
Farel menurunkan tangan Marisan dengan perlahan. Ia masih punya hati untuk tidak melukai hati wanita dengan penolakannya yang kasar.
"Kenapa, Farel? Kamu masih mencintaiku 'kan? Aku bisa melihat itu di matamu." Marisa memaksa tangannya lagi untuk memegang pipi mantan suaminya itu, tapi Farel dengan cepat menahannya sebelum tangan Marisa menyentuh wajahnya.
"Aku akan menemanimu menemui Galih," ujar Farel tegas. Ia lalu berjalan menuju pintu dan keluar dari kamar.
"Ma, boleh aku tidur di sini?" Farel membaringkan tubuhnya di sisi Mamanya.
"Kamu itu sudah dewasa, sudah mau punya anak, masak ada istri ditinggal tidur sendiri." Mama menepuk kaki Farel gemas.
"Farel rindu sama Mama." Farel merengkuh tubuh ringkih Mamanya.
Dulu saat ia ingin menikah dengan Marisa, Papa dan Mamanya sempat menentang karena mereka bisa melihat tidak ada ketulusan di mata Marisa saat itu. Namun karena keteguhan dan keras kepalanya, kedua orangtuanya akhirnya luluh dan menerima Marisa sebagai menantu mereka.
Insting orangtua tidak pernah salah, setelah resmi menyandang sebagai istri putra satu-satunya, sifat asli Marisa tak lagi berusaha ia tutupi. Menantunya itu merasa bahwa ia lah yang diinginkan dan dicintai oleh Farel. Rasa itu membuatnya bertingkah semena-mena pada suaminya, meski itu di hadapan orangtua Farel.
Berulangkali Papa Farel meminya agar putra tunggalnya membuka mata agar melihat kelakuan istrinya itu. Namun Farel selalu ada alasan dan cara untuk menutupi segala kebusukan Marisa. Puncaknya saat saudara jauh Farel melihat Marisa berlibur di Bali dengan seorang pria yang mana itu jelas bukan dirinya.
Namun sekali lagi Farel berusahan meyakinkan keluarga besarnya bahwa mereka salah duga. Marisa tidak melakukan kesalahan apapun. Hingga suatu saat Farel dengan Papanya beradu argumen dan menyebabkan hubungan keduanya memburuk. Sejak saat itu, Farel tidak pernah pulang dan mengabari lagi, sampai Papanya itu menutup mata untuk selama-lamanya.
Penyesalan hanyalah penyesalan. Ia masih tenggelam dalam cinta butanya yang tak memakai logika. Hingga mahasiswi nekatnya itu muncul dan memporak-porandakan keyakinan hatinya pada Marisa.
"Kenapa diam saja. Apa yang mau kamu bicarakan, ga biasanya mau tidur sama Mama," celetuk Mama Farel membuyarkan lamunannya.
"Aku minta maaf."
"Hmm."
"Aku benar-benar minta maaf, Ma," ucap Farel semakin merapatkan wajahnya ke bahu Mamanya. Mama Farel masih terdiam menunggu ungkapan Farel selanjutnya, "Ma, kalau aku pisah dengan Marisa, apa Mama tidak apa-apa?"
"Kenapa baru sekarang di saat anakmu akan lahir?" tanya Mama datar. Farel bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Anak yang dikandung Marisa bukanlah anakku. Calon bayi itu bukan cucu Mama." Farel menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Ia takut akan hal buruk yang akan terjadi setelah ia mengungkap kebenaran yang ada.
"Tapi dia ada di dalam pernikahan kalian. Anak itu tetaplah anakmu dan cucu Mama."
"Ma, aku ga bisa."
"Kalau kamu tidak bisa menerimanya, kenapa tidak sejak dulu kamu melepaskannya? Kenapa harus sekarang? Apa salah bayi itu?"
"Ma?!" Farel berbalik dan menghadap Mamanya yang duduk bersandar di atas ranjang. Ia sama sekali tak menduga jawaban Mamanya yang terkesan tidak setuju jika ia berpisah dengan Marisa.
"Wanita yang sedang hamil tidak boleh diceraikan."
"Tapi dia hamil anak orang lain, Ma. Anak teman aku sendiri," ujar Farel penuh penekanan.
"Sejak dulu kamu tahu kalau istrimu itu berselingkuh dengan temanmu, tapi kenapa kamu membiarkannya? semua sudah terlambat, Farel. Kalau kamu menceraikan Marisa sekarang, kamu mengorbankan satu jiwa yang tidak bersalah."
"Aku bisa meminta ayah dari bayi itu untuk menikahi Marisa," seru Farel optimis.
"Kalau kamu bisa dan istrimu itu bersedia Mama setuju, tapi kalau laki-laki itu lari dari tanggung jawabnya kamu harus ikhlas menerima dan merawat anak itu Farel. Mama hanya melihat calon bayi yang tak berdosa itu."
"Kalian sudah bercerai? Kamu menceraikan dia setelah tahu kalau dia hamil atau sebelumnya? Katakan sejujurnya!" Mama menarik lengan Farel hingga putranya itu berbalik menghadapnya.
"Setelah," sahut Farel lirih.
"Tega kamu Farel," desis Mama sedih.
"Ma, aku menemukan dia di kamar hotel dengan ayah bayi itu!"
"Sejak dulu perbuatan Marisa kamu sudah tahu, dan bukan sekali itu 'kan kamu tahu dia bermain api di belakangmu? Yang Mama sesalkan, kenapa bukan sejak dulu kamu berpisah dengan dia? Kenapa harus sekarang setelah ada bayi tak berdosa di perut Marisa, Farel?!"
Farel terdiam, ia memikirkan ucapan Mamanya dan membenarkan semuanya. Andaikan Niki tidak muncul, mungkin hubungannya dengan Marisa masih sama seperti dulu. Ia tetap menerima Marisa dan juga bayi yang dikandungnya. Setelah ada istri kecilnya, ia merasa punya sandaran lain dan dengan mudahnya melepas Marisa.
__ADS_1
Namun jika ia mengatakan keberadaan Niki pada mamanya sekarang, Farel khawatir jika mamanya menganggap istri kecilnya itu yang nakal dan merusak pernikahannya. Walaupun itu semua benar adanya, tapi ia tidak mau nama Niki jelek sebelum bertemu dengan mamanya.
"Buktikan, jika kamu bisa meyakinkan pria yang menghamili Marisa untuk menikahinya. Mama menerima keputusanmu, tapi jika tidak kamu harus ikhlas menerima Marisa dan bayinya."
"Aku akan membawa Marisa ke rumah Galih setelah kami kembali ke Jakarta."
"Tidak, mama tidak mau mengambil resiko kalau setelah kalian kembali pulang, kamu meninggalkan Marisa sendiri di dalam permasalahannya. Apa kamu tidak pernah berpikir kalau Marisa tertekan dengan kehamilan dan perceraian kalian lalu ia melakukan percobaan bunuh diri? tidak hanya pria itu yang berdosa, tapi kamu dan mama juga ikut andil dalam perbuatan nekat Marisa."
"Lalu bagaimana caranya aku meminta Galih untuk bertanggung jawab?"
"Telepon laki-laki itu besok pagi di depan Mama dan Marisa. Jika tidak berhasil, kamu harus menikahi Marisa lagi demi bayi itu."
"Maa! Aku ga mau!" seru Farel geram.
"Kamu dulu juga mengatakan hal yang sama, tapi bedanya dulu kamu bilang tidak mau meninggalkan Marisa. Sekarang terbalik, kamu tidak ingin bersatu lagi dengan mantan istrimu itu." Mama mencibir kesal.
...❤️🤍...
Mampir yuk ke karya temanku sambil tunggu up eposiode barunya.
Ceritanya keren kalian bisa simak dari ringkasan ceritanya nih
Blurb:
Adelia, menerima perjodohan dengan Andra. Seseorang yang tidak dikenalnya sama sekali. Dia mau menerima perjodohan itu setelah putus dari Bram yang kedapatan tidur dengan Bella.
Andra, ingin balas dendam kepada Citra yang sudah mengkhianati dirinya hanya untuk menikah dengan pengusaha kaya, yang bernama Candra. Kakeknya berjanji akan memberikan semua harta kekayaannya, jika dia menikahi Adelia.
Siapa sangka saat mereka memulai kehidupan rumah tangga, malah bertetangga dengan para mantan.
Apakah mereka akan kembali ke mantan masing-masing?
__ADS_1
Atau malah jatuh cinta pada pasangannya saat ini?