
Kebenaran menyakitkan seperti duri pada awalnya; tetapi pada akhirnya ia mekar seperti mawar." - Samuel ibn Naghrillah
Kembali Kania menarik napas dalam. Dia harus berkata jujur walau apapun nanti keputusan Athalla. Jika pria itu tahu dari orang lain, pasti akan lebih menyakitkan lagi.
Adakalanya, seseorang memutuskan untuk tidak mengungkap kebenaran dengan beberapa pertimbangan. Bisa dipahami pula, mendengar kebenaran murni atau kenyataan pahit tentang seseorang, sesuatu, atau diri sendiri dapat menyebabkan orang lain merasakan kesedihan atau ketakbahagiaan.
Bersikap jujur mungkin tampak berat, atau mungkin tidak tampak menghibur pada awalnya, tetapi itu tidak akan mengecewakanmu.
"Apa Bapak yakin ingin mengenalku lebih dekat? Tidak akan menyesal setelah tahu siapa aku yang sebenarnya?" tanya Kania.
Dia harus berkata jujur, dari pada nanti setelah jatuh cinta begitu dalam mereka harus berpisah karena noda masa lalunya yang tersebar diketahui Athalla.
"Jangan panggil aku Bapak jika sedang berdua. Kania, kenapa kamu bertanya begitu? Apa yang membuat aku menyesal?" Athalla bukannya menjawab pertanyaan Kania, bahkan balik bertanya.
"Aku ini pendosa. Jangankan mengenal diriku lebih dekat lagi, melihatku saja Mas Atha pasti tak sudi. Aku pernah melakukan kesalahan yang hingga hari ini sangat aku sesali. Jika saja waktu dapat diulang, aku pasti akan melewatkan bagian terburuk di hidupku itu. Aku pernah ...." Belum sampai akhir, ucapan Kania telah dipotong Athalla.
"Cukup Kania. Janganlah kamu membuka aibmu jika Tuhan saja menyimpannya."
__ADS_1
Imam an Nawawi berpendapat bahwa haram hukumnya membuka aib diri sendiri ataupun aib orang lain. Dan haram pula menyebarluaskannya. Setiap umatku akan diampuni, kecuali mereka yang terang-terangan melakukan dosa.
Sebelum ingin mengenal dekat Kania, Athalla telah mencari tahu tentang Kania. Awalnya Athalla tidak percaya dengan apa yang di dengarnya dari orang suruhan.Dia kecewa karena wanita yang di sukai memiliki masa kelam. Athalla ingin mundur. Namun, setelah makin sering bertemu Athalla merasa ada sesuatu yang istimewa pada diri Kania.
"Apa Mas tahu aibku ini? Jika Mas mengetahuinya, aku yakin tidak akan mau lagi bertemu aku!"
"Biarlah itu menjadi rahasiamu. Aku ingin kita dekat dan lebih saling mengenal pribadi. Jika dalam perjalanan ternyata kita tidak sesuai, aku harap kita menerima semua dengan lapang dada."
"Baiklah, Mas. Kita bisa saling mengenal pribadi masing-masing dulu."
Setelah makan siang, Athalla dan Kania kembali ke kantor dan bekerja secara profesional tanpa melibatkan pribadi.
Sepulang kerja, Athalla langsung menuju mobilnya yang terparkir dan melaju menuju kediaman orang tuanya.
Sampai di rumah yang sangat besar dan mewah itu, Athalla langsung menuju ruang keluarga dimana Papi dan Mami-nya telah menunggu kehadirannya.
"Assalamualaikum Papi, Mami!" sapa Athalla.
__ADS_1
Walaupun Papi dan Mami termasuk orang tua yang sedikit fanatik dengan agama tapi tetap panggilannya bukan Abi dan Umi,.masih mengikuti zaman. Lagi pula sebenarnya yang terlalu fanatik dengan agama kakek dan nenek Athalla.
"Waalaikumsalam. Duduklah!" Papa meminta Athalla duduk di sofa yang berada dihadapannya itu.
"Papi dan Mami ingin bicara sesuatu denganmu!"
"Biacara apa, Pi?" tanya Athalla penasaran.
"Berapa usiamu saat ini?" tanya Papi.
"Dua puluh tujuh, Pi!" jawab Athalla.
"Papi rasa usia kamu saat ini sudah pantas buat berkeluarga. Kebetulan kemarin Papi bertemu dengan salah seorang teman dan dia memiliki anak perempuan yang cantik. Besok malam Papi dan Mami mengundangnya buat makan malam. Kami harap kamu besok juga ada. Jangan sampai lupa!" ucap Papi.
Athalla kaget mendengar ucapan Papi. Apakah kedua orang tuanya ingin menjodohkan dirinya?
...****************...
__ADS_1