
"Bayi apa? Dia istrimu, ya akui saja sendiri," ujar Galih sengit, tapi tak mau menatap langsung ke arah Farel. Pria jangkung itu berpura-pura sibuk dengan berkas yang akan dibawanya ke meja rapat.
"Jangan kamu kira aku tak tahu hubunganmu dengan Marisa. Selama ini aku menutup mata dan mulut karena untuk menjaga nama baik Marisa sebagai istriku Aku selalu hanya berharap kalian berubah dan sadar dengan apa yang kalian lakukan selama ini adalah salah, tapi apa? kamu malah meninggalkan jejak yang tak mungkin terhapuskan. Asal kamu tahu, Marisa sudah bukan istriku lagi." Farel mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Galih.
"Ow, benar rupanya yang dibicarakan oleh Marisa, kamu terpikat dengan mahasiswimu dan akhirnya meninggalkan dia." Galih akhirnya mengangkat kepalanya.
"Jangan melemparkan kotoranmu ke wajahku, Galih. Jelas-jelas kamu sudah bermain gila dengan Marisa sampai ia mengandung anakmu!" Emosi Farel tak terbendung, ia menggebrak meja kerja Galih sekuat tenaga.
"Mana buktinya kalau itu anakku? Kamu suaminya, jelas itu anakmu. Kamu berselingkuh dengan mahasiswimu dan sekarang kamu buang wanita yang menjadi istrimu!" tuding Galih.
"Bang sat! Jangan memutar balikan fakta!" Farel merangsek maju dan mencengkram kemeja Galih hingga pria yang dulu sangat akrab dengannya itu tercekik.
"Itu kenyataannya, Farel, kamu suaminya dan kamu yang harus bertanggungjawab atas anak itu, hehehe." Galih masih bisa tertawa meski Farel menekan rahangnya.
Reaksi Galih yang terkesan mencuci tangan dan melempar kesalahan kepadanya, membuat Emosi Farel tak dapat ditahan lagi. Ia menghantam wajah dan tubuh Galih membabi buta. Teriakan kesakitan Direktur utama perusahaan itu, membuat sekretarisnya memanggil petugas keamanan untuk memisahkan mereka.
"Dengar, Galih! Aku akan buktikan kalau kamu pria yang brengsek dan kamu harus bertanggung jawab atas anak yang ada di kandungan Marisa!" Petugas keamanan menarik Farel keluar dari ruang kerja Galih, sementara ia terus berteriak melampiaskan emosinya.
Farel dilemparkan begitu saja oleh petugas keamanan di halaman kantor tersebut. Dosen muda itu hanya bisa mengucap sumah serapah pada petugas keamaan yang menghadangnya di depan pintu masuk.
Sementara itu di rumah, Niki berdiri bersandar di ambang pintu kamar menyaksikan mertuanya mencoba menenangkan Marisa. Sebagai seorang wanita, ia dapat mengerti perasaan mantan istri Farel itu. Apalagi dengan kondisinya yang sedang mengandung. Di saat wanita lain mendapatkan perhatian dan perlakuan istimewa dari pasangannya, Marisa malah dicampakan oleh ayah bayi dan suami dalam waktu yang bersamaan.
"Maaa, ijinkan aku matiii ...." Tangisan pilu Marisa meruntuhkan hati Mama Farel sebagai seorang ibu dan wanita.
Sakit hatinya sebagai seorang ibu dari anak yang dikhianati dalam pernikahan, masih membekas. Namun melihat wanita yang pernah menjadi menantunya ini, menangis dan meraung dalam pelukannya hati Mama Farel luluh.
__ADS_1
"Tak satupun manusia berhak memutuskan dan menciptakan kematian mahkluk hidup jika bukan seijin Sang Penciptanya. Hanya berpikir saja itu dosa, Nak. Hidup itu anugerah, calon bayimu itu juga anugerah entah bagaimana caranya ia hadir tetaplah anugerah. Cobalah pikir, kalau kamu ingin berhenti hidup, berarti kamu menolak dua anugerah yang Tuhan berikan." Mama Farel memeluk dan mengusap kepala serta punggung Marisa.
Inilah yang ditakutkan oleh Mama Farel. Jiwa Marisa yang tergoncang akibat ditinggalkan Galih dan Farel secara bersamaan dalam keadaan mengandung, dapat menimbulkan hal yang tak diinginkan. Bisa saja ia tak peduli akan keadaan Marisa, tapi jika itu terjadi nama Farel akan terus dikaitkan dan perasaan bersalah juga akan menghantui seumur hidupnya.
"Aa-akuu ga bisaa, Maaa." Marisa memukul-mukul perut dan meremas rambutnya sendiri.
"Kamu bisa, ada Mama di sini. Mama akan bantu kamu besarkan anakmu, sampai kamu menemukan pria yang mencintaimu dan anakmu dengan tulus."
"Fa-Farel tulus tapi aku ... akuu jahaaattt!"
"Syukurlah kalau kamu sudah mengerti dan menyesal, tapi Farel bukanlah jodohmu sekarang. Hargai kebaikannya yang masih mau membantumu, hargai juga wanita yang menjadi istrinya. Jangan ganggu pernikahan mereka. Mama yakin, kamu akan menemukan kebahagiaanmu sendiri, asalkan kamu ikhlas."
"Maaaaa ...." Marisa semakin histeris dan jatuh bersimpuh di depan kaki mantan mertuanya itu. Niki yang mendengar dan melihat kejadian itu, ikut menitikan air mata sembari bersandar di ambang pintu.
"Ada apa, Ma?" Suara lelah Farel terdengar dari kamar Niki. Tak terdengar apa jawaban Mama dan pembicaraan mereka. Niki semakin menempelkan telinganya di daun pintu, mencoba mencuri dengar apa yang mereka percakapkan.
"Aduh!" Niki terkejut ketika pintu terdorong ke arah belakang dan menghantam kepalanya.
"Kamu ngapain di situ?" Farel terkejut saat melihat istrinya berada di balik pintu.
"Aku tadi mau keluar, Mas Farel sudah terlanjur masuk duluan." Niki mengusap kepalanya yang terasa nyeri.
"Ada-ada aja. Coba aku lihat." Farel menarik Niki ke dalam pelukan dan mengamati kening istrinya yang memerah lalu ia mengusap dan mengecup lembut kepala Niki.
Niki menegadahkan kepalanya, wajah lelah dan sorot mata suaminya yang kosong menarik perhatiannya, "Mas Farel kenapa?"
__ADS_1
Farel menarik nafas berat dan panjang sebelum menjawab pertanyaan istrinya, "Tadi aku ke kantor Galih meminta pertanggung jawaban atas apa yang dilakukan pada Marisa."
"Lalu?" kejar Niki penasaran.
"Dia mengelak, karena saat Marisa mengandung dia masih berstatus resmi menjadi istriku."
"Jadi, maksudnya Mas Farel yang harus bertenggungjawab?"
Farel tak menjawab, ia hanya menatap wajah Niki dengan sendu. Pikirannya terasa buntu untuk berpikir. Banyak beban ada di pundaknya yang harus ia pikul di saat bersamaan. Takut kehilangan Niki, tapi juga harus menyelesaikan PR di pernikahan sebelumnya. Memang Marisa bukanlah kewajibannya lagi, tapi sebagai seorang tenaga pendidik yang terbiasa bertanggungjawab ia tak sampai hati meninggalkan seorang wanita yang sedang kesusahan.
"Mba Marisa tadi nangis, dia seperti putus asa mau bunuh diri. Kalau aku jadi dia pasti ga sanggup, kasihan."
"Dia menuai apa yang sudah dia perbuat sebelumnya."
"Mas Farel masih sakit hati?"
Farel tersenyum melihat kepolosan istri kecilnya itu. Tangannya terangkat mengusap kepala Niki, "Untuk apa sakit hati, aku sudah punya obatnya di sini."
"Iiishh, sudah bisa ngegombal." Niki menyembunyikan wajah tersipu malunya dengan cebikan manja.
"Bukan hanya sekedar gombal, tapi itu memang yang sebenarnya, Niki. Kamu membawa perubahan besar untuk aku. Maaf kalau awalnya aku mengabaikanmu dan menganggapmu sebagai pengganggu dalam rumah tanggaku, karena kenyataannya kamulah yang mengobati rasa sakitku di sini." Farel mengangkat tangan Niki dan mengarahkan ke dadanya.
Niki menggigit bibirnya, ia tidak mau memperlihatkan senyumnya yang lebar karena terlampau senang.
...❤️🤍...
__ADS_1