Nikahi Aku, Pak Dosen

Nikahi Aku, Pak Dosen
Papa dan Mama


__ADS_3

Mama dan Papa Niki kembali saling berpandangan. Berat sebenarnya mengijinkan putri kesayangan mereka, jatuh ke tangan seorang pria yang tidak jelas permasalahan rumah tangganya. Namun melihat situasi dimana Niki menghilang karena sebelumnya ditentang hubungannya dengan Farel, membuat Papa dan Mama Niki harus memikirkan ulang keputusan mereka.


“Saya beri kamu waktu dua hari untuk mencari putri saya, dan setelah itu tidak lebih dari satu minggu kamu sudah harus menyelesaikan permasalahan rumah tanggamu. Apapun keputusanmu jika kamu masih menjadikan Niki yang kedua, saya akan menjemput anak saya saat itu juga,” ucap Papa Niki tegas.


“Baik,” sahut Farel dengan suara bergetar. Tak ada lagi yang bisa ia katakan, semua ucapan mertuanya adalah perintah yang tak bisa ditawar lagi.


Sepulang Farel, mama Niki tetap terdiam di tempat duduknya dengan kepala tertunduk.


“Kamu kenapa?” Papa Niki yang baru masuk ke dalam rumah setelah mengantar menantunya sampai di depan pintu, mendapati istrinya duduk terpekur. Ia langsung memposisikan di samping mama Niki dan merengkuh bahu istrinya yang jatuh lunglai ke bawah. Pertanyaan itu hanyalah basa basi, karena ia sangat tahu apa yang menjadi beban wanita yang sudah menemani perjalanah hidupnya selama lebih dari 20 tahun itu.


“Sampai kapan, Tuhan menghukum kita.” Air mata Mama Niki mulai berjatuhan. Selama percakapannya dengan menantunya tadi, ia berusaha menahan air matanya. Bagaikan film yang diputar ulang, ia seperti melihat dirinya dan suami 20 tahun silam. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat bagaimana Erik dihantam, dipukul dan ditendang oleh Papanya, karena meminta restu untuk dapat menikah dengannya.


Mereka berdua juga pernah melakukan hal yang salah dalam kehidupannya. Bahkan perbuatannya mungkin jauh lebih jahat dibanding putrinya. Merebut pria dari sisi wanita lain. Apapun alasan dan kondisi rumah tangga sang pria, ia sangat tahu hal itu tidak dapat dibenarkan. Namun mengapa nasib membawanya pada perjalanan hidup semacam itu, dan sekarang putri satu-satunya pun harus mengalami hal yang serupa.

__ADS_1


“Jangan punya pikiran seperti itu, kita sudah sepakat tidak akan menoleh ke belakang lagi. Toh semua baik-baik saja, tidak ada yang tersakiti begitu dalam hingga saat ini. Hubungan keluarga besar kita, bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya,” ujar Papa Niki sembari lebih mengeratkan pelukannya. Walaupun ia juga merasa berat, tapi sebagai orangtua dan suami ia harus berdiri tegak seolah semua baik-baik saja.


“Aku takut Niki mengalami hal yang berat seperti kita dulu. Mengapa aku bisa kelewatan mengawasinya.” Mama Niki menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


“Niki anak yang pintar dan berani, kita harus percaya padanya. Farel juga bukan pria yang buruk, aku melihat ketulusan di dalam matanya. Semoga mereka bisa melewati proses kehidupan ini,” ucap Papa Niki dengan mata menerawang jauh.


“Niki sekarang ada di mana, Mas. Aku sudah ke tempat yang sering ia datangi. Juga ke rumah teman tempat dia biasa menginap, tapi aku tetap tidak bisa menemukan jejaknya. Aku menyesal sudah menamparnya hingga dua kali.” Mama Niki menengadahkan telapak tangannya yang bergetar.


Sementara itu di perjalanan pulang Farel masih terus mencoba menghubungi istrinya. Namun semua panggilannya tidak satupun tersambung. Saat ia sampai di rumah, seperti biasa ia tidak menemukan Marisa padahal waktu sudah menunjukan hampir tengah malam.


Biasanya ia khawatir dan akan terus menghubungi wanita yang masih berstatus istrinya itu, walaupun ia tahu di mana dan sedang bersama siapa Marisa. Namun kali ini, pikirannya hanya dipenuhi oleh istri kecilnya. Tak sedikitpun ada Marisa di hati dan kepalanya saat ini.


Tak jauh dari kota tempat tinggalnya, Niki duduk meringkuk di warung yang menyediakan makanan sederhana bagi karyawan hotel tempat ia menginap.

__ADS_1


Ia harus sangat berhemat agar dapat bertahan hidup. Uang tabungan pemberian orangtua sudah ia tarik semuanya. Tak ada rencana ataupun arah tujuan saat ia memutuskan keluar dari rumah. Sebagai anak tunggal yang manja, inilah jarak paling jauh yang pernah ia tempuh sendirian.


Ego dan rasa sakit hati yang membuatnya berani melangkah sejauh ini. Ingin kembali pulang karena perut lapar, tapi amarah masih bercokol di hatinya. Dua orang yang diharapkannya sudah menyakiti hati dan membuangnya, lantas harus kemana lagi ia dapat pergi?


“Gimana jadi?” tanya seorang ibu yang masih duduk di samping bangkunya dan sedang menunggu jawaban darinya.


Niki membuka dompetnya yang hanya tinggal lembaran berwarna hijau dan biru. Ia harus memutuskan cepat sebelum harus berakhir mengemis di pinggir jalan.


...❤️🤍...


Mampir ke karya temanku ya


__ADS_1


__ADS_2