
Malam harinya setelah suasana kembali tenang seperti biasa, Niki dan Farel berbaring di atas ranjang telentang sembari memandangi langit-langit.
"Sampai kapan kita tinggal di sini?" tanya Niki.
"Kamu tidak suka rumah ini?"
"Suka, tapi terlalu besar. Ini juga rumah Mba Marisa, pasti banyak kenangan Mas Farel dengan Mba Marisa di sini."
"Kamu cemburu?" Farel terkekeh pelan, "Aku sebenarnya sudah mempersiapkan rumah untuk kita tinggali bersama. Kita akan segera pindah kesana, tapi kita pindah bukan karena aku masih terkukung dalam kenangan dalam rumah ini tapi karena aku ingin memberikan yang terbaik untuk kamu."
Dua ujung bibir Niki menekuk ke bawah mengejek perkataan suaminya yang ingin sok romantis.
"Kapan kita pindah?"
"Secepatnya setelah Mama kembali pulang."
"Mama Mas Farel ga ikut kita tinggal di rumah baru?"
"Mama punya rumah sendiri, beliau dari dulu terbiasa hidup sendirian. Lagipula Mama punya usaha meski kecil-kecilan."
"Sepi."
"Jangan khawatir, rumah kita yang baru tidak jauh dari rumah tinggal kamu dulu. Kamu bisa sering pulang ke rumahmu atau orangtuamu yang mengunjungi kamu. Oh ya, tadi pagi ngobrol apa sama Mama di dalam kamar, sepertinya serius?"
Farel memiringkan tubuhnya menghadap Niki.
"Ga ada, cuman cerita-cerita kecil aja."
"Yakin? Mamamu sendiri yang bilang loh kalau kamu mau bicara sesuatu sama aku."
Niki mengomel dalam hati. Mamanya terlalu menganggap serius pembicaraan tadi pagi. Walaupun memang ia takut melahirkan, tapi setelah berbagi cerita dengan Mamnya tadi pagi hatinya sedikit lebih tenang.
"Tidak terlalu penting."
"Apapun tentang kamu sekarang aku anggap penting. Aku tidak mau melewatkan hal sekecil apapun tentang kamu. Berbagilah denganku, Istriku," goda Farel.
"Iiihh, geli banget!" Niki menutup wajah suaminya dengan kedua telapak tangannya.
"Ayo dong cerita." Farel merangkum kedua tangan Niki dalam genggamannya.
"Janji jangan berpikir buruk tentang aku ya."
"Janji."
__ADS_1
"Di rumah sakit tadi saat Mba Marisa melahirkan, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Mba Marisa kesakitan lalu dibawa ke meja operasi. Aku lihat gimana Mba Marisa setengah tertidur dibawah pengaruh obat bius dan dokter mulai mengerjakan sesuatu di perutnya. Aku lihat bayi itu dikeluarkan dari perut Mba Marisa. Masih penuh darah dan lendir."
Raut wajah Niki mengernyit antara takut dan jijik. Farel tetap diam dan sabar menunggu sampai istrinya selesai bercerita.
"Awalnya aku senang meski ngeri, tapi setelah ... bayi itu tak menangis dan tak bergerak, aku takut."
"Takut kenapa?"
"Aku takut punya anak," cicit Niki.
"Kenapa harus takut?"
"Takut kalau aku hamil, bayiku meninggal dan aku juga meninggal seperti Mba Marisa." Niki mengusap perutnya lalu memandang Farel dengan mata berkaca.
"Itulah kenapa ada aturan usia bagi wanita yang dianggap siap untuk mengandung dan melahirkan. Kesiapan seorang wanita untuk hamil dan menjadi ibu, bukan hanya dilihat dari segi usia. Anak SMP pun sudah bisa mengandung, tapi mereka belum siap secara mental. Ada wanita yang sudah usia 25tahun keatas belum siap punya anak, tapi ada juga wanita dibawah25tahun, bahkan usia belasan siap dan bisa menjadi ibu yang baik."
"Pak Dosen sedang memberi kuliah malam?"
"Kamu ini dikasih penjelasan malah ngeledek." Farel mencubit hidung Niki gemas.
"Jadi maksud Mas Farel aku masih kecil dan belum siap punya anak?"
"Aku tidak bilang seperti itu. Secara usia kamu sudah sangat siap punya anak sepuluh sekalipun, tapi kesiapan mentalmu hanya kamu yang mengerti. Aku tidak memaksamu untuk mempunyai anak sekarang, Sayang. Terlebih kamu harus menyelesaikan tugas akhirmu. Aku tidak mau, kamu menjadikan kehamilanmu sebagai alasan menunda wisuda."
"Lalu apa alasanmu dua bulan ini tidak melanjutkan tugas akhir?" tantang Farel.
"Mas Farel tadi bilang kalau hal sekecil apapun tentang aku harus cerita?" Niki memiringkan tubuhnya menghadap suaminya.
"Iya."
"Aku harus berbagi semuanya, agar Mas Farel tahu tentang aku."
"Ya, aku harap seperti itu."
"Sekarang maukah berbagi denganku tentang tugas akhir?" Niki memainkan jemarinya di dada suaminya. Farel menyipitkan matanya, ia merasakan kenakalan dalam permintaan istri kecilnya itu.
"Apa yang kamu mau?"
"Bantuiiiinnn." Niki merengek manja.
"Hhhh ... Ada upahnya." Farel mengerling nakal.
"Ckk!"
__ADS_1
Sedetik kemudian lampu dipadamkan dan kamar menjadi gelap, yang terdengar hanyalah bisik-bisik dan tawa tertahan di balik selimut.
"Siap punya anak?" Farel bertanya ditengah deru nafasnya. Niki tak sanggup menjawab, ia sibuk mengatur nafas dan gairahnya, "Ah, lama jawabnya," sahut Farel tak sabar.
Tujuh bulan kemudian, seorang wanita bertubuh mungil memakai jubah hitam dengan toga di atas kepalanya menaiki podium. Wanita itu mengangkat kedua tangannya setinggi mungkin, setelah rumbai dikepalanya bergeser dari kiri ke kanan.
Kedua orangtua Niki terharu sejak nama putrinya, Annikin Anersa Nastiti di panggil naik untuk menjalani prosesi wisuda. Sang suami yang berdiri berjajar dengan para dosen lainnya menatap bangga pada istri sekaligus ibu dari calon anaknya.
"Ciiyeeeee." Semua dosen dan tenaga pendidik lainnya bersorak menggoda Farel ketika istri kecilnya itu berjalan melewati mereka sembari mengedipkan mata.
Suasana kampus sejak kepergian Marisa selama-lamanya, berangsur-angsur membaik. Nama Farel dan Niki perlahan bersih tanpa mereka repot-repot menjelaskan. Tak perlu ada yang dikhawatirkan lagi soal gosip yang beredar dulu. Semua yang mencacinya akhirnya bungkam, setelah tahu cerita dibalik kisah rumah tangga dosen mereka.
Hubungan panas yang terjadi setelah membahas ketakutan Niki untuk mempunyai anak, membuahkan janin yang berkembang di rahimnya.
"Selamat ya, Sayang Papa sama Mama bangga sama kamu." Mama Niki dan Papanya memeluk serta mencium putri semata wayangnya.
Walaupun di awal mereka menyesali keputusan Niki untuk menikah muda dengan cara tak lazim, namun mendapatkan menantu Farel sebuah anugerah terbaik karena mereka merasa aman menitipkan Niki pada orang yang tepat.
"Hai, Sarjana Psikologi," sapa Farel.
"Iiih, Bapak Dosen yang ini sukanya godain terus." Niki mencubit perut suaminya gemas.
"Niki, ini masih di kampus." Farel melepaskan tangan Niki yang bersarang di perutnya.
"Biarin, sekarang aku bukan mahasiswa lagi tapi Ibu Farel Artama, dosen ganteng di kampus ini." Niki bergelayut manja di leher suaminya masih dengan baju wisuda lengkap.
"Nikiii, maluuu ...." Farel berusaha melepaskan rangkulan tangan istrinya. Ia tersenyum malu pada mahasiswa dan dosen yang melewati mereka.
"Tidak apa-apa, Pak Farel dinikmati saja. Ini hari bahagia, Annikin. Selamat ya." Farel meringis malu ketika seorang rekan kerjanya yang senior menyapa dan menepuk pundaknya.
"Malu ya punya istri wisuda dengan perut buncit seperti ini? Perutku seperti ini juga karena Mas Farel ga sabar malam itu, bilangnya tunggu mentalku siap tapi dijadikan juga." Niki merajuk kesal.
"Aduuuh, dibahas lagi. Ayo sudah kita makan dulu yuk, biasa kalau marah-marah seperti ini pasti lapar." Farel menggiring istrinya menuju parkiran di mana Mama dan Papa Niki sudah menunggu di dalam mobil.
...❤️🤍...
Terima kasih teman-teman yang sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Love you banyak-banyak 💋
Maaf ya kalau update tidak rutin tiap hari, aku orangnya pemalas 😂🙈 kalau belum sreg untuk lanjut kadang jari ikut macet ketiknya 😭😭🙏
Maaf juga kalau jalan cerita tidak sesuai dan ada kata yang menyinggung 🙏 ambil baiknya, buang buruknya ya.
Mampir juga ke ceritaku yang lain yuk
__ADS_1