
Farel hanya menganggukan kepala dengan senyum terkulum. Ia sedang tidak ingin berdebat, karena perangkapnya sudah ditangkap oleh istri kecilnya.
Selama berada dalam tabung lift yang membawa mereka naik ke lantai tujuh, ujung kaki Niki mengetuk-ngetuk lantai tak sabar. Sebaliknya Farel nampak dengan tenang mengamati Niki dari pantulan pintu lift yang tertutup. Ia berusaha menahan senyumannya saat melihat wajah Niki yang tegang dan kusut. Farel tahu istri kecilnya itu sedang cemburu karena ia masih membela Marisa.
Begitu pintu lift dibuka, Niki langsung melangkah keluar dengan tak sabar. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari nomer dari pintu kamar yang berderet.
"Kamar nomer 717, nah ini dia. Silahkan, Pak." Niki memberi jarak dengan pintu, agar Farel dapat lebih mendekati kamar yang di duga ada Marisa dan pasangan mesumnya di dalam sana.
"Kamu yakin yang ini?" tanya Farel sembari melirik Niki.
"Iyaaa," sahut Niki tak sabar.
"Kalau kamu salah gimana?" Tangan Farel yang sudah terangkat akan mengetuk pintu turun kembali. Ia kembali menoleh ke arah Niki hanya untuk menggodanya.
"Duuh, mana tahu benar atau salah kalau Bapak ga ngetuk pintunya," ujar Niki kesal sembari menghentakkan kakinya. Farel tersenyum simpul melihat tingkah Niki yang gregetan karena keusilannya.
Farel lalu berbalik dan menghadap pintu kamar hotel 717. Saat ia memandang daun pintu yang berwarna coklat, hatinya mulai kembali suram. Dalam benaknya dengan jelas tergambar apa yang terjadi di balik pintu itu.
Selama ini ia hanya menduga dan mendengar cerita tentang perselingkuhan istrinya, tapi kali ini dengan mata kepalanya sendiri ia akan menangkap basah Marisa dan Galih.
Walaupun rasa untuk wanita pertama yang mengisi hatinya itu sudah hampir padam, harga dirinya sebagai seorang suami sangat terluka. Jika ini saatnya, maka harus ia hadapi. Lagipula pengobat luka hatinya sedang berdiri di belakangnya, untuk apa ia harus ragu?
Farel menoleh sekali lagi ke arah Niki sebelum mengetuk pintu kamar Marisa. Wajah polos Niki memberikan kekuatan untuknya.
"Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri." Farel mengacungkan telunjuknya ke arah Niki.
Farel lalu menekan bel pintu kamar setelah memastikan istri kecilnya itu tidak akan kemana-mana. Cukup lama mereka berdiri di depan pintu dan sudah berulang kali juga Farel menekan bel pintu kamar hotel tersebut, tapi penghuni di dalamnya tidak ada tanda-tanda akan keluar.
__ADS_1
"Kamu lihat? Sepertinya kita salah kamar," ujar Farel pasrah. Sebenarnya ia sudah menduga jika Marisa dan Galih malas membuka pintu karena sedang berasyik masyuk berdua di dalam selimut.
"Coba lagi." Niki sudah mulai gelisah, ia tidak mau dianggap sebagai penyebar berita bohong. Cukup sekali kebodohan yang ia lakukan saat di kampus. Namanya sudah tercoreng di depan Farel dan para petinggi kampusnya saat ia mengatakan punya hubungan spesial dengan dosen pembimbingnya itu.
"Oke." Farel mengikuti permintaan Niki. Ia menekan bel pintu dan mengetuk pintu kamar sekali lagi. Kali ini ia lakukan sedikit lebih keras. Saat mereka sudah hampir menyerah, pintu kamar terbuka dengan kasar.
"Apa kalian tidak bisa ba ... ca ...." Marisa muncul dari balik pintu dengan tubuh hanya berbalut jubah mandi. Rambutnya tergulung tinggi dengan handuk. Suara yang awalnya terdengar sangat marah, perlahan mengecil saat menyadari siapa yang berulang kali menekan bel pintu kamarnya.
"Siapa, Babe?" Suara Galih terdengar dari arah kamar mandi.
Marisa masih berdiri mematung tak percaya melihat suaminya berdiri memandangnya dengan tanpa ekspresi.
"Galih memanggilmu, jawablah," ucap Farel dengan tenang. Gemuruh di hatinya tak terdengar oleh siapapun. Harga dirinya hancur lebur saat matanya menangkap bercak kemerahan di kulit Marisa yang terbuka.
"Begini rasanya. Seharusnya aku tidak perlu terkejut lagi, tapi rasanya tetap sakit. Kamu bahagia, Echa? Katakan, Echa apa kamu bahagia menghabiskan malam ini berdua dengannya?" Suara Farel terdengar bergetar antara menahan tangis dan emosi.
"Apa fungsinya aku dihidupmu, Echa? Tidak adakah setitik rasa selama ini untukku, hingga kau tega berbuat seperti ini?"
Niki ternganga mendengar runtutan kalimat yang diucapkan Farel pada Marisa. Baru ini ia mengetahui keadaan rumah tangga dosennya itu. Ia tidak percaya ternyata Farel sudah mengetahui sejak lama jika Marisa berkhianat, tapi tetap masih mecintainya. Tiba-tiba ia merasa kerdil di mata Farel jika dibandingkan dengan Marisa.
Perlahan Niki berjalan mundur dan berencana pelan-pelan menghilang. Ia merasa tidak pantas mendengar pertengkaran dan aib rumah tangga orang.
"Mau kemana kamu? Sudah saya bilang, tetap di sini dan jangan berani untuk kabur!" Farel berkata dengan tegas tanpa menoleh ke arah belakang. Niki seketika menghentikan langkahnya dan kembali ke posisinya semula.
"Untuk apa kamu bawa dia kemari? Kamu mau mempermalukan aku?" Marisa baru mengeluarkan suaranya.
"Tingkah lakumu sendiri yang mempermalukanmu, bukan orang lain," ucap Farel.
__ADS_1
"Kamu berubah sejak ada dia!" Marisa mengacungkan jarinya lurus ke arah Niki.
"Lantas kenapa?" tantang Farel.
"Perempuan sialan!" Marisa berjalan cepat ke arah Niki.
"Aduhh!" Niki menjerit saat pipinya terasa perih dan panas. Ia terlambat menghindar dari serangan tangan dengan kuku panjang milik Marisa.
"Marisa!" Farel menarik dan mendorong istrinya masuk ke dalam kamar. Marisa terbelalak tak percaya dengan pendengarannya. Panggilan kecil yang mesra itu tak terdengar lagi.
"Ada apa ini?" Galih keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk yang melingkar dipinggangnya, "Farel?" Tak kalah terkejutnya dengan Marisa, Galih tampak shock melihat suami sah dari wanita yang baru saja ditidurinya berdiri dihadapannya.
"Bawalah dia pergi jauh dari pandanganku. Aku sudah tidak membutuhkan dia lagi. Aku kembalikan Marisa ke tanganmu." Farel berkata dengan tegas tapi tetap tenang.
"Tidak bisa begitu, Farel. Antara kita ada perjanjian." Galih tampak kalut sampai tidak memperhatikan Marisa yang masih tergeletak di lantai kamar.
"Persetan dengan perjanjian. Marisa Utomo, saya Farel Artama menceraikanmu. Mulai detik ini kita bukan suami istri lagi, segala hal terkait dirimu bukan kewajibanku lagi," ucap Farel tegas dan lantang. Ia memandang lurus ke arah Marisa yang masih terduduk di lantai.
Ditatapnya sejenak wanita yang pernah membuatnya hilang akal hingga mampu bertahan dalam rasa sakit. Ia dapat melihat mata wanita itu mulai meriakan air mata. Sebelum kembali luluh, Farel menyambar tangan istri kecilnya dan berlalu dari sana.
"Fareeelll!" Marisa berteriak histeris dan berusaha mengejar Farel yang baru beberapa langkah dari pintu kamarnya, "Cabut perkataanmu, aku mohooonn." Marisa berlutut dan memeluk kaki Farel.
...❤️🤍...
Mampir ke karya temanku ya
__ADS_1