Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Dada untuk bersandar


__ADS_3

Farel ingin menanggapi, tapi Niki sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi. Ia duduk di tepi ranjang sembari menatap pintu kamar mandi yang tertutup.


Saat Niki keluar dari kamar mandi, ia terkejut mendapati suaminya masih duduk menunggunya selesai berpakaian.


"Mas Farel belum berangkat mengajar?" tanya Niki seolah tak terjadi apapun.


"Kamu mau pergi kemana, sama siapa?" tanya Farel tak menghiraukan pertanyaan Niki.


"Mau healing."


"Sama Tomi?" tebak Farel. Niki tak menjawab, ia hanya menaikan kedua bahunya sembari merapikan riasan wajahnya di depan cermin, "Aku antar ya, kamu mau healing kemana?" bujuk Farel.


"Tidak perlu, terima kasih. Mas Farel 'kan harus isi mata kuliah setelah lama ijin."


"Tidak masalah aku tidak keberatan ijin sehari lagi, kita bisa jalan-jalan berdua." Farel tersenyum penuh harap. Ia ingin membayar kesalahannya semalam.


Niki berbalik menghadap suaminya, "Aku yang keberatan. Maaf Mas, aku pergi mau mencari ketenangan bukan keributan."


"Niki, aku tahu kamu marah. Aku ngaku salah, aku minta maaf." Farel meraih lengan Niki yang sudah akan keluar kamar.


"Mas Farel ga salah kok. Apa yang Mas Farel ucapkan semalam mungkin ada benarnya, aku memang suka menggoda laki-laki." Niki menatap Farel dengan sedih, 'Tapi hanya satu pria yang kugoda dan itu kamu Mas!' tambah Niki membatin.


"Seperti yang aku juga bilang semalam, mau seperti apa penampilanku tetaplah sama di mata suamiku. Jadi aku akan bersikap seperti yang Mas Farel pikirkan," lanjut Niki.


"Nik, please stop saying that." Farel tak tahu harus bagaimana lagi memohon maaf pada istrinya. Ia sadar, menuduh istrinya melakukan hal nista tanpa pembuktian jauh lebih menyakitkan dari pada membentaknya.


Niki meraih ponselnya yang berdering di dalam tas, "Taxi online ku sudah datang, aku jalan dulu." Niki mencium tangan suaminya sekilas.


"Nik, pulang cepat."


"Kalau aku telepon dijawab ya."


"Kabari kalau sudah sampai, kamu di mana dan sama siapa."


Farel mengikuti langkah Niki turun ke bawah sampai keluar rumah dengan runtutan pesan untuk istrinya.

__ADS_1


"Jaga diri, hati-hati. Aku say---" Belum sempat Farel menyelesaikan ucapannya, Niki sudah menutup pintu mobil pesanannya.


"Kalian bertengkar?" tanya Marisa yang mengamati keduanya sejak turun dari lantai dua.


"Ku akui kamu beruntung Farel, ada wanita yang masih sangat muda mengejar-ngejarmu seperti ini. Jujur aku cemburu. Aku selama ini mengabaikanmu, bukan karena aku sama sekali tidak suka sama kamu. Aku suka sama kamu, kalau tidak ada perasaan apapun ga mungkin aku mau menikah dan bertahan hingga dua tahun dengamu. Melihat Niki yang mau menjadi istrimu di usianya yang masih sangat muda, aku jadi tersadar akan perasaanku. Ternyata aku takut kehilangan dirimu."


"Sudahlah, Echa jangan mulai lagi."


"Aku hanya ingin mengutarakan perasaanku yang selama ini aku simpan. Setidaknya sudah kuungkapkan, walau mungkin sudah terlambat." Marisa menunduk sedih.


"Mau sampai jam berapa kalian mengobrol hal yang tidak penting? Ini sudah siang, kamu bisa terlambat mengajar, Farel." Mama Farel keluar dari kamarnya dengan wajah garang. Tanpa disuruh dua kali, Farel segera naik ke lantai dua.


"Apa saya harus mengingatkanmu berulang kali, Marisa. Jangan kamu coba-coba mencuri kesempatan mendekati anakku lagi. Ingat posisimu di sini adalah orang luar. Memang kami di sini, statusnya menumpang di rumahmu, tapi ingat sertifikat rumah ini masih atas nama anak saya. Jadi jika kamu melewati batas, kapan saja saya bisa menendang kamu keluar dari rumah ini," kecam Mama Farel.


"Tapi sa---"


"Pria yang kamu kejar salah, Marisa. Sebaiknya mulai sekarang kamu harus mengejar pria yang menghamilimu sebelum bayimu lahir," ucap Mama Farel sebelum kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Dasar wanita bungkuk!" Marisa meremas taplak meja makan geram.


Sahabat satu-satunya yang mengerti jalan kehidupannya, masih ada kelas sampai sore nanti. Ia tidak punya teman lagi yang tidak bermuka dua seperti Fera.


Ia menghubungi satu kontak lagi yang dapat dipercaya dapat menenangkan hatinya. Walaupun orang itu tidak tahu menahu tentang masalahnya, setidaknya ia dapat bersandar dan menumpahkan air matanya.


Niki duduk menunggu dalam diam, menanti orang yang baru saja ia hubungi dan langsung menyanggupi untuk datang.


Seorang wanita dewasa anggun dan modis turun dari mobil mewah. Begitu melihat Niki, wanita itu langsung menghampirinya, "Niki, apa kabar. Kamu kenapa?"


"Kaaak." Niki tak bisa menahan lebih lama lagi air matanya. Ia tumpahkan ke blazer yang digunakan wanita itu.


"Heiii, kamu kenapa? Di marahin Papa sama Mama ya?" tebak Maura. Wanita yang sudah seperti kakak kandung bagi Niki, walau tak ada hubungan darah di antara mereka.


Niki menggeleng. Tangisannya masih belum mau mereda. Maura memberikan ruang dan waktu agar adiknya dapat mencurahkan perasaannya lewat air mata meski ia tidak tahu permasalahannya.


"Sudah?" Tangisan Niki berangsur mereda. Maura membantu menghapus air mata yang masih tersisa di pipi adiknya, "Kalau bukan karena mama sama papa, pasti karena cowok. Selingkuh atau diputusin nih?" Mendengar tebakan Maura, Niki kembali menangis.

__ADS_1


"Oww cowok, yuk kita ceritaan di rumah aja, di sini malu dilihatin banyak orang." Maura menunjuk dengan dagunya, beberapa orang yang menoleh ingin tahu.


"Teman kampus?" tebak Maura saat di dalam mobil. Niki menjawab dengan gelengan kepalanya.


"Cakep?" Niki kembali menjawab dengan anggukan kepala.


Maura menepikan mobilnya di depan rumah putih berlantai dua tanpa pagar pembatas. Rumah besar ini, saat kecil seperti rumah kedua Niki. Sejak mereka beranjak dewasa, ia sudah jarang menginjakan kaki di rumah ini lagi.


"Maaa, lihat siapa yang datang," seru Maura.


"Nikiii!" Mama Maura keluar dari dapur dengan tangan penuh tepung. Ia memeluk Niki dengan erat dan mencium kedua pipinya, "Lama sekali kamu ga main kesini, tante kangen."


"Sibuk kuliah, Tan." Niki membalas pelukan Mama Maura yang tak kalah hangatnya dari pelukan Mamanya sendiri.


"Kenapa matamu? Habis nangis? Kenapa? ada masalah di rumah? Kamu di marahin mama atau papa?" kejar Mama Maura.


"Maa!" Maura memberi kode pada Mamanya agar berhenti menekan Niki dengan pertanyaan tak jelas.


"Kita keatas dulu ya, Maaa." Maura menarik tangan Niki ke kamarnya yang di lantai dua.


"Kak Maura kenapa belum nikah?" tanya Niki sembari membaringkan tubuh di atas ranjang Maura.


"Belum ada yang ajak nikah," sahut Maura dengan senyum kecut.


Di lantai bawah, tanpa sepengetahuan kedua gadis di lantai atas Mama Maura menghubungi nomer ponsel Mama Niki. Tak ada jawaban hingga panggilan ketiga, tak putus asa Mama Maura mencoba menghubungi Papa Niki.


"Halo, kak Erik, ada apa lagi dengan Niki? Kenapa kalian memarahinya lagi? Kok tega sih, anak cuman satu itu harusnya dimanja." Mama Maura mencecar Papa Niki sebelum pria itu sempat menjawab 'Halo'.


...❤️🤍...


Yang belum tahu hubungan antara Niki dan Maura, bisa baca novel pertama aku "Cinta jangan datang terlambat." Tokoh utamanya Mama Maura \= Lea.


...❤️🤍...


Butuh bacaan untuk akhir tahun? wajib banget masuk rak buku novel ini nih

__ADS_1



__ADS_2