
"Kemari Farel." Mama Farel melambaikan tangannya memanggil Farel agar lebih mendekat. Lalu ia duduk di salah satu kursi yang dekat dengan ambang pintu, "Lutut mama sering nyeri kalau harus berdiri lama," ujar Mama dengan wajah menahan sakit sembari mengusap-usap lututnya.
"Mama jangan banyak jalan, kenapa ga pakai tongkat?" Farel menghampiri mamanya yang sudah hampir dua tahun tidak pernah ia kunjungi.
"Mama ga mau kelihatan lemah." Mama Farel menggeleng dan mengkerucutkan bibirnya. Usia yang semakin lanjut membawa seseorang kembali menjadi seperti anak kecil.
Bibir Mamanya yang manyun seperti itu mengingatkannya pada istri kecilnya jika sedang merajuk. 'Ah, Niki mengapa aku sekarang mudah sekali merindukanmu. Padahal belum ada setengah hari kita berpisah, aku sudah rindu wajah melihat cemberutmu. Bagaimana kalau aku harus lama di sini?'
"Fareel! Kamu baru datang sudah melamun. Sudah dekat dengan istri, masih aja melamun," ucap mama diiringi senyuman Marisa.
"Farel kangen sama mama." Farel memeluk mamanya dan berjongkok di samping kursi yang di duduki mamanya.
"Mama jauh lebih kangen sama kamu. Di rumah hanya berdua sama Sari, kamu ga pernah datang sampai mama mau punya cucu kamu juga ga kasih kabar. Keterlaluan kamu, Farel!" Mama menepuk punggung putranya gemas. Mata tuanya berlinang oleh air mata.
"Mama, maafkan Farel. Bukan maksud Farel mengabaikan mama, tapi .... banyak hal yang harus aku urus dan selesaikan. Nanti pasti aku ceritakan semua sama mama." Farel melirik ke arah mantan istrinya. Wanita itu tampak gelisah tapi masih berusaha terlihat tenang.
"Ga ada yang lebih penting dari pada kehadiran calon cucu mama ini." Mama menarik tangan Marisa dan mengusap perut rata mantan istrinya itu.
"Iya, Ma aku mengerti." Farel mengusap-usap tangan keriput mamanya. Ia memilih tidak membahas soal perpisahaannya dengan Marisa, karena mamanya terlihat sangat emosional sekali.
"Kita makan dulu yuk, kamu pasti sudah lapar 'kan Yang? Aku masak makanan kesukaanmu loh." Marisa menyelipkan tangannya di lengan Farel. Farel sendiri tidak bisa menepis ataupun meminta agar Marisa menurunkan tangannya, karena ia juga sedang menuntun mamanya ke arah meja makan.
"Farel, wanita hamil itu sangat sensitif. Kamu harus lebih sering memperhatikan kebutuhan dan perasaan istrimu. Terkadang permintaannya memang terdengar mejengkelkan, tapi itu permintaan calon anakmu." Mama terus memberikan petuahnya selama mereka menikmati makan siang bersama.
Farel mendengus dan memberikan senyum sinisnya pada Marisa ketika mama mengatakan calon anakmu. Ingin rasanya ia mengatakan saat itu juga jika anak yang ada di dalam perut Marisa, bukanlah anaknya dan bukan cucu dari mamanya. Namun kekhawatiran Farel akan kondisi kesehatan mamanya, membuat ia harus mencari cara menyampaikan fakta sesungguhnya tapi tidak sampai membuat mamanya shock berat.
Marisa mengulas senyum walau terlihat terpaksa. Ia terus menunjukan pada mertuanya bahwa ia sudah berubah dan sangat mencintai putranya. Marisa berulangkali menawarkan Farel untuk menambah lauk. Ia juga mengambilkan nasi serta minum untuk Farel. Sesuatu yang mustahil ia lakukan saat masih berstatus menjadi istri.
"Sandiwara apa lagi yang mau kamu tampilkan, Echa!" Farel menyentak tangan Marisa saat keduanya sudah berada di dalam kamar.
__ADS_1
"Sandiwara apa sih, Farel? Aku sedang berlaku menjadi seorang istri yang baik. Ini 'kan yang kamu selalu inginkan dari aku? Lalu apa lagi yang kamu permasalahkan?" Marisa duduk dengan anggun di tepi ranjang.
"Sudah terlambat, kita bukan pasangan suami istri lagi."
"Kita bisa menikah lagi."
"Tidak jika anak itu bukan milikku."
"Kamu mengatakan itu karena mahasiswi gatalmu itu 'kan? Andaikan dia tidak ada, aku yakin kamu menerima aku dan anak ini." Marisa mulai menegang.
"Jangan bawa dia dalam permasalahan kita. Hubungan kita sudah tidak sehat sebelum dia hadir."
"Tapi kamu mencintaiku, Farel. Kamu mencintaiku dan tetap mencintaiku bagaimanapun keadaanku!" Marisa mencengkram kaos Farel.
"Sudahlah, Echa. Kita sudah berakhir, toh kamu tidak pernah mencintaiku. Kamu selama ini menjadikan aku boneka dalam pernikahan kita. Tapi aku bukanlah pengantin sesungguhnya, tapi Galih!"
"Aku bisa ... aku mau belajar mencintaimu," ucap Marisa lirih.
"Sudahlah, aku akan bantu kamu bicara dengan Galih. Dia harus bertanggungjawab atas kamu dan anaknya." Farel mengusap kedua bahu Marisa yang terkulai lemas.
"Dia tidak mau. Sudah seminggu ini aku tidak bisa menghubungi dia."
"Kita bisa datang kerumahnya."
"Aku takut."
"Apa yang kamu takutkan? Harusnya dia yang takut!" Farel menggeretakan rahangnya. Sakit rasanya melihat wanita yang pernah menjadi ratu di hatinya terluka seperti ini.
"Aku takut kalau dia membenci aku dan anaknya. Kalau aku memaksa untuk dinikahi, istrinya pasti akan marah dan minta berpisah. Aku tidak yakin Galih akan menceraikan istrinya demi aku, dia ... tak bisa hidup tanpa istrinya, tapi aku juga ga bisa hidup tanpa diaaa ...." Tangisan Marisa meledak di pelukan Farel.
__ADS_1
Farel memeluk tubuh Marisa yang terus sesenggukan. Ia tahu bagaimana sakitnya yang Marisa rasakan, karena cinta bodoh yang Marisa berikan untuk Galih juga terjadi pada cintanya untuk Marisa. Cinta yang mereka berdua alami benar-benar buta dalam arti sesungguhnya. Hanya Farel jauh lebih beruntung, ia sudah tersadar dari pernikahan toxic yang dijalaninya selama dua tahun. Kemunculan Niki yang sekarang sudah menjadi istri kecilnya, ternyata dapat mengubah jalan hidupnya. Walaupun kehadiran Niki awalnya muncul dengan cara yang menjengkelkan baginya.
"Jalanmu masih panjang, jangan habiskan waktumu untuk pria macam Galih. Dia tak pantas untukmu. Aku yakin kamu pasti akan menemukan seseorang yang dapat mencintaimu dengan tulus." Farel mengusap punggung Marisa.
"Orang itu kamu, Farel. Kamu mencintaiku dengan tulus. Aku tahu itu, aku bisa merasakan cintamu yang begitu dalam untukku. Kamu sudah membuktikan besarnya cintamu untuk aku. Biarkan aku belajar untuk membalas perasaanmu." Marisa mengatupkan kedua tangannya di pipi Farel. Ia menatap mata Farel lekat dan dalam.
...❤️🤍...
Sambil nunggu up lagi, mampir ke karya teman aku yuk. Jangan ngambek ya 🙏🙈
...❤️❤️...
Spinn off "HASRAT SEPUPU (PENGKHIANATAN)"
Lahir dari rahim yang sama, hari, bulan dan tanggal yang sama. Bahkan wajah mereka pun sangat mirip.
Meskipun begitu, Amman dan Ammar memiliki watak yang jauh berbeda. Amman adalah pria pekerja keras dan penyayang, sementara Ammar adalah sosok pria yang suka menghambur-hamburkan uang tanpa menghiraukan betapa sulitnya bekerja.
Memiliki banyak kesamaan selain watak, ternyata kedua pria kembar itu juga memiliki tipe wanita yang berbeda.
Keduanya juga tidak terlalu akrab, lalu bagaimana jadinya jika kekasih Amman menikah dengan Ammar dan begitupun sebaliknya?
Yuk kawal kisah SI KEMBAR!
Simak kelanjutannya berikut!!!
So happy reading and stay tune 🥰
__ADS_1