
Niki segera berlari kecil, menyeimbangkan dengan langkah lebar suaminya. Sesampainya di depan ruang rawat mereka hanya boleh sampai di depan pintu, karena Marisa masih ditangani oleh paramedis.
Dengan perasaan bercampur aduk, pasangan suami istri itu mengamati bagaimana Marisa diberikan bantuan pernapasan. Terlihat ada darah yang mengalir jatuh membasahi lantai dari ujung ranjang pasien.
Farel menarik istrinya menjauh dari kamar Marisa, ia tidak mau Niki melihat pemandangan mengerikan itu.
"Mba Marisa kenapa itu, Mas?" Niki menolak saat suaminya mencoba menghalangi dengan badannya ketika ia ingin melihat ke dalam.
"Kita biarkan dokter dan perawat bekerja, kalau kita berdiri di sini bisa menghalangi mereka." Farel terus mendorong tubuh Niki ke arah bangku yang berjajar.
"Mba Marisa ... Itu tadi ... darahnya banyak sekali ...." Niki menggigil ketakutan. Farel membawa istrinya ke dalam pelukan.
Wajah Niki ia benamkan di dadanya, seolah ingin menutup semua penglihatan serta pendengaran istri kecilnya pada semua hal-hal buruk yang terus datang beruntun.
"Aku takut," ucap Niki lirih.
"Aku juga, kita berdoa saja dari sini untuk keselamatan Marisa dan Galih." Walaupun kedua orang itu telah menorehkan luka serta menjatuhkan harga dirinya, Farel tetap merasakan kesedihan yang luar biasa akan nasib yang dialami mantan istri serta sahabatnya itu.
Hiruk pikuk dari ruang pemulihan Marisa serta para medis yang keluar masuk melewati mereka dengan baju dan tangan berwarna merah karena darah Marisa, membuat keduanya diliputi ketegangan. Ruang pemulihan yang seharusnya tenang, malam itu riuh layaknya ruang IGD.
Suara berangsur-angsur mereda Farel memutuskan mengintip apa yang terjadi.
"Tunggu di sini ya," ujar Farel pada Niki yang sejak tadi menutup matanya dengan tangan.
"Ikut." Niki membuka mata lalu menahan tangan suaminya.
"Di sini dulu, kalau sudah boleh masuk aku panggil kamu." Setelah memastikan istrinya patuh pada perintahnya, Farel segera berdiri lalu berjalan cepat ke ruang rawat Marisa.
Lemah lutut Farel dengan pemandangan yang ada di dalam. Para medis begitu tenang membersihkan dan meringkas peralatan yang digunakan dalam keadaan darurat tadi.
__ADS_1
Tubuh Marisa di atas ranjang sudah tak nampak lagi. Balutan kain putih telah menutup dari ujung kaki hingga kepala. Seorang dokter yang baru saja melepas jasnya yang terkena cipratan darah, berjalan menghampirinya.
"Saudara Ibu Marisa?" tanya dokter itu. Farel menggangguk samar. Matanya masih tertuju pada tubuh di balik kain putih itu.
"A-apa yang terjadi?" tanyanya.
"Ibu Marisa tiba-tiba mengalami pendarahan hebat. Sementara kami mencari penyebabnya, darah semakin mengalir tambah banyak dan tubuhnya mengejang. Sepertinya ada luka di dalam rahimnya. Kami mohon maaf, tidak bisa menyelamatkan nyawa Ibu Marisa."
Farel mengganggukan kepala lemas. Pundaknya terasa semakin berat dengan beban dua jenasah yang harus diurusnya nanti. Keluarga Marisa sudah lama tak ada kabarnya. Mereka seolah membuang anak perempuannya itu.
"Terima kasih, Dok. Boleh saya mendekat?" Farel menunjuk ranjang di mana Marisa terbaring.
"Silahkan, Pak. Sebentar lagi akan kami bawa ke ruang jenazah untuk di bersihkan."
Langkah Farel terasa berat saat mendekati ranjang Marisa. Satu persatu langkahnya, mengingatkannya saat dulu ia jatuh cinta pada sosoknya yang nyaris sempurna. Kala itu ia menutup mata dan telinganya pada apapun yang mengatakan hal negatif tentang mantan istrinya itu. Cinta yang benar-benar buta.
Tangan Farel terangkat lalu menyibak kain putih yang menutupi wajah Marisa. Kulit yang dulu selalu paripurna tertutup riasan mahal, kini pucat dan sedikit membiru. Rambut indah berwarna sekarang terlihat kusut masai. Tak ada yang tersisa dari kecantikannya saat itu.
"Mba Marisa kenapa, Mas?" Niki menghampiri Farel yang berjalan di belakang ranjang Marisa yang di dorong keluar kamar.
"Dia sudah pergi." Farel memeluk tubuh Niki erat dan mengecup kepalanya berulang kali.
"Ma-maksudnya?" Niki memandangi ranjang Marisa yang semakin jauh di ujung lorong.
"Marisa sudah ikut bersama putrinya." Farel memaksakan senyumnya. Ia harus kuat di depan istrinya yang cengeng ini.
Benar yang ia kira, Niki langsung menangis dengan kencang sembari memeluk erat tubuhnya. Beruntung ia sudah melepas tangisannya di ruang pemulihan tadi.
Suara roda ranjang pasien terdengar bergulir mendekari dari ujung lorong. Semakin dekat, mereka dapat melihat satu lagi tubuh tertutup kain putih di bawa ke ruang jenasah.
__ADS_1
Posisi mereka yang berada sejalur menuju kamar mayat, sebenarnya hal biasa jika ada pasien yang meninggal di bawa melewati mereka. Namun kali ini Farel dapat mengenali tubuh di atas ranjang pasien itu dari helai rambut yang terlihat dari balik selimut. Rambut ikal yang diwarna pirang.
"Galih?" desis Farel.
"Siapa?" Niki mengangkat kepalanya dari dekapan suaminya.
Farel melepaskan pelukannya, lalu mengejar perawat yang mendorong ranjang pasien itu, "Sebentar, Sus. Maaf boleh saya lihat pasien ini. Barangkali saya kenal."
"Boleh, kebetulan identitas pasien ini sama sekali tidak ada."
Walaupun sudah yakin tanpa melihat, tapi begitu perawat itu membuka kain yang menutupi wajah pasien, jantung Farel seakan ikut berhenti berdetak.
"Saya kenal. Dia kawan saya," ucapnya lirih.
"Syukurlah, saya ikut berdukacita ya, Pak. Tolong segera diurus administrasinya, biar jenasah segera dibawa pulang."
Farel membiarkan perawat itu kembali mendorong tubuh Galih ke ruang jenasah. Ia lalu menoleh ke arah istrinya yang mematung memandangnya.
Niki berjalan pelan mendekati Farel, karena suaminya itu hanya diam tak bergerak. Nalurinya mengatakan suaminya butuh kekuatan. Ia memeluk tubuh tegap itu dan mengusap punggungnya. Tangis Farel pecah di pelukan Niki.
Mertua Farel tak mau menerima menantunya. Mereka mengatakan Galih sudah bukan suami dari putrinya lagi. Jadi hidup dan mati Galih, sudah bukan urusan mereka. Farel hampir saja melempar ponselnya, tapi urung mengingat ia masih di area rumah sakit. Jadilah Farel dan Niki yang mengurus tiga jenasah sekaligus.
Sementara jenasah Galih, Marisa serta putrinya yang baru lahir dipersiapkan untuk di bawa pulang, Farel membawa Niki ke taman rumah sakit.
"Coklat hangat." Farel menyodorkan gelas kertas yang masih mengepulkan uap panas.
Beberapa saat mereka duduk dalam diam menikmati pemandangan dan hawa sejuk pergantian dari malam hari ke pagi hari. Langit yang memerah, ayam jago yang berkokok serta sejuknya embun menenangkan keduanya dari ketegangan semalam.
"Mas Farel baik-baik saja?" Niki memandangi suaminya sembari mengusap pipi Farel.
__ADS_1
"Ada kamu di sini, aku pasti baik-baik saja," ucap Farel sembari tersenyum teduh. Farel merengkuh Niki ke dalam pelukan, lalu mengecup kepalanya berulang-ulang lagi.
...❤️🤍...