman manis Tomi, merupakan bentuk keintiman yang berlebihan jika hanya seorang teman biasa.
"Kalau sudah ga ada kelas, kita pulang." Farel menggamit tangan Niki seakan menegaskan pada Tomi bahwa gadis ini miliknya.
"Pak Farel ga minta maaf dulu sama Tomi?"
Farel menatap istrinya, seolah bertanya 'apakah aku harus melakukannya?', namun ia akhirnya tetap melakukannya dibawah tekanan tatapan mata Niki yang tajam.
"Maaf," ucapnya singkat, "Ayo." Farel menarik tangan Niki tak sabar.
"Sampai ketemu, Nik." Teriakan Tomi masih terdengar dari jauh. Farel menyentak dan menarik tangan istri kecilnya semakin keras ketika Niki menoleh dan membalas lambaian tangan Tomi.
"Sakit," keluh Niki sebal.
"Kamu terlalu lamban jalannya. Masuk." Farel membuka pintu mobil dan mendorong pelan Niki masuk ke dalam.
"Mau kemana?" tanya Niki bersungut.
"Pulang."
__ADS_1
"Laper."
"Makan di rumah aja, Nur sudah masak."
"Nur siapa?"
Farel tersenyum tipis mendengar nada suara Niki sedikit meninggi. Rupanya istri kecilnya itu bisa cemburu hanya karena mendengar nama wanita lain disebutkan.
"Nanti aku kenalkan."
"Aku juga sudah bisa masak, kenapa harus orang lain yang masak?"
"Iya, nanti kapan-kapan kamu yang masak," timpal Farel santai. Merasakan nada kecemburuan Niki, ia sudah lupa dengan kemarahannya pada Tomi tadi.
"Pak Farel kenapa tadi marah sama Tomi, sampai mau mukul segala?"
Farel melengos malas, baru saja ia melupakan kejadian barusan, Niki malah mengingatkan lagi.
"Tomi tidak aku pukul kok."
"Ya, hampir Pak Farel pukul kalau saja aku ga cepat datang."
"Jangan gitu lagi, kenapa juga Tomi harus jadi sasaran kemarahan, 'kan kasihan."
"Aku marah karena waktu ditanya apakah dia tahu kamu di mana, dia jawabnya kalaupun saya tahu, saya tidak akan beritahu Bapak. Apa sopan jawab seperti itu? Lagian kenapa sih kamu bela dia?" Emosi Farel kembali memuncak.
"Dia baik sama saya, wajar kalau saya bela."
"Sudah pernah ku bilang, kalau laki-laki terlalu baik dengan seorang wanita pasti ada maunya. Tidak ada pertemanan yang tulus antara pria dan wanita. Jadi kamu harus hati-hati."
"Jadi hubungan Pak Farel dengan Mba Marisa apa sekarang? teman? Kenapa Pak Farel sebaik ini dengan Mba Marisa, mau menutupi aib dan melindungi sampai anak yang dikandung lahir. Bahkan Pak Farel mau berniat mengejar Galih untuk bertanggungjawab. Apa yang Pak Farel inginkan dari Mba Marisa?" Niki melirik tajam ke arah Farel.
"Kamu ngomong apa sih? Kenapa jadi ngelantur kemana-mana. Kita sedang membahas Tomi yang ada niat terselubung sama kamu."
"Saya tahu batasan teman pria dan wanita. Sebelum mengenal Pak Farel, saya lebih dulu mengenal Tomi. Dari dulu memang mengejar saya, tapi sampai detik ini dia tidak pernah berlaku melewati batas."
"Semoga."
__ADS_1
"Saya harap Pak Farel dan Mba Marisa juga dapat menghargai saya, saat kita tinggal seatap nanti," lanjut Niki lirih.
"Kamu ga usah khawatir, aku tidak seburuk yang kamu pikirkan."
"Semoga," balas Niki datar.
Pagar tinggi yang membatasi rumah dengan dua lantai bercat putih bersih menyambut Niki. Sejenak ia mengagumi rumah yang sempat menjadi saksi cinta suaminya pada mantan istrinya. Bukan karena besarnya rumah itu, tapi ia merasa cinta Farel pada Marisa tidak main-main. Pria yang menjadi suaminya itu dengan ikhlas dan ringannya memberikan rumah mewah itu pada mantan istrinya yang dengan jelas telah mengkhianatinya selama pernikahan mereka.
"Ayo masuk." Farel membukakan pintu rumah berukuran besar. Dalam rumah itu tampak sepi, Mama dan Marisa entah dimana.
"Makan dulu? Tadi bilangnya lapar, ini Nur yang masak di rumah ini." Farel melambaikan tangan memanggil pekerja rumah tangga dari dalam dapur.
"Oh."
Farel menahan senyum melihat wajah Niki yang memerah karena malu.
"Nur, ini Bu Niki istri saya."
"Istri? ... Oh, ya ya." Nur sempat terkejut, tapi dengan cepat menguasai keadaan.
"Iya, saya dan Bu Marisa sudah berpisah. Kamu tahu 'kan. Kami hanya sementara aja di sini, rumah ini tetap ditinggali oleh Bu Marisa," jelas Farel. Pekerja rumah tangga itu hanya menganggukan kepala dan tersenyum pada Niki.
"Nanti aja makannya, mama mana?" Mendengar Farel mengungkit tentang kepemilikan rumah ini, membuat Niki kehilangan selera makan.
"Nyonya besar tidur, Bu. Koper dan barang Bu Niki sudah saya antar ke kamar Bapak." Nur menunjuk kamar yang berada di lantai dua.
"Terima kasih ya, Nur. Yuk kita keatas dulu." Farel menggiring istrinya ke arah tangga, "Ini kamar kita." Farel menyunggingkan senyum penuh arti ketika akan membuka pintu kamarnya.
"Niki sudah selesai kuliah?"
Keduanya serempak menoleh ketika pintu di sebelah kamar mereka terbuka.
"Kamu ngapain dari kamar mama?" tanya Farel.
"Mama tidur di kamar bawah. Kasihan kalau harus naik turun tangga, lagipula sedih tidur sendirian di ranjang yang biasanya ada kamu di sampingku," ucap Marisa sendu.
...❤️🤍...
__ADS_1
Bawa cerita bagus lagi nih, ikutin ceritanya ya dijamin seru loh