
Farel memberikan tatapan peringatan sekali lagi pada mantan istrinya. Mama pun menggelengkan kepala ke arah Marisa.
"Kemarilah, Niki, ada yang mau disampaikan oleh Farel padamu." Mama menepuk kursi kosong disampingnya.
Niki meletakan pan tatnya pelan, ada rasa canggung berada dalam satu ruangan yang sama bersama ibu mertua yang baru kali ini ia temui, dan mantan istri dari suaminya. Mungkin sebentar lagi ia akan pingsan setelah mengetahui niat Farel menyatukan mereka dalam satu rumah.
Farel meletakan mangkok yang belum habis sepenuhnya ke atas meja. Matanya mengarah ke wajah polos istri kecilnya yang sedang menatapnya penasaran.
"Niki, tentu kamu sudah tahu ini mamaku, dan itu Marisa, mantan istriku." Marisa melengos ketika dari mulut Farel terucap kata mantan yang ditujukan untuk dirinya, "Maaf kalau aku tidak memberitahumu jika mama akan datang."
"Tidak apa, mama justru senang. Dengan begitu mama bisa melihat bagaimana istri anak mama sebenarnya tanpa ada yang ditutupi."
"Lantas bagaimana pendapat mama setelah melihat secara langsung, apa yang aku katakan kemarin terbukti?" sela Marisa.
"Apa maksudmu?" sergah Farel tak suka.
"Rahasia antara aku dan mama."
"Sudahlah, semua ini tak ada hubungannya, Marisa. Tolong diamlah, hargai orangtua yang sedang berbicara!" tegas Mama semakin emosi.
Tangan Marisa terkepal erat, ia merasa jauh mundur ke belakang. Mantan ibu mertuanya yang diharapkan dapat ia pengaruhi, ternyata sedikit sulit.
"Niki, yang akan aku sampaikan ini pasti berat untuk kamu." Farel meraih tangan istrinya dan digenggamnya di kedua tangannya, "Marisa hamil ... Tunggu sebentar, Sayang dengarkan dulu." Farel menahan tangan Niki, begitu ia merasakan gadis itu spontan menarik tangannya dari genggamannya. Mendengar Farel memanggilnya dengan sebutan Sayang, Niki menurut saja ketika suaminya itu menggenggam tangannya semakin erat.
"Anak yang Marisa kandung, bukan anakku," lanjut Farel pelan. Kedua alis Niki terlihat bertaut, tapi hanya sebentar. Ia mulai mengerti, teringat akan penggrebekan di hotel malam itu dan pembicaraan antara Farel dan Marisa yang sempat ia curi dengar, sudah dapat menjelaskan bahwa mantan istri suaminya itu telah berselingkuh.
"Bisa jadi ini anakmu, Farel." Marisa mengusap perutnya tanpa malu.
__ADS_1
"Jangan mengada-ada, Echa. Tanpa pembuktian secara medis juga aku yakin, bayi yang ada di perutmu itu bukan anakku."
"Kita pernah menjadi suami istri, tentunya kita juga melakukan hubungan intim, Farel."
Tanpa sadar bibir Niki mencebik membayangkan suaminya sedang melakukan hubungan intim dengan mantan istrinya.
"Kamu benar, dan selama pernikahan kita hanya melakukan itu sekali, dan itu sudah hampir setahun yang lalu! Lantas bagaimana bisa kamu bilang itu anakku?" Emosi Farel kembali tersulut.
Mama memandang tak percaya pada mantan menantunya. Ia tak menyangka pernikahan putranya jauh lebih hancur dan menyedihkan dari yang ia duga. Marisa memalingkan wajahnya, ia merasa malu sekaligus terhina.
Marisa menyesal telah membuka pembicaraan dengan tujuan menjatuhkan mental Niki, malah ia yang tertusuk. Ingin rasanya ia berteriak dan pergi menjauh dari mereka semua. Namun untuk sementara ini, ia harus menahan egonya agar tetap mendapat perlindungan dan jaminan hidup sampai ia menemukan sandaran baru atau merebut apa yang pernah ia miliki. Entah itu Galih atau Farel, siapapun itu asal hidupnya terjamin ia akan lakukan apapun juga.
"Lalu?" tanya Niki memotong perdebatan keduanya.
"Mama meminta agar Marisa tinggal bersama kita, hanya sampai dia melahirkan. Mama juga akan tinggal bersama kita," jelas Farel cepat. Ia tidak ingin Niki sempat berpikiran buruk tentang rencananya.
"Niki ...," panggil Farel melihat istri kecilnya terdiam mematung.
"Ya?" Niki memandang ke arah suaminya dengan tatapan pasrah.
"Kamu tidak apa-apa? Mungkin ada yang ingin kamu katakan, atau kamu ingin memberikan sebuah syarat?"
"Apa-apan pakai syarat segala. Justru aku yang harus mengajukan syarat kepada dia, karena rumah yang akan ia tinggali adalah rumahku," ucap Marisa.
Mama dan Niki memandang ke arah Farel meminta penjelasan apa yang dimaksudkan oleh Marisa. Farel menghela nafas kesal, ia lupa telah memberikan rumah yang dulu pernah mereka tinggali kepada Marisa. Walaupun secara diatas kertas masih tercantum namanya, tapi janji itu telah terucap sebagai ganti atas perpisahan mereka.
"Aku memberikan rumah itu untuk Marisa," ucap Farel yang lebih ditujukan pada mamanya, "Maaf ya, sementara ini kamu masih tinggal di apartement. Aku belum bisa memberikanmu rumah." Farel menarik tangan Niki lagi setelah gadis itu berhasil melepaskan genggamannya.
__ADS_1
Niki tersenyum kikuk. Aksi dramanya yang marah sebelum suaminya itu pergi, tak bisa ia lakukan di hadapan mertuanya. Sekarang ia harus memerankan istri yang manis, walaupun sempat sedikit geli karena perlakuan Farel yang semakin lembut setelah kembali pulang. Ditambah juga ia sangat menikmati rasa kemenangan atas Marisa yang memandangnya dengan rasa cemburu.
Sebenarnya banyak pertanyaan dan syarat di kepalanya, tapi ia menahannya sampai nanti hanya berdua dengan suaminya.
Farel mengambil mangkok yamg masih terisi separuh dan menunjukannya ke arah mamanya, "Ini enak, mama harus coba."
"Masa iya sih? Aku tadi belum sempat nyobain."
"Coba dulu." Farel mengarahkan sendok ke mulut Niki.
Niki tak langsung membuka mulutnya, ia pandangi sendok yang sebelumnya masuk ke dalam mulut dosennya itu. Dadanya berdesir mengingat mereka sudah cukup lama tidak saling bercumbu.
"Enak juga ya, ga nyangka hehehe. Aku ambilkan buat tante ya."
"Kita sama-sama ke dapur." Mama Farel mengiringi langkah menantunya ke dalam dapur.
"Kamu mahasiswinya Farel, Niki?" Mama Farel membuka pembicaraan setelah mereka berada di dalam dapur, "Kamu kenapa mau dengan Farel? Usia kalian cukup jauh, Mama lihat. Kamu cantik, masih muda lagipula Farel sudah pernah menikah. Kamu tidak ingin mencari pasangan yang sepantaran usiamu?"
Gerakan tangan Niki menyendok sop merah ke dalam mangkok melambat mendengar pertanyaan Mama Farel. Ia mencerna pertanyaan itu dan bertanya kepada dirinya sendiri. Mengapa ia dulu mengejar dosennya sampai-sampai harga dirinya jatuh tak tersisa di hadapan teman dan dosen di kampusnya.
Dia muda, cantik, pintar, ekonomi lebih dari cukup, punya kedua orangtua yang sangat menyayanginya. Sedangkan ia belum lama mengenal Farel. Sejak pertama kali ia melihat Farel di area parkir kampus, ia langsung terpikat pada dosennya itu dan sudah menginginkannya. Farel memang tampan, tapi teman di kampusnya banyak juga yang lebih tampan. Tomi yang mengejarnya pun punya wajah di atas rata-rata, pintar dan juga berasal dari kalangan berada. Lantas apa yang ia cari dari Farel?
"Niki." Mama Farel menyentuh tangannya yang mengaduk-aduk panci sembari melamun, "Kamu mencintai, Farel atau hanya sekedar mengagumi sebagai dosenmu?" tanya Mama Farel lembut.
...❤️🤍...
Mampir ke novel temanku yuk. Ceritanya bagus banget kita ketemu di sana ya
__ADS_1